{"id":118719,"date":"2021-04-21T12:20:10","date_gmt":"2021-04-21T05:20:10","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=118719"},"modified":"2021-04-21T12:20:55","modified_gmt":"2021-04-21T05:20:55","slug":"tancho-sempat-jadi-pomade-terbaik-di-kecamatan-saya-tinggal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tancho-sempat-jadi-pomade-terbaik-di-kecamatan-saya-tinggal\/","title":{"rendered":"Tancho Sempat Jadi Pomade Terbaik di Kecamatan Saya Tinggal"},"content":{"rendered":"<p>Sebenarnya saya juga baru tahu kalau Tancho itu masuk kategori pomade. Dulu semasa SMP\u2014awal perkenalan saya dengan Tancho\u2014ya tak pikir semuanya minyak rambut. Saya dan teman-teman menyebutnya minyak rambut cair, minyak rambut gel, minyak rambut wax, dan hash mbuh lainnya. Udah, nggak usah dipikirin kenapa saya dan teman-teman sampai nyebut benda padat sebagai minyak.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mengenal dunia perminyak rambutan\u2014ya mohon maap kalo sampai sekarang masih nyebut minyak rambut\u2014ketika kelas satu SMP. Waktu itu, ada anak bernama Johan yang ciri-cirinya mudah dikenali. Rambutnya njegrak sepanjang hari tanpa kenal lelah. Rambut njegrak pada masa itu hanya identik dengan anak-anak nakal, dan di kelas saya, Johan memang salah satu siswa paling ndablek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu ketika saat MOS, ada kakak kelas yang nanya rambut Johan diapain kok bisa njegrak tak kenal waktu itu, dan Johan sambil cengengesan bilang, \u201cPake Tancho!\u201d dan itu adalah kali pertama saya mendengar nama Tancho.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seiring berjalannya waktu, saya kok ya kepingin mengubah gaya rambut yang sedari dulu sisiran belah samping lempeng dan kalau sudah kena terik matahari bakal loyo pol-polan itu. Saya pengin tampil stylish dengan melakukan perombakan gaya rambut. Datanglah saya ke tukang cukur rambut Andika\u2014salah satu tukang cukur paling top se-kecamatan Bagelen pada masanya. Di sana, rambut saya dicukur sasak. Whelah, pada masa itu potong sasak bagi anak laki-laki adalah potongan paling terhormat dan berpotensi menambah level ketampanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sama Bang Andika, sang tukang cukur paling yahud itu, rambut saya dikasih Tancho untuk pertama kalinya. Rasanya merinding gimana gitu sewaktu rambut saya yang biasanya lempeng, kini ditata njegrak ke atas dan membuat kepala saya mirip landak lebih estetik. Itu adalah salah satu alasan kenapa Bang Andika adalah tukang cukur yang populer. Hanya di tempat cukurnya, kita bakal dikasih Tancho gratis. Nggak kayak tukang cukur lain yang hanya nyukur bras-bres dan kadang malah bikin rambut nggak karuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan benar saja, setelah memakai Tancho, rambut saya bisa njegrak sepanjang sisa hari. Saya nyepeda ke sana-sini, rambut diterjang angin mobat-mabit, tetapi tetap kembali ke posisi tegak menantang langit. Whelah, saya merasa menjadi anak laki-laki paling tampan se-kecamatan waktu itu. Tiap melewati rumah yang ada kacanya, saya pasti ngaca dulu sambil mesam-mesem. Pas ada mobil parkir, ya kudu ngaca dulu untuk memastikan rambut masih oke apa nggak. Dan berkat Tancho, rambut saya tampak selalu oke.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih dahsyatnya lagi, sekalipun sudah mandi di sore harinya, efek Tancho masih terasa. Lengket-lengket gimana gitu di rambut, dan misal disisir njegrak lagi, bakal bertahan lumayan lama. Efek Tancho hanya akan hilang jika sudah keramas, dan pada masa saya SMP dulu, keramas tampak bagaikan mitos.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sekolah, berbekal sisa-sisa Tancho yang belum hilang efeknya, rambut saya bisa bersaing dengan rambut Johan. Ada penantang baru dalam urusan rambut njegrak. Itu artinya Johan harus mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu sebutan &#8220;Si Rambut Njegrak dari Kelas A&#8221; berpindah ke saya. Pun, saya lebih pede buat mbribik Anita, si primadona pujaan hati semasa SMP dulu. Ya gimana nggak pede, secara rambut saya kan sudah sangat mendukung penampilan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya Johan tetap mendapatkan gelar &#8220;Si Njegrak dari Kelas A&#8221; ketika efek Tancho di rambut saya menghilang beberapa hari kemudian. Rambut saya kembali lempeng dan mawut-mawut jika sudah kena terik matahari. Johan menang punya stok Tancho, sementara stok saya hanya ada di Bang Andika beberapa waktu lalu saat saya potong rambut. Waduh, ini sungguh berbahaya. Gelar &#8220;Si Njegrak dari Kelas A&#8221; harus kembali saya perebutkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mencoba mencari Tancho di warung-warung sekitar saya, sayangnya nggak ada yang jual. Mereka hanya jual Gatsby THC yang berbentuk krim putih itu. Sasetan pulak. Ya sudah, saya beli itu, berharap memiliki efek seperti Tancho.