{"id":115369,"date":"2021-04-05T13:00:56","date_gmt":"2021-04-05T06:00:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=115369"},"modified":"2021-04-05T12:18:09","modified_gmt":"2021-04-05T05:18:09","slug":"psikotes-nggak-perlu-dimanipulasi-recruiter-paham-mana-yang-alami-dan-nggak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/psikotes-nggak-perlu-dimanipulasi-recruiter-paham-mana-yang-alami-dan-nggak\/","title":{"rendered":"Psikotes Nggak Perlu Dimanipulasi, Recruiter Paham Mana yang Alami dan Nggak"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada saat mengikuti proses seleksi karyawan, pelamar kerja biasa dihadapkan dengan beberapa hal: proses awal berupa wawancara dengan HRD dan\/atau psikotes. Kemudian proses lanjutan seperti wawancara dengan user, klien, atau para petinggi di suatu perusahaan. Semuanya akan kembali pada kebijakan masing-masing perusahaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di antara serangkaian proses yang dilakukan, sebagai tes pendamping untuk mengetahui gambaran kepribadian, tingkat kecerdasan, termasuk potensi yang dimiliki, berbagai tes dalam psikotes sangat rentan untuk dimanipulasi oleh para pelamar kerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Betapa tidak? Di internet, apa pun platform-nya, sudah tersebar luas dan banyak sekali kisi-kisi sekaligus kunci jawaban mengenai berbagai alat tes yang biasa digunakan pada saat proses seleksi karyawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa pun itu, saran saya, jangan mudah percaya dengan berbagai kunci jawaban psikotes yang tersebar di internet. Sebab, psikotes tidak memiliki kunci, termasuk tips dan trik tertentu, apalagi jurus jitu untuk lolos psikotes.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai recruiter sekaligus lulusan Psikologi, saya punya alasan sederhana yang bisa dijadikan bahan renungan oleh para pencari kerja: mahasiswa dan\/atau lulusan Psikologi memegang teguh kode etik untuk tidak membocorkan segala sesuatu yang berkaitan dengan alat tes\u2014apalagi sampai menyebarluaskan kunci jawaban.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini bisa dijadikan landasan yang cukup kuat untuk tidak percaya begitu saja terhadap kisi-kisi dan\/atau kunci jawaban psikotes.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika ditelaah lebih lanjut, kebanyakan yang membuat kunci jawaban atau kisi-kisi untuk psikotes, entah melalui buku atau disebarluaskan secara online, bukan lulusan Psikologi atau seseorang yang memiliki gelar sebangsanya. Alasannya, kembali kepada kode etik itu tadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saran saya, bagi pelamar kerja yang sedang mengikuti proses psikotes di perusahaan mana pun, ikuti saja alurnya, dan kerjakan serangkaian alat tes yang diberikan tanpa harus memikirkan atau mencari-cari kunci jawabannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal tata cara pengerjaan, sebelum mulai psikotes, pasti akan diinstruksikan terlebih dahulu oleh HRD atau recruiter-nya, kok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai recruiter, saya menyadari bahwa, setiap alat tes yang diberikan kepada pelamar kerja punya celah untuk dimanipulasi. Lantaran banyaknya kisi-kisi tentang psikotes yang sangat mudah diakses. Meski validitasnya dipertanyakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal tersebut memicu para pelamar kerja untuk memanipulasi jawaban pada setiap tes yang diberikan dengan cara mengikuti template yang didapat melalui buku trik jitu mengerjakan psikotes atau secara online.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sini saya kasih sedikit pencerahan: hal tersebut sia-sia belaka dan nggak perlu dilakukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tujuan awal diadakannya psikotes pada seleksi karyawan adalah untuk mengetahui gambaran kepribadian, tingkat kecerdasan, potensi dan\/atau minat yang dimiliki, ketahanan dalam bekerja, dan lain sebagainya, dari diri kalian masing-masing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam prosesnya, hasil psikotes secara keseluruhan akan disandingkan dengan hasil wawancara. Apakah gambarannya memang sesuai, atau justru ada ketidakcocokan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya, ketidakcocokan ini biasa ditemui ketika seorang kandidat memanipulasi pengerjaan psikotes karena termakan kisi-kisi, kunci jawaban, dan trik jitu yang sudah dibacanya. Beberapa kali saya menemui hal seperti ini dan hanya bisa geleng-geleng kepala.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pasalnya, dari sudut pandang recruiter, ketika sedang skoring (mengecek dan memberi nilai) untuk beberapa tes yang sudah dikerjakan oleh para kandidat, akan sangat jelas terlihat mana yang jawabannya natural (apa adanya) dan mana yang dimanipulasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau bagaimanapun, hal ini akan menjadi pertimbangan tersendiri terhadap hasil akhir dari proses psikotes yang sudah dilakukan oleh setiap kandidat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, sebagai recruiter, saya pun punya tanggung jawab untuk lebih jeli dalam melakukan skoring psikotes dan menyandingkannya dengan hasil wawancara dari seorang pelamar kerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di luar daripada hal itu, tidak bisa dimungkiri bahwa, proses pengerjaan psikotes sulit dipisahkan dari mood juga kondisi yang sedang dirasakan oleh seseorang. Itu kenapa, sangat disarankan bagi siapa pun yang akan mengikuti psikotes untuk beristirahat yang cukup dan dalam kondisi fit, agar mendapatkan hasil akhir yang maksimal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagipula, jika ada serangkaian tes yang diberikan pada saat psikotes, penilaiannya akan saling berkesinambungan dan akan ditinjau lebih dalam lagi. Jadi, tentu saja percobaan manipulasi saat mengerjakan akan menghasilkan jawaban yang kontras dan tidak konsisten.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, mencari kisi-kisi atau kunci jawaban, menurut saya, sangat tidak diperlukan. Sebab, para HRD ingin jawaban yang asli\u2014agar bisa mengetahui gambaran diri para pelamar kerja\u2014bukan manipulasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagaimana fungsinya, psikotes bersifat sebagai tes pendamping untuk mengetahui gambaran tentang diri seseorang dan bukan untuk menghakimi, apalagi menjadi syarat atau hasil mutlak terhadap suatu proses yang sedang diikuti.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lucunya-bekerja-di-perusahaan-yang-pimpinannya-adalah-teman-sendiri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Lucunya Bekerja di Perusahaan yang Pimpinannya Adalah Teman Sendiri\u00a0<\/a><\/b><b>d<\/b><b>an artikel\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/setowicaksono\/\"><b>Seto Wicaksono<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Memanipulasi psikotes dalam wawancara kerja itu adalah hal yang sia-sia.<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":116620,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[4315,3623],"class_list":["post-115369","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-psikotes","tag-wawancara-kerja"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/115369","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=115369"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/115369\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/116620"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=115369"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=115369"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=115369"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}