{"id":117981,"date":"2021-04-24T16:00:04","date_gmt":"2021-04-24T09:00:04","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=117981"},"modified":"2021-04-29T01:42:45","modified_gmt":"2021-04-28T18:42:45","slug":"alasan-jemaah-tarawih-ramai-di-awal-sepi-di-tengah-dan-ramai-kembali-di-akhir-ramadan-takjilanterminal24","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-jemaah-tarawih-ramai-di-awal-sepi-di-tengah-dan-ramai-kembali-di-akhir-ramadan-takjilanterminal24\/","title":{"rendered":"Alasan Jemaah Tarawih Ramai di Awal, Sepi di Tengah, dan Ramai Kembali di Akhir Ramadan. #TakjilanTerminal24"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sempat terheran dengan siklus jumlah jemaah tarawih masyarakat kita yang nggak konsisten sama sekali selama bulan Ramadan. Coba deh, diperhatikan sejenak. Ketika awal Ramadan, pasti jumlah jemaah tarawih membludak, tumpah-tumpah. Bahkan di beberapa wilayah tertentu sampai melebihi jumlah kapasitas Masjid.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan, ketika memasuki pertengahan bulan Ramadan, jumlah jemaah tarawih kian terkikis, sedikit demi sedikit mulai tergerus jumlah shafnya. Namun, justru mengherankan lagi, ketika memasuki akhir bulan Ramadan, entah kenapa tiba-tiba jumlah jemaah tarawih kembali membludak, layaknya awal bulan Ramadan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Labil banget nggak sih kelihatannya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukannya saya ingin mengoreksi aktivitas beribadah orang lain, saya juga bukan seorang alim ulama. Hanya saja, memang seperti itu-lah kenyataan obyektif yang terjadi di masyarakat +62 yang saya temui selama ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pasca mempertanyakan siklus jemaah tarawih ini, saya sedikit berpikir, dan mencoba memahami realitas sosial yang memang terjadi ini, bahkan telah menjadi budaya di masyarakat +62 itu sendiri. Saya menemukan beberapa jawaban mengapa siklus jumlah jemaah tarawih masyarakat +62 dapat demikian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oke, siklus yang pertama, di mana jumlah jemaah tarawih di awal Ramadan mengalami pembludakan, bahkan melebihi jumlah jemaah Maghrib pada umumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pembludakan jemaah tarawih di awal Ramdhan tidak lain karena suksesnya pengaruh beberapa pihak yang mengkampanyekan kebahagian datangnya bulan Ramadan. Segala elemen masyarakat mulai dari tokoh agama, artis, tokoh publik, film televisi, sosial media bahkan iklan sekalipun, menyambut dengan riang gembira datangnya bulan Ramadan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penyambutan bulan Ramadan dengan riang gembira ini tentunya berimplikasi pada daya semangat masyarakat untuk lebih giat beribadah sebagaimana yang dianjurkan oleh agama. Tentunya disokong juga oleh pelipatan ganjaran yang diberikan kepada mereka yang giat beribadah di bulan Ramadan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ibarat mahasiswa baru yang masih awal-awal memasuki kuliah. Meskipun kuliahnya jam tujuh pagi, tapi para maba ini tetap dengan semangat dan riang gembira melakoni kuliah awalnya. Pasalnya, sebelumnya di masa SMA, dia telah dipengaruhi bahwa berkuliah merupakan hal yang menyenangkan. Meskipun sebenarnya nggak semenyenangkan yang dikira sebelumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun sayangnya, rasa semangat masyarakat untuk beribadah tarawih tidak langgeng selamanya. Memasuki pertengahan bulan Ramadan, semangat untuk salat tarawih di Masjid sudah mulai kendor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitupun seperti anak maba sebelumnya. Mereka semangat kuliah hanya di awal-awal saja. Ketika memasuki pertengahan kuliah di semester empat dan lima, kebanyakan mahasiswa mulai kehilangan semangat, bosan, malas, bahkan ada yang merasa salah jurusan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dalam kasus salat tarawih, alasan malas mungkin sudah menjadi alasan pasaran menurut saya. Oleh karena itu, saya menemukan alasan lain selain malas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kebanyakan masyarakat +62 terutama kalangan mudanya, di pertengahan bulan Ramadan mulai disibukkan dengan ajakan bukber. Meskipun ajakan bukber tidak memungkiri datang di awal dan akhir Ramadan, akan tetapi sepengelaman saya, ajakan bukber kebanyakan datang di pertengahan Ramadan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, ketika mulai ada aktivitas lain yang mungkin dianggap menyenangkan ini seperti bukber, maka salat tarawih mulai tersisihkan, mulai dinomor duakan. Seperti prinsip yang awal tadi, masyarakat lebih memilih sesuatu yang menggembirakan menurutnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi kan, bukber itu seharusnya hanya di waktu maghrib saja, kenapa berdampak pada salat tarawih yang waktunya pasca isya\u2019?