{"id":118606,"date":"2021-04-23T15:30:13","date_gmt":"2021-04-23T08:30:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=118606"},"modified":"2021-04-23T08:47:51","modified_gmt":"2021-04-23T01:47:51","slug":"kraca-kuliner-populer-orang-ngapak-pantura-dan-banyumasan-tiap-bulan-ramadan-takjilanterminal22","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kraca-kuliner-populer-orang-ngapak-pantura-dan-banyumasan-tiap-bulan-ramadan-takjilanterminal22\/","title":{"rendered":"Kraca, Kuliner Populer Orang Ngapak Pantura dan Banyumasan Tiap Bulan Ramadan. #TakjilanTerminal22"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau di Jogja dan Solo ada angkringan dan wedangan, kalian kemungkinan besar akan menemukan sate keong. Akan tetapi, sebagai orang ngapak <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bangsa-ngapak-itu-nggak-cuma-banyumas-ada-pemalang-juga-yang-kaya-cerita\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pemalang<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, saya tidak habis pikir, mengapa tidak ada kraca di Jogja maupun Solo. Apalagi di masa-masa puasa seperti ini, membatalkan puasa tanpa menyeruput kuah gurih, asin, pedas dari kraca seperti sebuah vakansi yang janggal. Aneh banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oke, mungkin lebih aneh buat kalian yang sama sekali nggak ngerti apa itu kraca. Jadi begini, kraca atau keong kraca adalah kuliner yang populer di kawasan ngapak, baik di daerah pantura maupun Banyumasan. Istilah lain dari kraca adalah tutut, keong sawah, atau kalau mau agak ilmiah disebut <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pila ampullacea<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Selain di daerah ngapak, tutut juga lazim dikonsumsi di beberapa wilayah Sunda dan Jawa Barat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun demikian, tentu saja yang bikin kraca ini istimewa bagi orang ngapak adalah karena keberadaan olahan kulinernya yang selalu ada di antara menu berbuka puasa. Atau setidaknya, tersedia tanpa kurang pasokan, dan dapat ditemui dengan mudah di lapak para pedagang pinggir jalan dadakan yang menjamur menjelang petang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak seperti sate keong di angkringan, yang tentu saja dimasak tanpa cangkangnya. Kraca seolah ingin menunjukkan diri sebagai kuliner multitafsir yang bisa bikin mind blowing. Bayangkan saja, ini keong bukan hewan laut atau tambak budidaya. Namun, kok, ya bisa-bisanya dimasak bareng cangkang-cangkangnya. Kayak mau ngomong, &#8220;Gua juga seafood kali,&#8221; padahal jelas-jelas hama sawah! Parahnya, enak banget lagi!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kalian susah membayangkan, kuah kraca berwarna kuning dari kunyit yang cenderung bening. Ada rasa asin dan gurih yang saya duga berasal dari umami daging keong. Pun sepertinya berkat sedikit santan dan parutan kelapa di dalamnya. After taste pedas juga kentara dari bumbu halus yang isinya mungkin cabai rawit, jahe, sereh, dan lengkuas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, cara makannya ini yang bikin sensasi dan pengalaman menyantap kraca jadi level up berlipat-lipat. Jadi, kan, kadang ada kraca yang bagian bawah cangkangnya masih tertutup oleh semacam cangkang tipis. Ada juga yang udah kebuka. Kraca yang udah kebuka inilah terasa nikmat karena kuahnya masuk ke dalam bagian dalam keong dan cangkangnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, untuk memakan bagian daging keong, kalian mesti dipersenjatai dengan tusuk gigi sederhana, atau istilah ngapaknya, biting. Terbuat dari bambu dengan ujung runcing atas bawah, panjang dan diameternya ya kira-kira sama seperti tusuk gigi kayu komersial di toko-toko.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan biting inilah bagian daging kraca bisa ditusuk dan ditarik, untuk kemudian dimakan tanpa ampun. Saat menarik kraca sering kali kuahnya akan berceceran tak terduga, dan justru kondisi semacam ini yang bikin buka puasa kamu makin mantap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apalagi si cangkang kosong yang dagingnya sudah dimakan tadi, kemudian bisa jadi semacam &#8220;centong&#8221; atau sendok serbaguna. Jadi nih ya, itu cangkang kosong dipakai buat ngambil kuah pedas gurih yang masih ada. Lantas diseruput lezat ke dalam mulut. Ah, so refreshing. Kalau mau lebih didramatisir, akan timbul samar-samar bebunyian &#8220;slurp&#8221;, tiap kali kamu menyesap kuah kraca dari cangkang kosong itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau orang Perancis mampir ke <\/span><a href=\"https:\/\/milenialis.id\/bahasa-dan-logat-ngapak-pemalang-lebih-elegan-ketimbang-ngapak-banyumasan\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pemalang<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> atau Banyumas, mereka pasti menyesal. Kenapa mesti membayar mahal untuk menikmati escargot, kalau dalam kuliner orang ngapak ada olahan keong yang harganya lima ribuan? Meskipun disajikan dengan penanganan yang jauh berbeda, saya tetap percaya sih suatu saat seluruh dunia akan terkesima dengan adanya kraca.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk sekarang, mungkin solusinya sederhana: mendorong pada penjual nanas madu Pemalang yang ada di seantero negeri, untuk turut menjual kraca. Yah, kalau bisa di Jogja dulu, lah. Biar saya dan seluruh bocah ngapak di Jogja bisa kembali menikmati Ramadan dan nikmatnya berbuka puasa dengan kraca.<\/span><\/p>\n<p><i>*Takjilan Terminal adalah segmen khusus yang mengulas serba-serbi Ramadan dan dibagikan dalam edisi khusus bulan Ramadan 2021.<\/i><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pukis-dan-bikang-menu-berbuka-dan-tadarus-yang-tak-dianggap-takjilanterminal19\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>Pukis dan Bikang, Menu Berbuka dan Tadarus yang Tak Dianggap. #TakjilanTerminal19<\/strong><\/a> <strong>dan<\/strong> <b>tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/adi-sutakwa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Adi Sutakwa<\/a>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282136338016&amp;text&amp;app_absent=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagai orang ngapak Pemalang, saya tidak habis pikir, mengapa tidak ada kraca di Jogja maupun Solo.<\/p>\n","protected":false},"author":1076,"featured_media":118967,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[438,11402,2854,11283],"class_list":["post-118606","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-kuliner","tag-menu-berbuka","tag-orang-ngapak","tag-takjilan-terminal"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/118606","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1076"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=118606"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/118606\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/118967"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=118606"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=118606"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=118606"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}