{"id":11456,"date":"2019-08-29T12:00:57","date_gmt":"2019-08-29T05:00:57","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=11456"},"modified":"2022-01-24T13:05:40","modified_gmt":"2022-01-24T06:05:40","slug":"inilah-alasan-mengapa-mie-instan-warkop-lebih-nikmat-dari-pada-mie-instan-rumahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/inilah-alasan-mengapa-mie-instan-warkop-lebih-nikmat-dari-pada-mie-instan-rumahan\/","title":{"rendered":"Inilah Alasan Mengapa Mie Instan Warkop Lebih Nikmat Dari Pada Mie Instan Rumahan"},"content":{"rendered":"<p>Gaya hidup nongkrong ala <a href=\"https:\/\/tirto.id\/nama-bayi-di-keluarga-jawa-makin-arab-panjang-dan-rumit-coLX\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">anak kekinian<\/a> rupanya tidak hanya menjadikan kafe sebagai markas andalan untuk sekedar ngopdar atau ngemil-ngemil berat. Rupanya kini warkop pun bisa dijadikan markas nongkrong dengan gaya dan pengeluaran minimalis namun tidak meninggalkan keseruan <del>ghibah<\/del> ngopdar. Eits, jangan dikira hanya bapak-bapak yang boleh nongkrong di warung kopi yang identik dengan terminal colokan listrik, <em>free wifi<\/em>, dan asap rokok.<\/p>\n<p>Warkop yang sejak zaman jebot sudah jadi idola bapak-bapak untuk nongkrong dan menghabiskan jam malam dengan obrolan seputar sepak bola atau sesambatan terhadap kelakuan para istri. Namun, kini warkop seakan tidak ingin bidikan pasarnya hanya kaum bapak-bapak, melainkan juga membidik pasar kaum muda-mudi milenial. Iya, kaum yang banyak dighibahin itu lho.<\/p>\n<p>Keinginan itu diwujudkan dengan merekondisi warkop yang semula bernuansa khas bapak-bapak dengan tidak mengakomodinir fasilitas <em>free wifi<\/em>, kini dimana-mana jadi bermunculan gerakan sporadis warkop berembel-embel <em>free wifi<\/em>. Namanya anak muda tanggung dengan keuangan minimalis. Mereka tetap ingin merasakan khidmadnya ngopdar mumer apalagi jika warkop disponsori oleh <em>free wifi<\/em>. <em>Mashoookk ini namanya!<\/em><\/p>\n<p>Kala krisis lokal melanda isi dompet, salah satu menu andalan yang akan selalu jadi rekomendasi ter-<em>worth it<\/em> adalah mie instan. Terserah mau varian mie goreng atau mie kuah, pokoknya instan dan bisa bikin perut kenyang. Tapi pernahkah berpikir, mengapa mie instan warkop rasanya lebih <em>yahud<\/em> dibanding mie instan rumahan? Kalau pernah berusaha cari alasannya, berarti kita sama! Beberapa alasan pun muncul dalam pikiran saya.<\/p>\n<p><strong>1. Mie instan yang dimakan adalah mie instan berbayar<\/strong><\/p>\n<p>Meskipun memang untuk mendapat mie instan harus berbayar alias wajib beli, entah kenapa jika kita membeli mie instan yang benar-benar instan\u2014siap makan, kadar kemewahan mie instan akan naik beberapa derajat. Iyalah, buat semangkuk mie instan kuah aja kita bayar lho. Harganya dua kali lipat dari harga sebungkus mie instan mentah.<\/p>\n<p><em>Rego nggowo rupo<\/em> artinya harga menentukan bentuk. Bayar 7.000 rupiah untuk seporsi mie instan siap makan lebih nikmat dari pada bayar 2.500 untuk sebungkus mie instan mentah dan belum termasuk bahan-bahan pelengkap lain. \u00a0Jadi, karena mie instan yang dimakan adalah mie instan berbayar kadar micin mie instan seolah-olah langsung meningkat dan menambah kenikmatan.<\/p>\n<p><strong>2. Timbulnya perasaan <em>bossy<\/em> kita pada mas mbak warkop<\/strong><\/p>\n<p>Slogan \u201cpelanggan adalah raja\u201d bisa juga berlaku dalam bisnis perwarkopan <em>lho<\/em> sodara-sodara. Apalagi sebagai <del>pemburu wifi<\/del> pelanggan yang setia nongkrong bahkan hingga bermalam di warkop langganan, perasaan <em>bossy<\/em> itu pasti ada. Meskipun saya yakin benar jika kebanyakan para pelanggan warkop\u2014terutama anak kos yang keuangannya lagi seret, paling banter memesan menu es susu, es teh, kopi hitam, dan makanan favoritnya adalah mie instan.