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika saya pake sehabis mandi, whelaah&#8230; kok aromanya enak. Dan rambut juga bisa njegrak maksimal tiada banding. Ya sudah, berangkatlah saya dengan kepercayan diri yang paling paripurna ke sekolah. Efek yang diterima rambut saya sungguh berbeda dengan Tancho. Krim THC membuat rambut saya tampak basah dan kaku bukan main, sementara pas pake Tancho, efeknya hanya rambut tertata seperti ketika disisir, nggak bikin kinclong-kinclong dan keras.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya, saya mencoba menerima efek yang berbeda itu, sampai akhirnya petaka itu datang. Ketika hujan tiba dan saya sok asik hujan-hujanan, kok mendadak rambut saya berlumuran cairan putih gitu. Whelah, ternyata itu adalah efek pemakaian Gatsby THC yang baru saya ketahui. Kalau kena air, krimnya bakal mencair dan mengalir ke muka, ndlewer-ndlewer, berpotensi masuk mata, dan mengakibatkan perih yang luar biasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oke, saya skip meneruskan pemakaian Gatsby THC sasetan itu. Pergi ke warung, saya menemukan varian lain yang ternyata lumayan populer di kalangan anak SMP. Itu adalah Gatsby WG, varian gel rambut yang aromanya sungguh melenakan. Saat dioleskan ke kepala, rasanya semriwing menyenangkan dan sungguh cocok jika dipakai di siang hari yang terik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata, saya lumayan cocok dengan produk itu. Rambut saya bisa njegrak maksimal dan tampak senantiasa basah. Namun, ia tidak seperti varian THC, varian WG ini tidak bakal berubah mengerikan jika rambut kehujanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya melupakan sejenak perihal Tancho, dan setia dengan Gatsby WG yang mendadak begitu saya puja itu. Hampir setahun rambut saya selalu keren dan penuh gaya karena diolesi Gatsby WG.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, Johan ternyata mengeluhkan efek samping Tancho setelah sekian lama memakainya. Dia mengaku rambutnya mulai beruban. Tidak bisa tidak, saya langsung ngakak kepingkel-pingkel. Untungnya saya belum sempat memakai Tancho secara rutin, jadinya aman dari efek samping yang entah benar atau salah itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan ternyata bukan hanya Johan yang mengeluhkannya. Teman saya, Aris, yang juga memiliki Tancho tetapi tidak mau membaginya dengan saya, pun tidak mau mengatakan di mana dia beli, setelah pemakaian beberapa minggu, juga mengalami hal sama seperti Johan. Rambutnya mulai beruban, lantas dia memilih stop memakai Tancho.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seiring berjalannya waktu, Gatsby merilis varian WAX yang diiklankan dengan begitu keren. Kemasannya bunder dan tutupnya ada kertas melingkar yang bisa ditarik dan berubah menjadi semacam halaman. Ada petunjuk pemakaian dan cara menata rambut biar keren. Ya jelas saya ganti ke varian itu dan memilih style harajuku.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maklum, waktu itu band J-Rock lagi keren-kerennya, dan hampir semua anak muda kepingin berpenampilan ala harajuku. Saya pakai, dan ternyata rasanya sungguh aneh. Rambut langsung kasar dan kaku. Rasanya kayak ngolesin nasi di rambut, dan aromanya bikin mual. Namun, efek ke rambut memang dahsyat. Gaya rambut harajuku maksa yang saya tata bisa bertahan seharian, sehingga sekali lagi, saya merasa menjadi manusia paling tampan di Kecamatan Bagelen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana dengan keinginan saya menggunakan Tancho? Halah, kandas dan tak berbekas seperti usaha saya mbribik Anita.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber Gambar: <a href=\"https:\/\/youtu.be\/7FxNf9bbjTQ\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">YouTube Dicki Iqbal<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sejarah-pomade-pernah-tenggelam-populer-lalu-tenggelam-lagi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sejarah Pomade: Pernah Tenggelam, Populer, Lalu Tenggelam Lagi<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/riyanto\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Riyanto<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<a href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282136338016&amp;text&amp;app_absent=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>di sini.<\/em><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya mencoba mencari Tancho di warung-warung sekitar saya, sayangnya nggak ada yang jual. Mereka hanya jual Gatsby THC yang berbentuk krim putih itu.<\/p>\n","protected":false},"author":702,"featured_media":118724,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[599,11321,11382],"class_list":["post-118719","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-nostalgia","tag-pomade","tag-tancho"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/118719","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/702"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=118719"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/118719\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/118724"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=118719"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=118719"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=118719"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}