{"id":119683,"date":"2021-04-29T03:28:46","date_gmt":"2021-04-28T20:28:46","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=119683"},"modified":"2021-04-29T03:28:46","modified_gmt":"2021-04-28T20:28:46","slug":"selain-majalah-bobo-tabloid-fantasi-dan-majalah-mentari-adalah-bacaan-anak-90-an-yang-wajib-dikenang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/selain-majalah-bobo-tabloid-fantasi-dan-majalah-mentari-adalah-bacaan-anak-90-an-yang-wajib-dikenang\/","title":{"rendered":"Selain Majalah Bobo, Tabloid Fantasi dan Majalah Mentari Adalah Bacaan Anak 90-an yang Wajib Dikenang"},"content":{"rendered":"<p>Sebagai orang berlabel generasi 90-an yang lahir di tahun 80-an, masa kecil saya tentu tak mengenal gawai dan jaringan internet. Bangun pagi, sekolah, pulang, main, mengaji, main lagi, istirahat malam. Begitu saja. Namun, ada yang khas dari kehidupan masa kecil kami di tahun 90-an, yaitu melimpahnya bacaan khusus untuk anak-anak. Mulai dari komik, buku berseri, sampai majalah dan tabloid. Kalau bicara mengenai majalah, tak lain dan tak bukan, imej pertama yang muncul di kepala para generasi 90-an pastilah majalah <em>Bobo<\/em>.<\/p>\n<p>Tetapi, apa kalian tahu bahwa ada banyak sekali majalah dan tabloid sejenis saat itu? Salah duanya adalah tabloid <em>Fantasi <\/em>dan majalah <em>Mentari<\/em>.<\/p>\n<h4>Tabloid Fantasi: Bocoran Serial Anak dan Gim<\/h4>\n<p>Ibu saya mulai berlangganan majalah <em>Bobo<\/em> sejak saya berusia dua tahun dan belum bisa membaca. Jujur, <em>Bobo<\/em> lah yang menjadi pemantik saya untuk rajin belajar membaca. Dan saat akhirnya lancar membaca di usia tiga tahun, Ibu memutuskan menambah bahan bacaan saya dengan berlangganan tabloid <em>Fantasi<\/em>.<\/p>\n<p>Tabloid <em>Fantasi<\/em> ini cukup berbeda dengan majalah <em>Bobo<\/em>. Pertama, jenisnya saja sudah lain, ya. <em>Bobo<\/em> berbentuk majalah alias seperti buku tapi dengan ukuran besar, sedangkan tabloid <em>Fantasi\u2014<\/em>sesuai namanya\u2014bentuknya lebih mirip seperti surat kabar dengan ukuran sedikit lebih kecil. Bila majalah <em>Bobo<\/em> bisa dibaca sambil tiduran (iya, ini buruk, jangan ditiru!), tabloid <em>Fantasi<\/em> tidak bisa. Karena ukurannya yang lebar, memang lebih nyaman membacanya dalam keadaan duduk.<\/p>\n<p>Dari segi isi pun, tabloid <em>Fantasi<\/em> ini cukup berani tampil beda. <em>Fantasi<\/em> terbit dengan mengusung sejumlah resensi film dan serial anak yang tayang di televisi. Dengan jumlah tayangan khusus anak yang saat itu melimpah, tentu saja ini termasuk ide yang cerdas.<\/p>\n<p>Dulu saya selalu menanti-nanti bocoran seri <em>Ksatria Baja Hitam<\/em> terbaru, lalu memamerkannya ke teman-teman (yang tidak berlangganan), dan kemudian menonton sambil histeris sendiri karena perpaduan sudah sedikit tahu bocoran ceritanya dan rasa penasaran akan ending-nya.<\/p>\n<p>Saya ingat, betapa sedihnya saya saat tahu Ksatria Baja Hitam bertransformasi menjadi RX Bio dan RX Robo. Iya, saat banyak anak lain yang senang dengan perubahan itu, saya malah sedih karena memang lebih suka dengan sosok Ksatria Baja Hitam yang orisinil bersama motor belalang tempurnya.