{"id":119759,"date":"2021-04-30T08:00:41","date_gmt":"2021-04-30T01:00:41","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=119759"},"modified":"2021-04-30T04:40:40","modified_gmt":"2021-04-29T21:40:40","slug":"wawancara-dengan-pat-kai-tentang-kasus-babi-ngepet-dan-murkanya-blio-kepada-manusia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wawancara-dengan-pat-kai-tentang-kasus-babi-ngepet-dan-murkanya-blio-kepada-manusia\/","title":{"rendered":"Wawancara dengan Pat Kai: Tentang Kasus Babi Ngepet dan Murkanya Blio kepada Manusia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Geger tentang babi ngepet menemui titik akhir. Ternyata, kasus babi ngepet di Depok tersebut adalah rekayasa AI. AI melakukannya atas dasar motif keuntungan pribadi. Namun, meski sudah tertangkap, gegernya belum mereda. Tanpa kita sadari, ada yang terluka dan tersinggung atas kasus babi ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Zhu_Bajie\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Zhu Bajie<\/a>, atau yang kita kenal dengan nama Pat Kai, adalah pihak tersebut. Tokoh yang dulunya bergelar Tianpeng ini merasa bahwa akibat rekayasa tersebut, dia kembali terkenal namun tidak dengan cara yang baik. Saya langsung ambil kesempatan ini untuk mewawancarai beliau, dan beliau setuju.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya beliau sempat diundang oleh Deddy Corbuzier untuk masuk ke podcast, tapi dia menolak. Entah apa alasannya, dia diam saja waktu saya tanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Langsung saja, inilah wawancara saya dengan Pat Kai, alias Zhu Bajie, alias Tianpeng.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSelamat malam, Mas Pat Kai, atau enaknya saya panggil Zhu Bajie saja? Mengingat itu nama jenengan yang bener. Jenengan dipanggil Pat Kai kayaknya gara-gara sinetron <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kera Sakti <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">itu dulu kan?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSelamat malam, Mas Rizky. Bebas mau panggil apa, Mas. Pat Kai juga nggak apa-apa. Paraban itu bikin kita makin dekat dengan umum kan. Saya itu orangnya andhap asor kok.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAseeek tenan, Djarum Super mau, Mas? Enak lho udud iki.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHa kene, gelem aku. Iki kopine yo nggo aku to, Mas?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOh ya jelas, iki Senncoin, Mas. Enak pokoke. Saya langsung masuk saja ya, Mas?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMonggo, Mas.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMenurut Mas, babi ngepet itu ada nggak?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYo nggak ada, Mas. Gawe-gawene menungso wae kui.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho, tapi agak aneh. Mas kan siluman, yang artinya, sama saja dengan babi ngepet, hantu, dan semacamnya. Kok bisa siluman bilang hantu itu nggak ada?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLha aku kan tokoh fiktif yang dibuat untuk memberikan pelajaran hidup ribuan tahun yang lalu. Saya dan babi ngepet itu sama-sama tokoh fiktif, ya jelas tau lah status masing-masing. Cuman karena saya harus menegaskan status saya, saya mewujud ada untuk jenengan, Mas.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHa kok saya jadi pusing ya dengerin penjelasan Mas Pat Kai?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYo ojo dipikir, lanjut takok wae.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAnda kemarin bilang bahwa Anda tersinggung gara-gara kasus babi ini. Apa yang bikin Anda tersinggung sebenarnya?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWo ya jelas saya tersinggung. Masak babi ngepet tersebut disamain dengan saya? Saya ini siluman yang menjaga Tang Sanzang mengambil Sutra ke Barat. Sun Wukong, kalau mau berantem geden, itu pasti ngajak saya. Gini-gini saya punya status yang tinggi. Saya kan jadi babi juga karena kutukan, bukan keinginan saya sendiri.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSebetulnya, Anda tidak harus tersinggung. Sebagai \u2018Cleanser of the Altar\u2019\u2014gelar yang Anda dapatkan ketika perjalanan selesai\u2014Anda kan harusnya nggak ngurus urusan duniawi gini. Aku bener ora, Mas?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWah sek, iki tetep kudu dilurusne. Ya memang itu urusan duniawi, tapi kan saya juga punya hak untuk tersinggung. Saya ini udah menerima kutukan paling asu, yaitu jadi babi\u2026\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAsu opo babi?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSek to\u2026\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cShap\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBayangkan, aku dulunya adalah panglima gagah, ganteng, berwibawa, terus hingga akhir hayat yang tak tau kapan ini, saya harus jadi manusia separo babi. Penderitaan saya ini udah paripurna, kok ya saya dibawa-bawa ke urusan babi ngepet. Apalagi, kasus ini motifnya kepentingan pribadi.