{"id":117748,"date":"2021-04-14T12:00:37","date_gmt":"2021-04-14T05:00:37","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=117748"},"modified":"2021-04-14T01:55:49","modified_gmt":"2021-04-13T18:55:49","slug":"ramai-ramai-gerakanmutenasional-untuk-bung-valen-jebret-simanjuntak-salah-siapa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ramai-ramai-gerakanmutenasional-untuk-bung-valen-jebret-simanjuntak-salah-siapa\/","title":{"rendered":"Ramai-ramai #GerakanMuteNasional untuk Bung Valen &#8216;Jebret&#8217; Simanjuntak, Salah Siapa?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu momen menarik yang mengubah wajah perkomentatoran Indonesia. Momen itu bernama Piala AFF U-19 2013, momen di mana suara \u201cjebret\u201d Bung Valen menggelegar layaknya Bung Tomo membangkitkan semangat arek Suroboyo ketika berperang. Dan dalam satu waktu itu, Bung Valen viral dan turut merombak gaya lama komentator yang terkesan kaku ketika bertugas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIbarat durian,\u201d kalau kata Pandji Pragiwaksono di YouTube-nya 2019 silam untuk menyebut Bung Valen. Sosok ini begitu dicintai, pun begitu dibenci beberapa kalangan penikmat olahraga dan tak terkecuali rekan sesama komentator yang keukeuh pada pakem lama. Harus edukatif, kata mereka yang menentang. Tapi apa daya, Bung Valen dan gayanya yang konon lebih menghibur bertahan cukup lama, hingga satu momen datang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dyarrr, di gelaran Piala Menpora tahun ini, blio yang dulunya dipuja, balik dibenci lagi. Kendati bukan hal yang baru, #GerakanMuteNasional adalah bukti bahwa kini yang membenci gaya \u201cngaco dan rame\u201d (menurut blio sendiri di YouTube-nya 2020 silam) lebih masif dalam menentang pakem yang awalnya juga dicintai itu. Cuitan akun Bali United hingga trending di Twitter. Pun tak main-main, dari akun @MafiaWasit misalnya, terhitung hampir sembilan puluh persen follower-nya sepakat untuk menentang gaya \u201cngaco dan rame\u201d Bung Valen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menarik untuk menelisik bagaimana gaya beda ini datang, dicintai dan kemudian dibenci. Menurut blio 2019 silam sendiri, gayanya tak muncul sendiri, tapi by design oleh industri televisi. Mesti kreatif dan menciptakan gimmick, lantas momen Final Piala AFF U-19 menjadi titik balik itu semua. Gaya nyeleneh yang ternyata meningkatkan gairah orang awam terhadap sepak bola itu, nyatanya bertahan karena permintaan pasar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya Bung Valen \u201cJebret\u201d Simanjuntak ada karena tuntutan industri, dan tuntutan industri ada karena permintaan pemirsa. Dan yang anehnya kini, pemirsa gantian menentang. Jadi, maunya pemirsa ini apa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari sini seolah memang pemirsalah yang salah, karena bagaimana pun selera pemirsa itu yang pada akhirnya membentuk gaya baru blio. Tapi dari kacamata yang sama, sejujurnya Bung Valen sendiri memang juga salah. Terutama soal bagaimana blio sering keluar konteks ketika nyerocos di balik layar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Minim edukasi itu memang benar adanya, kendati Bung Valen dari dulu membela diri bahwa gaya yang ia bawakan memang hanya untuk entertain. Pun ia pernah berseloroh, kalau mau edukasi ya ke sekolah. Tapi, bukankah sekolah lebih mahal dari tayangan sepak bola? Akses tayangan sepak bola di televisi barangkali juga lebih mudah diakses dibanding akses sinyal internet undlap-undlup di pelosok negeri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sendiri sejujurnya adalah orang yang bertahun-tahun kontra terhadap gaya yang diciptakan Bung Valen. Barangkali juga teramat subjektif untuk langsung menempatkan blio dalam posisi yang salah, makanya saya buat narasi seolah-olah berimbang. Ya, ini memang salah pemirsa, tapi Bung Valen juga salah, apalagi jika kita berkaca pada kasus yang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak usah jauh-jauh ke Bung Sambas, ambil contoh di era yang sama. Misalnya, Bung Hadi \u201cAhay\u201d Gunawan yang juga tak kalah berisik. Keduanya sama-sama polutif di telinga, bahkan mungkin Bung Hadi lebih cempreng. Tapi, kredit lebih saya berikan kepada Bung Hadi, kendati dikenal berisik, ketika memandu laga tim nasional ia tak sungkan menyebut satu-persatu pemain lawan dengan benar, sekalipun menciptakan gimmick hanya sebatas menyebut pemain Filipina \u201cYounghusband\u201d menjadi \u201cSuami Muda\u201d pada gelaran Piala AFF 2016. Cringe sih, tapi mendingan lah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang sering dilupakan blio, bahwa ketika ia bicara di balik layar, ia selalu menempatkan diri sebagai penghibur, dan perlahan melupakan tugas utama sebagai komentator. Sering pula blio hampir tak pernah menyebutkan pemain lawan ketika memandu laga internasional. Itu baru masalah penyebutan nama belum pada kasus analisis pertandingan yang minim.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi \u201ckomentator yang menghibur\u201d itu tidak salah, menjadi hanya \u201cpenghibur\u201d itu jelas salah. Karena sejatinya komentator juga mempunyai tanggung jawab untuk mentransformasikan pengetahuan ke khalayak, entah datang dari si komentator sendiri atau dari pancingannya sebagai \u2018host\u2019 kepada komentator lain sebagai \u2018expert\u2019 di balik layar. Lebih dari sekadar mengabarkan keadaan di lapangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Situasi ini bikin kita serbasalah untuk menilai siapa yang salah. Bung Valen salah, tapi agaknya terlalu kurang sopan untuk ramai-ramai menyerang di saat Bung Valen sudah kadung terbentuk oleh kemauan pasar, dari 2013 kemana saja, Bos?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bijaknya sih, dua belah pihak harus introspeksi. Namun, kalau dua belah pihak sudah mendaku diri paling benar, ya susah.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dear-rama-sugianto-tidak-perlu-lucu-untuk-jadi-komentator-sepak-bola\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Dear Rama Sugianto, Tidak Perlu Lucu untuk Jadi Komentator Sepak Bola<\/a>\u00a0<\/strong><strong>dan\u00a0<\/strong><strong>tulisan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dicky-setyawan\/\">\u00a0Dicky Setyawan<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0<i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Salah siapa?<\/p>\n","protected":false},"author":783,"featured_media":117756,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[11293,1698,711,11292],"class_list":["post-117748","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-gerakanmutemassal","tag-komentator","tag-sepak-bola","tag-valen-simanjuntak"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/117748","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/783"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=117748"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/117748\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/117756"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=117748"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=117748"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=117748"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}