{"id":11876,"date":"2019-09-04T11:45:46","date_gmt":"2019-09-04T04:45:46","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=11876"},"modified":"2019-09-04T13:58:54","modified_gmt":"2019-09-04T06:58:54","slug":"jangan-salahkan-konten-yang-tak-bermoral-tapi-salahkan-diri-kita-yang-membuatnya-viral","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-salahkan-konten-yang-tak-bermoral-tapi-salahkan-diri-kita-yang-membuatnya-viral\/","title":{"rendered":"Jangan Salahkan Konten yang Tak Bermoral, Tapi Salahkan Diri Kita yang Membuatnya Viral"},"content":{"rendered":"<p>Media sosial saat ini berkembang seperti jamur di tengah musim hujan. Banyak sekali jenis media sosial. Bayangkan saja, 1 orang di Indonesia memiliki paling tidak 1 media sosial atau bahkan 1 orang bisa memiliki 3 media sosial sekaligus. Contoh yang paling lumrah adalah Facebook, Instagram, dan Twitter. Dulu ketika kita berkenalan dengan orang baru yang akan ditanya paling nama, sekolah di mana atau kerja di mana. Tapi kalau jaman sekarang, pasti ditambah pertanyaan \u2018akun ig-nya apa?\u2019\u2014iya kan, sob? Hal ini berbanding lurus dengan menjamurnya para pembuat konten yang memenuhi ruang-ruang media sosial.<\/p>\n<p>Semakin berkembangnya media sosial, ternyata secara tidak kita sadari <a href=\"https:\/\/tirto.id\/jargon-kosong-program-revolusi-mental-cPLw\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">mengubah pola pikir<\/a> dan sikap kita di keseharian juga kan. Bukan hal yang aneh lagi, saat kita kumpul dengan teman-teman kita sibuk <em>cekrak-cekrek<\/em> demi <em>feed <\/em>Instagram ataupun <em>ngevlog<\/em> buat konten YouTube. Ini sudah jadi kewajaran, bukan? Inilah dunia kaum milenial, di mana slogan \u2018sandang, pangan, papan, dan wifian\u2019 dijunjung tinggi.<\/p>\n<p>Berbagai hal menarik di media sosial membuat ide-ide kreatif kaum milenial lebih terasah untuk menyandang gelar \u2018viral\u2019. \u00a0Seru kan saat foto kita dapat banyak <em>like<\/em> atau komen-komen yang membuat kita serasa udah kaya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/ulp\/esai\/melupakan-isyana-oppo-tokopedia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Isyana Sarasvati.<\/a><\/p>\n<p>Tapi parahnya sekarang gimana kalau demi viral rela melakukan hal-hal yang di luar norma? Misalnya berita yang sempat\u00a0 viral jaman <em>baheula,<\/em> ada seorang wanita yang belanja nggak pakai celana, <em>public figure <\/em>yang menurut kabar burung seorang waria, artis-artis yang pacaran terlalu berlebihan atau foto-foto di zebra cross yang lagi lampu merah dan udah serasa jalan milik mereka sendiri. Dikiranya lagi buat cover album The Beatles kali.<\/p>\n<p>Baru-baru ini ada juga berita viral seorang <em>public figure <\/em>yang\u2014jujur aku nggak terlalu tahu itu siapa\u2014bilang bahwa dia habis \u2018ditiduri\u2019 oleh salah satu YouTuber terkenal karena dijanjikan bakal <em>collab<\/em> di YouTube-nya. Sebagai seorang perempuan, aku bertanya-tanya apakah harga diri hanya sebatas konten YouTube?<\/p>\n<p>Berita semacam ini muncul di mana-mana, di akun medsos bahkan beranda-beranda YouTube kita. \u00a0Entah kenapa hal-hal seperti itu jadi viral dan dikonsumsi oleh masyarakat luas tanpa batasan umur. Banyak yang menganggap hal ini wajar\u2014toh dia artis, toh dia gini, toh bukan urusan saya. Hal-hal seperti ini juga jadi toleransi yang dianggap biasa.<\/p>\n<p><em>Wis, itu urusan mereka to?\u00a0<\/em>Memang kita tak berhak untuk melarang mereka yang ingin viral dengan cara seperti itu, tapi hal ini menggelitik saya. Ayolah, kenapa konten seperti itu bisa viral?<\/p>\n<p><em>Jawabannya karena kita yang membuatnya viral.<\/em><\/p>\n<p>Masyarakat kita cenderung menikmati dan <em>kepo<\/em> tentang hal yang viral. Saya simpulkan sedikit<em> deh<\/em> kenapa konten semacam itu bisa viral.