<\/p>\n<p>Serial lain yang juga saya tunggu-tunggu bocorannya adalah<em>\u2014<\/em>apa lagi kalau bukan<em>\u2014Mighty Morphin Power Rangers<\/em>. Saya juga mengalami banyak kekecewaan saat tahu lebih dulu bahwa Tommy yang awalnya bermusuhan, malah jadi satu geng dengan para Power Rangers. Saya lebih tertarik dengan Tommy sebagai tokoh villain, sih. Ehehehe.<\/p>\n<p>Tetapi, ada satu bahasan yang tidak pernah bisa saya ikuti di tabloid <em>Fantasi<\/em>, yaitu gim. Tak main-main, <em>Fantasi<\/em> punya empat halaman khusus untuk membahas gim-gim yang sedang tren saat itu. Saya bukan gamer dan tidak suka main gim, jadi ya rubrik yang sedang hype itu justru saya lewatkan begitu saja.<\/p>\n<p>Hal lain yang saya ingat juga adalah tabloid <em>Fantasi<\/em> ini tidak terlalu sering memberikan bonus untuk kami para pelanggannya. Tidak seperti majalah <em>Bobo<\/em> yang suka memberi poster atau bundling hadiah lainnya, <em>Fantasi<\/em> lumayan jarang melakukannya. Mungkin redaksinya berpikir bahwa rubrik yang mereka usung sudah cukup untuk menarik perhatian pembaca.<\/p>\n<h4>Majalah Mentari yang Warna-warni<\/h4>\n<p>Tahun 1995 saya diajak oleh orang tua pindah dari Palembang ke Surabaya. Otomatis sesi berlangganan majalah <em>Bobo<\/em> dan tabloid <em>Fantasi<\/em> pun terhenti. Di rumah Surabaya, saya menemukan banyak sekali seri majalah anak-anak yang sebelumnya tidak pernah saya tahu. Namanya majalah <em>Mentari<\/em>. Bentuknya sama dengan <em>Bobo<\/em>, isinya juga full warna-warni.<\/p>\n<p>Sebelum saya pindah ke Surabaya, rumah itu hanya ditempati oleh Mbah Putri dan satu Bude saya. Tapi, kenapa ada banyak majalah Mentari, ya? Kata Mbah Putri, dulu almarhum Mbah Kakung saya turut membantu proses awal terbitnya majalah ini. Jadi sebagai rasa terima kasih, Kak Kresno Mulyadi memutuskan untuk terus mengirimkan hasil cetaknya ke rumah kami walau Mbah Kakung sudah tiada.<\/p>\n<p>Bagi kalian yang mungkin belum tahu, majalah <em>Mentari<\/em> ini murni cetak dan terbit di Surabaya lho. Di saat majalah dan bacaan anak lainnya bermarkas di ibu kota negara, Kak Kresno cukup berani untuk tampil beda. Itulah alasannya kenapa anak-anak yang tinggal di daerah Jawa Timur lebih akrab dengan majalah <em>Mentari<\/em> dibanding lainnya. Walau begitu, pendistribusiannya sudah sampai skala nasional. Nggak kaleng-kaleng.<\/p>\n<p>Lalu, bagaimana dengan isinya?<\/p>\n<p>Wuah, bagi kalian yang hobi membaca, <em>Mentari<\/em> adalah surga dunia. Bacaannya banyak sekali. Bagi saya, hal ini juga yang menjadikan majalah <em>Mentari<\/em> berbeda dengan terbitan lainnya. Bacaan yang ada di dalamnya mayoritas adalah cerita pendek, tapi terasa panjang bagi ukuran anak-anak. Eits, jangan salah. Di sini redaksinya memainkan trik cerdas, karena sepanjang apa pun ceritanya, tidak ada yang namanya kata bosan saat membacanya. Pasti dibikin penasaran dan akhirnya menjadikan saya membacanya sampai kelar.<\/p>\n<p>Yang paling saya ingat dari majalah <em>Mentari<\/em> adalah serial Hamindalid. Siapa Hamindalid? Hamindalid ini ceritanya sih adalah seorang penyihir. Tapi bukan penyihir dengan tampilan seram, ya. Hamindalid ini bergelar penyihir kocak saking lucunya. Tapi isi ceritanya penuh dengan informasi dan pengetahuan. Misalnya, pengenalan berbagai macam hewan atau juga proses pembuatan makanan atau minuman. Jadi asyik kan bacanya.