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSek-sek, Mas. Rasane kok hipokrit yo, Mas. Semasa jenengan pergi ke Barat, bukannya jenengan selalu menempatkan kepentingan pribadi?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNah itu bedanya, saya siluman. Pelaku rekayasa babi ngepet itu manusia, kok polahnya macam siluman? Yang rugi malah siluman beneran lagi.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaya kok masih bingung jenengan ruginya di mana, ya?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKoe wae sing goblok, haesh. Ngene, saya kan udah damai. Saya mengabdikan diri menjadi pembersih altar, melakoni apa yang sudah digariskan buat saya. Saya nggak merugikan manusia. Lha kok saya sekarang kerep di-mention gegara kasus babi ngepet ini. Saya jelas nggak terima. Ini kan cuman ulah segelintir manusia yang cari-cari masalah, kalau kedamaian saya terusik, ya nggak terima lah ya. Manusia dari dulu kayak gitu, suka mengusik dan mengurusi yang bukan urusannya\u2026 \u201c<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEmang siluman nggak?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBukan begitu. Siluman nggak punya kode etik dan moral, lha manusia kan punya. Bagaimana bisa mereka yang punya etik dan moral malah bertindak ngawur macam siluman?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWah dalem iki, koe jebul sangar ya Bung Pat Kai.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLha aku je. Kamu bakal ngerti seberapa pedihnya yang saya rasakan sekarang setelah melalui penderitaan ribuan tahun. Saya pikir lagi, kok hidup saya nggak bahagia-bahagia ya. Baru tenang dikit, malah diusik oleh manusia.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tiba-tiba Bung Pat Kayi menitikkan air mata sembari menyulut batang kedua Djarum Super milik saya. Saya lihat lagi, ha kok tinggal dua batang. Ternyata, dia menyulut dua batang, tapi ngambil separuh lebih isi rokok saya. Taek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSepertinya ini terakhir saja, Bung Pat Kai, sebelum saya tutup. Ada yang ingin disampaikan tentang ontran-ontran ini? Kalau bisa yang agak masuk. Kemarin saya wawancara Jose Mourinho, malah disuruh patuhi protokol kesehatan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalian, manusia, ini kenapa terlalu terobsesi dengan yang namanya ketenaran dan rela berbuat apa aja demi keuntungan pribadi. Mbok ya sing tenang, sing kalem, rasah serakah. Segala bikin hoax babi ngepet segala, ini apa coba. Mbok ya belajar dari perjalanan hidup saya, demi memenuhi nafsu, harus jadi babi selamanya meski sudah dapat pencerahan. Begitulah fitnah, deritanya tiada akhir.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAnjir, upamane koe ra dadi babi ngono wis patut dadi musisi indie, Bung Zhu Bajie.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKoyo Fiersa Besari, Hindia, ngono kae?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHooh.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPrei, nggak mau aku jadi kaumnya mereka.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah itu, saya pamit. Rasa-rasanya, saya nggak akan bisa menjalani hidup menderita, namun diterima dengan lapang hati seperti Zhu Bajie. Tapi, setelah wawancara ini, saya jadi kepikiran satu pertanyaan yang bakal mengganggu saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kok bisa orang-orang di Depok saat itu percaya kalau itu babi ngepet beneran?<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/korupsi-bansos-dan-dana-haji-mana-yang-lebih-bajingan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Korupsi Bansos dan Dana Haji, Mana yang Lebih Bajingan?\u00a0<\/a><\/b><b>dan artikel\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/rizkyprasetya\/\"><b>Rizky Prasetya<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><b><i>ini<\/i><\/b><\/a><b><i>\u00a0ya.<\/i><\/b><\/h6>\n<h6><b><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><\/b>\u00a0<b><i><a href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282136338016&amp;text&amp;app_absent=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/i><\/b><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Begitulah fitnah, deritanya tiada akhir.<\/p>\n","protected":false},"author":777,"featured_media":119761,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[11465,11477,4112,11478,11476],"class_list":["post-119759","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-babi-ngepet","tag-cu-pat-kai","tag-journey-to-the-west","tag-sun-wukong","tag-zhu-bajie"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/119759","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=119759"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/119759\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/119761"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=119759"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=119759"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=119759"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}