<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Kurangnya konten yang mendidik<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Mungkin banyak di luar sana, milenial dengan ide-ide yang inovatif dan kreatif yang mauuu banget buat konten yang mendidik tapi sayangnya perjalanannya lebih berliku-liku. Misal, untuk konten pelajaran sekolah aja pasti sulit untuk berkembang pesat karena rata-rata netizen kita nggak terlalu suka belajar, kan?\u2014<em>ya samalah kaya saya yhaaa~<\/em><\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><strong>Netizen yang terlalu <em>kepo<\/em><\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Perhatikan deh, netizen-netizen yang budiman jaman sekarang terlalu <em>kepo<\/em> dengan urusan orang lain. Misalnya ada satu aja yang aneh a.k.a layak dihujat. Setiap hari dicari-cari beritanya, setiap hari di <em>stalking<\/em> medsosnya. Walaupun para netizen berpikir \u2018<em>ih kok gini\u2019<\/em>, \u2018<em>ih ngerusak nih\u2019, \u2018wah ga bener nih\u2019<\/em> tapi jika beritanya dicari tiap hari. Bukankan itu yang membuatnya jadi <em>trending topic<\/em>?<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li><strong>Kayanya netizen kurang kerjaan<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Negara kita memang punya jumlah penduduk terbesar ke 3 di dunia. Tak heran jika banyak penduduk yang kurang kerjaan. Jadi lebih sibuk di dunia maya daripada dunia nyata. Jika para netizen lebih sibuk berkreasi dibidangnya masing-masing tentu saja waktunya akan minim dengan berita <em>unfaedah <\/em>ini.<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li><strong><em>Update<\/em> = punya bahan obrolan<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Sebenarnya konten yang <em>unfaedah<\/em> ini banyak dibaca dan ditonton oleh netizen yang sekedar \u2018latah\u2019. Demi punya bahan obrolan kalau lagi ketemu teman-teman banyak netizen yang mesti <em>update<\/em>. Supaya pas ketemu dan ngobrol bisa sama-sama ngehujat bareng. Sadar atau tidak, netizen kita punya mental <em>ghibah<\/em> luar biasa. <em>No hari tanpa ghibah.<\/em><\/p>\n<p>Akhir kata dari tulisan saya yang absurd ini cuma mau mengajak para netizen untuk yok sama-sama mengurangi keviralan konten-konten <em>unfaedah <\/em>ini. Kepedulian kita terhadap media sosial penting loh demi masa depan anak-anak kita. Yuk kurangi <em>kepo<\/em> hal yang <em>unfaedah<\/em> dan mulailah cintai konten-konten yang dapat membuat kita berkembang. Jika dunia makin nggak bermoral, coba tanyakan dengan diri kita apakah yang kita lihat sudah benar? Karena kelakuanmu berdasarkan apa yang kamu lihat.<\/p>\n<p><em>Think again, yhaaa~<\/em> (*)<\/p>\n<p>BACA JUGA <a class=\"bump-view\" href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tidak-penasaran-dengan-cerita-horor-kkn-desa-penari-indikasi-seseorang-ber-iq-tinggi-benarkah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" data-bump-view=\"tp\">Tidak Penasaran dengan Cerita Horor KKN Desa Penari Indikasi Seseorang Ber-IQ Tinggi: Benarkah?<\/a>\u00a0atau tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/Vina-Oktaria\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Vina Oktaria<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bukan hal yang aneh lagi, saat kita kumpul dengan teman-teman kita sibuk cekrak-cekrek demi feed Instagram ataupun ngevlog buat konten YouTube. <\/p>\n","protected":false},"author":265,"featured_media":12185,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[584,3095,3097,370,3096,157,514],"class_list":["post-11876","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-content-creator","tag-konten-viral","tag-moral-bangsa","tag-selebgram","tag-unfaedah","tag-youtube","tag-youtuber"],"modified_by":"Zahroh Ayu","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11876","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/265"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11876"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11876\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12185"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11876"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11876"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11876"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}