{"id":116949,"date":"2021-04-08T14:00:13","date_gmt":"2021-04-08T07:00:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=116949"},"modified":"2021-04-08T13:29:43","modified_gmt":"2021-04-08T06:29:43","slug":"memberi-motivasi-kerja-dengan-melukai-hati-itu-goblok","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/memberi-motivasi-kerja-dengan-melukai-hati-itu-goblok\/","title":{"rendered":"Memberi Motivasi Kerja dengan Melukai Hati Itu Goblok!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lama ini saya mengikuti seminar tentang kiat menjadi sukses di dunia bisnis. Ketika sedang asyik mendengarkan sambil ngunyah kacang, Si Bapak Fasilitator bilang bahwa ada dua cara untuk membuat karyawan Anda berprestasi dan melonjakan semangat kerjanya. Yang pertama, tentu saja membuat hatinya berbunga dengan motivasi. Yang kedua, membuat hatinya terluka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah lho, hampir saja saya tersedak kacang ketika mendengar kalimat membuat hatinya terluka. Menurut Si Bapak Fasilitator ini, motivasi dengan membuat hatinya terluka<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">adalah cara efektif supaya semangat karyawan bisa tumbuh di lingkungan kerja. \u201cSaya kadang memang sengaja membuat hati beberapa orang yang bekerja untuk saya terluka supaya semangat kerja mereka kembali naik.\u201d Si Bapak mencontohkan orang-orang sukses yang diundang di acara talkshow televisi Indonesia dengan latar belakang pernah mengalami perundungan (bullying) yang kemudian jadi orang tertutup dan mulai bangkit membuktikan diri mereka sendiri. Wow, sangat menyentuh! Kayaknya cocok nih, jadi cerita inspiratif opera sabun di televisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, tunggu dulu, saya berlawanan arah dengan Si Bapak ini. Perundungan bukan hal yang patut untuk dikampanyekan apalagi dibudayakan di lingkungan kerja. Membangun motivasi melalui perundungan, intimidasi terhadap rekan kerja merupakan sebuah \u201cdosa\u201d yang harusnya lebih diperhatikan para pemegang kekuasaan di lingkungan kerja. Kecuali, jika memang ada karyawan yang tidak menyelesaikan pekerjaan dengan baik, tentu boleh ditegur. Pelaksanaan teguran ini pun tidak boleh menyinggung hal-hal personal dan fisikal yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejauh yang saya tahu sebagai seorang karyawan di salah satu perusahaan swasta, budaya menyakiti hati<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">memang masih mengakar kuat apalagi di perusahan dengan sistem yang masih konvensional. Rawan dengan power abuse, mentang-mentang memiliki kekuasaan vertikal di kantor bisa semena-mena mengatai rekan kerja lainnya. Budaya memberi semangat dengan bullying<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">selain sudah tidak relevan juga membuat tingkat stress bertambah. Dikutip dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">MHA, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dua dari setiap lima orang telah mengalami perundungan di lingkungan kerja. Dan hampir setengah yang ditargetkan mengalami stress dan mengalami gangguan kesehatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak yang beranggapan bahwa memberi motivasi dengan melukai hatinya<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">adalah sebuah gaya bagi seorang pemimpin. Sebuah karisma yang harus ditonjolkan dari seorang pemimpin, sehingga bawahannya \u201ctakut\u201d dan menormalisasi sikap kasar dan teguran yang bersifat menyerang ke arah personal. Ujung-ujungnya bilang tolong, ini jangan dimasukkan hati ya, saya kan hanya menyemangati aja bukan bermaksud untuk menjelek-jelekkan, becanda aja! Wo, yo ra mashok!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk itu, menormalisasi perundungan dengan dalih motivasi bekerja ataupun dalam hal lain bukanlah keputusan yang bijak untuk dilakukan. Menciptakan budaya yang sehat di lingkungan kerja dengan mendengar semua keluhan dari karyawan, tidak menyerang fisik dan isu sensitif pribadi yang berkaitan ketika memberikan teguran. Dan yang pasti kalau mau memberikan semangat ya berikan semangat secara benar, cukup dengan mengapresiasi pekerjaan yang telah diselesaikan tidak akan membuat jabatan anda turun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Si Bapak Fasilitator ini pun tidak memberikan penjelasan tentang bagaimana melakukan apresiasi kepada karyawan dalam bentuk semangat secara emosional. Jika dipikir-pikir kembali, Ia hanya menjelaskan bagaimana membuat karyawan menelan mentah-mentah bahwa aturan yang diberlakukan oleh si bos<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">benar adanya dan sebagai seorang karyawan \u201cwajib\u201d mematuhinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, yang begini ini sudah mengarahkan menjadi jiwa-jiwa yang patuh dan tunduk pada atasan tapi yang salah server.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat kalian yang mungkin merasa bahwa lingkungan kerja kalian toxic<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">dan menunjukan sinyal-sinyal power abuse<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">tolong sadari bahwa itu sebuah masalah. Sadari bahwa bos tidak berhak mengoyak-oyak kesehatan mental seseorang. Ungkapkan jika perkataan rekan kerja ataupun pimpinan membuat tidak nyaman. Bukan berarti bersembunyi di balik dalih memberikan semangat dapat sah-sah saja menyemprot kalimat yang tidak elok apalagi tidak senonoh, termasuk kalimat pelecehan secara verbal dan fisik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan ini sering terjadi, gemes banget, ingin sekali saya mencubit pipi orang. Ketika ada yang\u00a0 tiba-tiba melontarkan kalimat seperti, \u201cUdah kamu nggak papa ambil dokumen ke kantor sana dan sini, nanti makin kurus loh udah kurus banget gitu.\u201d Atau<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEh si itu aja ditambahin area kerjanya biar kecilan dikit lah badannya, udah kegedean gitu badannya.\u201d Apa tidak emosi panas jiwa dan raga, pemirsa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, bisa banget loh kita ini tidak perlu menambah-nambahi kalimat tidak perlu untuk memberi pekerjaan ke orang atau menanggapi apa yang sedang dikerjakan. Tetapi, saking sudah dinormalisasi kalimat offended<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">dengan \u201cah, becanda doang. Gitu doang baper!<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">jadi orang yang angkat bicara membela diri sendiri akan dilabeli orang baperan. Bikin mingkem lagi, nggak jadi ngomong, deh<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yuk, mulai sekarang belajar membuat lingkungan kerja menjadi lingkungan yang nyaman dan bikin betah. Bukan menjadi momok dimana orang yang tadinya mau menyemangati malah membuat sakit hati dan membuat orang tersebut turun performa kerjanya. Tidak perlu sok tahu dan membuat asumsi bahwa dengan melukai hati<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">akan membuat mereka menjadi bangkit, menjadi semangat, dan sukses. Hidup tidak selurus itu, guys! Jangan-jangan dengan cara itu jadinya akan menghancurkan relasi kalian, kan nggak lucu juga ya. Dan tentu saja menghapus luka hati itu bukan perkara gampang tinggal dikasih tip-ex doang.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lucunya-bekerja-di-perusahaan-yang-pimpinannya-adalah-teman-sendiri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Lucunya Bekerja di Perusahaan yang Pimpinannya Adalah Teman Sendiri\u00a0<\/a><\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sopankah begitu?<\/p>\n","protected":false},"author":1479,"featured_media":74648,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[3502,11226,11225,9686],"class_list":["post-116949","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bullying","tag-kekerasan-di-kantor","tag-motivasi-kerja","tag-toxic"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/116949","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1479"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=116949"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/116949\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/74648"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=116949"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=116949"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=116949"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}