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya memang, itu seharusnya, tapi kenyataannya tidak seperti itu. Kebanyakan bukber berlangsung mulai sore selepas Ashar, hingga malam hari sekitar jam sembilan ke atas. Nah, sepanjang waktu itu, masyarakat disibukkan dengan keasyikan ngobrol ketika bukber. Sedangkan salat tarawihnya terlupakan, paling mentok salat yang wajib saja seperti magrib dan isya\u2019.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun sebenarnya salat tarawih dapat dilakukan secara pribadi di rumah sendiri pasca-bukber, namun secara tidak langsung tindakan seperti itu juga menjadi alasan berkurangnya jumlah jemaah tarawih di masjid.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah Masjid mengalami penurunan jumlah jemaah tarawih di pertengahan bulan Ramadan, tiba-tiba memasuki akhir bulan Ramadan jumlah jemaah tarawih kembali meningkat drastis, membludak kembali layaknya awal bulan Ramadan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau saya mengatakan fenomena ini dikarenakan budaya lokal, maka saya rasa cukup kurang memuaskan. Meskipun sebenarnya, pembludakan kembali jemaah tarawih di akhir bulan Ramadan merupakan budaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, terdapat faktor dibalik pembudayaan pembludakan jumlah jemaah tarawih di akhir bulan Ramadan. Menurut saya, pembludakan ini terjadi karena populernya keyakinan mengenai kemuliaan sepuluh malam akhir di Bulan Ramadan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, di akhir bulan Ramadan, tepatnya sepuluh malam akhir, terdapat satu malam yang sangat dimuliakan oleh umat Islam, yakni malam Lailatul Qadar. Malam Lailatul Qadar ini juga dikatakan lebih baik dari seribu bulan. Nah, lo, fantastis kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, karena waktu pasti malam Lailatul Qadar ini merupakan rahasia ilahi, dan hanya diterangkan berada di sepuluh malam akhir bulan Ramadan, masyarakat kembali giat di sepuluh malam akhir bulan Ramadan tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, akhirnya mereka semua kembali giat beribadah, seperti salat tarawih di Masjid di sepuluh malam akhir bulan Ramadan. Barangkali saja dapat jackpot, bejo, atau beruntung menemui malam Lailatul Qadar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai sini cukup terjawab, kenapa jumlah jemaah tarawih dapat ramai, sepi dan ramai kembali. Tentunya alasannya bukan hanya sekadar alasan pasaran, seperti malas atau semacamnya. Melainkan ada faktor lain yang menjadikan siklus tersebut cukup langgeng di masyarakat kita.<\/span><\/p>\n<p><i>*Takjilan Terminal adalah segmen khusus yang mengulas serba-serbi Ramadan dan dibagikan dalam edisi khusus bulan Ramadan 2021.<\/i><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/buku-agenda-ramadan-membuat-saya-pernah-dikatain-kafir-takjilanterminal10\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Buku Agenda Ramadan, Membuat Saya Pernah Dikatain Kafir. #TakjilanTerminal10<\/a>\u00a0dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/mohammad-maulana-iqbal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><span data-sheets-value=\"{&quot;1&quot;:2,&quot;2&quot;:&quot;Mohammad Maulana Iqbal&quot;}\" data-sheets-userformat=\"{&quot;2&quot;:513,&quot;3&quot;:{&quot;1&quot;:0},&quot;12&quot;:0}\">Mohammad Maulana Iqbal\u00a0<\/span><\/a>lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>di sini.<\/em><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kenapa yak<\/p>\n","protected":false},"author":886,"featured_media":118760,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[317,11386,109,53,11283],"class_list":["post-117981","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-buka-bersama","tag-jemaah-tarawih","tag-puasa","tag-ramadan","tag-takjilan-terminal"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/117981","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/886"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=117981"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/117981\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/118760"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=117981"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=117981"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=117981"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}