<\/p>\n<p>Selain Hamindalid, ada juga Abunawas. Kalau kalian pikir Abunawas di sini adalah tokoh yang sama dengan yang selama kalian kenal, ya bisa dibilang mirip lah. Dongeng Abunawas si penyair cerdik dengan tampilan yang &#8220;Arab banget&#8221; ini jadi salah satu cerita yang selalu saya tunggu-tunggu. Biasanya saya sengaja melewatinya saat pertama kali menerima majalah edisi terbaru, dan akan saya baca paling akhir nantinya.<\/p>\n<p>Seperti bacaan anak lainnya, majalah <em>Mentari<\/em> tetap menyisipkan berita dan informasi terbaru dari tokoh artis atau penyanyi anak-anak. Di tahun-tahun itu, musik Indonesia memang dipenuhi banyak penyanyi cilik. Otomatis berita seputar Agnes Monica, Joshua, Trio Kwek-Kwek, dan yang lainnya menjadi santapan tetap bagi kami para pelanggannya.<\/p>\n<p><em>Mentari<\/em> juga tidak pelit dengan bonus dan hadiah. Sering memberi bonus poster film atau foto artis cilik, belum lagi rubrik TTS dan mewarnainya yang juga selalu berhadiah. Dari rubrik perkenalan di majalah <em>Mentari<\/em> juga saya mendapat banyak sahabat pena saat itu. Hmmm, saya jadi kangen.<\/p>\n<p>Dua bacaan yang saya bahas ini memang sudah jadi sejarah, ya, Mylov. Alias sudah tidak terbit lagi. Sedih sih belum sempat mengenalkan mereka ke anak-anak saya. Padahal bacaan berkualitas seperti inilah yang sebenarnya selalu dibutuhkan oleh anak-anak di usia sekolahnya. Informatif dan edukatif.<\/p>\n<p><em>Sumber Gambar: <a href=\"https:\/\/www.fimela.com\/fashion-style\/read\/3717360\/masih-ingat-majalah-bobo-apa-kabar-nirmala-bona-dan-rong-rong\">Fimela.com<\/a><\/em><\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengenal-bedak-saripohatji-bedak-populer-dari-zaman-nenekmu-muda\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>Mengenal Bedak Saripohatji, Bedak Populer dari Zaman Nenekmu Muda<\/strong>\u00a0<\/a><b><\/b><b>dan tulisan\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dini-n-rizeki\/\"><b>Dini N. Rizeki<\/b><\/a><b> lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><b><i>ini<\/i><\/b><\/a><b><i>\u00a0ya.<\/i><\/b><\/h6>\n<h6><b><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><\/b>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\"><b><i>di sini.<\/i><\/b><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada yang khas dari kehidupan masa kecil kami di tahun 90-an, yaitu melimpahnya bacaan khusus untuk anak-anak. Mulai dari komik, buku berseri, sampai majalah dan tabloid.<\/p>\n","protected":false},"author":376,"featured_media":119689,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[467,6450,7040,11470,7039,11471,11472],"class_list":["post-119683","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-anak","tag-bacaan","tag-bobo","tag-fantasi","tag-majalah","tag-mentari","tag-tabloid"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/119683","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/376"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=119683"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/119683\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/119689"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=119683"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=119683"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=119683"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}