{"id":116451,"date":"2021-04-05T10:00:52","date_gmt":"2021-04-05T03:00:52","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=116451"},"modified":"2021-04-04T22:50:42","modified_gmt":"2021-04-04T15:50:42","slug":"kenapa-sih-tersangka-korupsi-sering-tiba-tiba-sakit-dan-berobat-ke-luar-negeri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenapa-sih-tersangka-korupsi-sering-tiba-tiba-sakit-dan-berobat-ke-luar-negeri\/","title":{"rendered":"Kenapa sih Tersangka Korupsi Sering Tiba-tiba Sakit dan Berobat ke Luar Negeri?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari segala hal yang misterius di dunia ini, ada satu hal yang sampai sekarang belum terkuak, yaitu kenapa tersangka korupsi atau yang terduga korupsi tiba-tiba sakit dan berobat ke luar negeri? Padahal sebelumnya mereka segar bugar, amat totalitas dalam ngembat duit rakyat, dan ketika sakit, obatnya cuma ada di luar negeri?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yakin bukan karena kemampuan tenaga medis negara kita payah. Tapi, memang ada penyebabnya kenapa mereka harus berobat jauh, minimal ke Singapura, dan sakitnya cuman pas jadi tersangka korupsi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, kenapa nggak ke Timor Leste gitu yak berobatnya? Kan lebih deket. Lagian sakit misterius gitu belum tentu luar negeri bisa ngatasin. Belum ada juga yang nyoba berobat ke dukun gitu. Dateng ke tempat Soleh Pati gitu, sapa tau penyebab sakitnya digambar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kira-kira waktu digambar, dialognya gini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMbah, saya kenapa ya?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBentar, lagi proses, lagian mana saya tau kan saya tutup mata\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAduh, saya kira lagi kosple jadi Gojo Satoru\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNih selesai\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho, Mbah, kok gambar kemiskinan?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMungkin inilah akibat dari tindakanmu, Kisanak\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kira-kira begitu. Balik lagi ke tersangka korupsi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, saya kan penasaran, terus saya cari dan analisis lewat internet, tanya-tanya warga sekitar, juga mencari lewat renungan batin. Hasilnya saya kasih, nih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, saya sempat menemukan hasil penelitian Dokter Bernard Mahfouz. Beliau ini multitalenta. Aslinya dokter, tapi juga berprofesi sebagai astronot, tukang ledeng, bakul cilok, kadang orang perlente, serta orang gundul yang konsisten. Blio juga berkolaborasi dengan Elon Musk dalam project besar tentang perkembangan manusia. Nama projectnya LalatX, terinspirasi dari nama project Elon Musk yang lain, yaitu SpaceX.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu hasil dari project LalatX tersebut adalah menguak tersangka korupsi yang tiba-tiba sakit dan berobat ke luar negeri. Diam-diam, Bernard Mahfouz datang ke Indonesia selama beberapa tahun dan menganalisis fenomena ini. Dia bahkan sempat menganalisis tiang listrik yang ditabrak Setya Novanto. Sayang, dia tidak berhasil menganalisis secara penuh karena dikira Deddy Corbuzier oleh warga setempat dan diminta atraksi sulap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa ketika seseorang jadi tersangka korupsi, mereka berevolusi. Beneran ini. Jadi, manusia itu kan nama spesiesnya homo sapiens. Nah, homo sapiens yang ketangkep korupsi pada saat itu mereka berubah jadi homo bajinganensis. Evolusi ini berlangsung amat cepat, kayak Pokemon. Jadi kalau kalian menganggap koruptor sama dengan Pokemon, nggak apa-apa, coba lempar bola ke mereka, pasti ketangkep. Lebih baik sih, bolanya dari batu gitu, lemparnya ke kepala.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, homo bajinganensis ini, meski titik evolusi lanjut dari homo sapiens, mereka jadi vulnerable alias rentan terhadap perubahan. Mereka bisa sakit tiba-tiba dan Indonesia belum ada obatnya. Sebenarnya, negara mana pun belum ada obatnya. Cuma, tersangka korupsi alias homo bajinganensis ini nggak tau kenapa, kalau makin jauh dari Indonesia, penyakitnya berangsur-angsur hilang. Aneh kan? Nggak juga, sih, soalnya itu Setya Novanto sampe nabrak tiang. Itu bukti kalau Indonesia nggak bagus buat koruptor. Coba dia bawa mobilnya di Italia gitu, pasti dia nggak nabrak tiang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bernard Mahfoudz juga menemukan penyakit-penyakit yang menyerang homo bajinganensis alias tersangka korupsi ini. Penyakit tersebut ada tiga, yang pertama gendelenmus lekengensis alias selangkangan yang membengkak. Kedua, silitngaritmus cangkembosokensis, dan yang ketiga adalah modarmus ndasmus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penyakit pertama biasanya menyerang selangkangan. Penyakit kedua adalah mulutnya bernanah dan bau mulutnya nggilani. Yang ketiga ini agak aneh, dia sakit kalau dimaki dan disumpahin oleh rakyat gara-gara korupsi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga penyakit tersebut baru mengeluarkan gejala kalau mereka masih di Indonesia, dan makin menjadi kalau mereka sudah dekat dengan persidangan. Makanya jangan kaget kalau tersangka korupsi tiba-tiba minta izin berobatnya dah kek anak SMA izin ke kamar mandi. Bayangin koruptor yang necis-necis itu tiba-tiba bernanah mulutnya pas sidang?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sih, seneng.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa penelitian Bernard Mahfouz ini tidak diketahui banyak orang? Sebab laporan ini amat rahasia, hanya bisa didapatkan oleh agen-agen sangar macam Mardigu yang katanya agen rahasia yang nggak rahasia amat. Kalau kenapa ini bisa di tangan saya, saya nggak berani cerita. Nanti saya kena doxing lagi. Lha wong ngomongin rektor UNY aja saya kena doxing buzzer, apalagi ngomongin koruptor, bisa ketauan warna sempak saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi setelah baca ini, sebaiknya kalian tak lagi punya prasangka buruk terhadap tersangka korupsi yang tiba-tiba berobat ke Singapura, Inggris, Amerika, atau Arabasta gitu. Tapi, kalau kalian beneran benci, sebaiknya doakan saja sesampainya mereka di negara tujuan, mereka ditabrak odong-odong bermesin Ducati.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/korupsi-bansos-dan-dana-haji-mana-yang-lebih-bajingan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Korupsi Bansos dan Dana Haji, Mana yang Lebih Bajingan?<\/a><\/b><b>\u00a0dan artikel\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/rizkyprasetya\/\"><b>Rizky Prasetya<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><b><i>ini<\/i><\/b><\/a><b><i>\u00a0ya.<\/i><\/b><\/h6>\n<h6><b><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><\/b>\u00a0<b><i><a href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282136338016&amp;text&amp;app_absent=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/i><\/b><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kenapa ya, Gaes?<\/p>\n","protected":false},"author":777,"featured_media":94038,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[4807,3146,11177,11178],"class_list":["post-116451","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-koruptor","tag-singapura","tag-tersangka-korupsi","tag-uang-rakyat"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/116451","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=116451"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/116451\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/94038"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=116451"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=116451"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=116451"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}