{"id":118636,"date":"2021-04-21T15:00:11","date_gmt":"2021-04-21T08:00:11","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=118636"},"modified":"2021-04-29T01:43:08","modified_gmt":"2021-04-28T18:43:08","slug":"bagi-takjil-hunter-pandemi-adalah-penderitaan-yang-abadi-takjilanterminal17","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bagi-takjil-hunter-pandemi-adalah-penderitaan-yang-abadi-takjilanterminal17\/","title":{"rendered":"Bagi Takjil Hunter, Pandemi adalah Penderitaan yang Abadi. #TakjilanTerminal17"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah nggak sih, kenangan kalian meronta-ronta ketika mendengarkan sebuah lagu? Jika iya, kalian tidak sendiri, saya juga demikian. Sebuah lagu memang memiliki daya magis bagi para pendengarnya, Apalagi beberapa lagu yang memiliki muatan kenangan yang cukup menggelisahkan. Mendengarkan lagu kadang menjadi pilihan logis saat hati sudah dalam kondisi kritis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenangan tidak hanya hidup dalam sebuah lagu, kadang ia menjelma dalam sebuah tempat, atau bahkan suasana. Ini juga terjadi pada saya. Ketika bertemu dengan bulan Ramadan, saya mengingat beberapa momen yang sentimentil, seperti ngabuburit di pasar sore, sahur, berbuka bersama, sampai keliling masjid untuk tarawih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari semua kenangan sentimentil tersebut, ada satu momen yang tidak akan mudah dilupakan, yaitu ketika menjadi takjil hunter atau pencari takjil gratisan<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagaimana anak kos yang menerapkan pola hidup hemat, menjadi takjil hunter adalah pilihan logis untuk diterapkan. Awalnya memang sekadar coba-coba, namun setelah beberapa hari, saya seakan menemukan passion di bidang ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, menjadi takjil hunter adalah kegiatan yang menyenangkan nomor dua setelah jatuh cinta. Ya gimana, selain memang mendukung pola hidup sehat si dompet di tanggal tua, bisa srawung dengan golongan akar rumput adalah kebahagiaan tersendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika tak salah ingat, dulu ketika bulan Ramadan (sebelum pandemi), kira-kira uang 50-100 ribu sudah sangat cukup untuk bertahan hidup untuk beberapa hari di kota Malang. Ya gimana, banyak sekali alternatif untuk mendapatkan takjil, serta makanan ringan lainnya. Hmm serasa tinggal di surga~<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi kalian yang ragu dengan nominal yang cukup sedikit tersebut, saya kasih tahu bagaimana cara saya bertahan hidup di bulan Ramadan. Pertama, saya mengupayakan mendapatkan dua nasi ketika berbuka, yang satu untuk takjil, yang satu disimpan untuk sahur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini bukan berarti saya mengambil dua jatah nasi ketika pembagian. Saya tetap mengambil satu porsi, hanya saja di dua tempat yang berbeda. Biasanya ada masjid yang membagikan takjil sebelum dan sesudah azan. Informasi seperti itu tentu saja harus saya ketahui terlebih dahulu, beserta cadangan masjid lain jika ternyata ada kendala di masjid utama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya beberapa masjid juga ada yang menyiapkan nasi kotak untuk dibagikan ketika waktu sahur. Namun, mengantre nasi kotak dengan kondisi ngantuk sepertinya hal yang tidak mudah, karena itu, saya memastikan ketika maghrib jatah sahur sudah di tangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara kedua adalah mengikuti tadarus di musala. Kenapa tidak di masjid? Salah satu alasannya adalah jarak. Kosan saya lebih dekat dengan musala daripada masjid, jadi untuk mengurangi konsumsi bensin berlebih pada kendaraan bermotor, saya mencari musala terdekat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan lainnya adalah kebanyakan musala tidak memiliki supply<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">dan demand<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">yang seimbang. Sejauh pengalaman saya, makanan dan minuman di musala selalu lebih banyak daripada peserta tadarusnya. Ini membuat satu orang mendapat jatah makan 2-3 orang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski kalian datang ke musala karena tergoda oleh makanannya, sebisa mungkin niatkan pergi ke sana untuk tadarus, masalah amal kita diterima atau tidak, itu sudah bukan urusan manusia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tujuan awal saya menjadi Takjil Hunter memang sekadar coba-coba, karena suka aja wira-wiri mencari masjid dengan menu paling menggoda. Eh, lambat laun malah kecanduan karena kondisi dompet sangat sehat sekali, kan lumayan uangnya bisa buat <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">foya-foya<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> keperluan masa depan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi takjil hunter memang cukup menyenangkan. Namun, semua berubah saat pandemi datang. Bahkan, di hari pertama Ramadan, tidak kurang dari 4 masjid atau musala saya kunjungi dan harus kembali dengan gigit jari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa masjid menghentikan pembagian takjil untuk menghindari kerumunan, sebagian lagi tetap menyediakan takjil dengan jumlah terbatas yang biasanya dikhususkan untuk anak-anak TPQ di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hanya beberapa masjid saja yang menyediakan takjil untuk masyarakat umum, itu pun tidak jarang jadwal pembagiannya diubah, alhasil kami harus memantau akun media sosial masjid tersebut sebelum pergi ke sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya paham kalau keputusan yang dilakukan sudah melalui proses berpikir yang panjang dan berdasarkan protokol yang ada. Beberapa takjil hunter yang saya temui mengaku ikhlas dan legowo, \u201cPiye neh, pancen kahanan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masa pandemi memang merugikan banyak pihak, termasuk bagi para pencari takjil seperti saya. Sebagaimana saya yang rindu mencari takjil di beberapa tempat, saya pun yakin mereka juga rindu memberikan takjil secara rutin selama ramadan. Panjang umur perjuangan.<\/span><\/p>\n<p><i>*Takjilan Terminal adalah segmen khusus yang mengulas serba-serbi Ramadan dan dibagikan dalam edisi khusus bulan Ramadan 2021.<\/i><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/puasa-beduk-cara-puasa-untuk-pemula\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">m.<\/a>\u00a0dan<\/strong><strong>\u00a0tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/m-afiqul-adib\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">M. Afiqul Adib<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pernah nggak sih, kenangan kalian meronta-ronta ketika mendengarkan sebuah lagu? Jika iya, kalian tidak sendiri, saya juga demikian. Sebuah lagu memang memiliki daya magis bagi para pendengarnya, Apalagi beberapa lagu yang memiliki muatan kenangan yang cukup menggelisahkan. Mendengarkan lagu kadang menjadi pilihan logis saat hati sudah dalam kondisi kritis. Kenangan tidak hanya hidup dalam sebuah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":118773,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[136,53,6057,11387,11283],"class_list":["post-118636","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-buka-puasa","tag-ramadan","tag-takjil","tag-takjil-hunter","tag-takjilan-terminal"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/118636","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=118636"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/118636\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/118773"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=118636"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=118636"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=118636"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}