<\/p>\n<p>Dilayani langsung oleh mbak atau mas warkop adalah salah satu alasan mengapa rasa mie instan warkop dan bikinan rumah sangat berbeda kenikmatannya. Jika di rumah kita biasa memasak mie instan dengan tangan kita sendiri, lain halnya saat berada di warkop. Kita tinggal pesan mie instan beserta tambahan bahan yang diinginkan (nasi, cabai rawit, telur). Tunggu beberapa menit sembari nge-<em>game<\/em> atau <em>online<\/em> medsos, mie instan sudah siap di atas meja.<\/p>\n<p><strong>3. Mie instan warkop adalah mie penuh perjuangan<\/strong><\/p>\n<p>Kalian sama sekali tidak salah baca. Alasan ketiga mengapa mie instan warkop lebih nikmat dari mie instan rumahan adalah karena mie instan warkop\u2014mie penuh perjuangan. Mengapa bisa begitu? Pikirkan lagi saat kita akan menuju warkop langganan. Mengumpulkan niat, dan melawan kemageran beserta gravitasi kasur yang begitu besar. Pada akhirnya kita berjalan menuju warkop dekat jalan raya yang jaraknya tidak selemparan batu amat.<\/p>\n<p>Apalagi jika jarak warkop dari rumah atau kos mengharuskan kita untuk mengendarai motor. Kita perlu menerjang angin malam, kemacetan jalan, <del>dan hiruk pikuk para bucin<\/del>. Saat kalian sampai di warkop dan memesan mie instan, saya jamin mie instan itu akan membayar lunas perjuangan kalian. Perjuangan ini tidak akan kita rasakan ketika kita membuat mie instan rumahan dengan tangan kita sendiri. <em>Camkan!<\/em><\/p>\n<p><strong>4. Nongkrong dan makan bareng bikin suasana makan mie instan terasa lebih nikmat<\/strong><\/p>\n<p>Apapun menu makanannya, dan berapapun harganya. Tidak pandang kelas sosial, harkat, dan martabat, makan mie instan di warkop di sela-sela nongkrong bareng sohibul perjuangan memang menambah kenikmatan. Mie instan yang rasanya gitu-gitu aja, akan lebih nikmat jika ditambahkan dengan bumbu-bumbu kebersamaan.<\/p>\n<p>Bayangkan ketika kita bisa asik nongkrong sambil sesekali menyuapkan kuah hangat mie instan yang bercampur gurihnya telur dan juga pedasnya cabai rawit. Saya jamin, pembicaraan <del>ghibah<\/del> nongkrong kita akan lebih terasa nikmatnya.<\/p>\n<p>Sekarang sudah mengerti kan, alasan mengapa rasa mie instan warkop lebih nikmat dari mie instan rumahan? Tulisan ini tidak mengajak kalian buat berhedon kelas teri dengan menjajakan 7.000 terakhir kalian demi seporsi mie instan warkop yang siap makan. Tulisan ini murni untuk menjawab rasa penasaran kalian yang bertanya-tanya tentang alasan mengapa rasa mie warkop bisa sangat nikmat. Alasannya ya ini!\u00a0(*)<\/p>\n<p>BACA JUGA\u00a0<a class=\"link link--forsure\" href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menobatkan-diri-sebagai-penyuka-indomie-itu-tidak-sulit\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Menobatkan Diri Sebagai Penyuka Indomie Itu Tidak Sulit<\/a> atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/ade-vika-nanda-yuniwan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ade Vika Nanda Yuniwan<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pernahkah berpikir, mengapa mie instan warkop rasanya lebih yahud dibanding mie instan rumahan? Kalau pernah berusaha cari alasannya, berarti kita sama!<\/p>\n","protected":false},"author":208,"featured_media":11536,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[2944,2175,2942,2941,2943,2945],"class_list":["post-11456","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-aa-burjo","tag-indomie","tag-mie-instan","tag-mie-instan-warkop","tag-mie-sedap","tag-warmindo"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11456","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/208"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11456"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11456\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11536"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11456"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11456"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11456"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}