{"id":113445,"date":"2021-03-18T08:40:27","date_gmt":"2021-03-18T01:40:27","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=113445"},"modified":"2021-03-18T08:47:23","modified_gmt":"2021-03-18T01:47:23","slug":"lebih-beringas-dengan-umpatan-khas-banyumas-terminal-mulok-07","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lebih-beringas-dengan-umpatan-khas-banyumas-terminal-mulok-07\/","title":{"rendered":"Lebih Beringas dengan Umpatan Khas Banyumas. Terminal Mulok #07"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun dulu pernah berkata bahwa misuh itu sebenarnya gapapa, yang ndak boleh itu misuhi wong alias memaki-maki orang. Lha gimana, misalnya nih, pas kebagian satu hingga tiga kali apes mungkin masih mampu menyebut nama Tuhan. Tapi, kalau ndilalah berturut-turut le apes dalam waktu yang berdekatan ya tetep kudu mengumpat biar ndak edan, hehehe. Setiap daerah punya pisuhan masing-masing, termasuk pisuhan khas Banyumas yang juga beringas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai bagian dari muatan lokal, tingkat keanekaragaman umpatan menunjukkan kekayaan ekspresi dari si penutur umpatan. Semakin lengkap dan beragam umpatan yang keluar dari mulut seseorang, menandakan bahwa orang tersebut adalah manusia yang ekspresif dan mampu menyampaikan pikiran dan perasaan dengan \u201cbaik\u201c.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selayaknya istilah-istilah lokal lainnya, kata-kata yang digunakan sebagai umpatan ini juga perlu diuri-uri supaya lestari. Apalagi di Karesidenan Banyumas yang terkenal dengan ragam umpatan yang kadang sungguh membagongkan dan tidak pernah terpikirkan sama sekali oleh masyarakat non-Banyumas. Nanti akan saya berikan contoh umpatan khas Banyumas supaya relate.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal tersebut mungkin saja disebabkan karena karakter khas masyarakat Banyumas, yaitu \u201ccablaka\u201d atau \u201cthokmelong\u201d atau \u201cblakasuta\u201d. Arti cablaka kira-kira adalah suka berterus terang, apa adanya, tanpa tedeng aling-aling, atau blak-blakan gitu. Sastrawan dan budayawan dari Banyumas, Pak Ahmad Tohari, pernah menyampaikan bahwa karakter cablaka ini harus dikembangkan dalam cakupan yang lebih luas, misalnya bangsa Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, sebagai makhluk berdarah Banyumas asli yang sudah berinteraksi dengan berbagai macam manusia dengan latar belakang dan kebudayaan yang berbeda, nyatanya karakter cablaka masih nggak akan bisa hilang dari diri saya. Salah satunya ya dalam hal mengumpat, apalagi kalau sudah ketemu dengan sesama klan Banyumas. Woh itu mulutnya seperti mobil ambulance dalam keadaan darurat, ngeblong terus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam praktik mengumpat, sama seperti di daerah lain, umpatan khas warga Banyumas pun tidak hanya soal mengekspresikan perasaan negatif, tapi juga sebagai tanda keakraban. Bagi yang tidak terbiasa, perilaku penjorangan (sembarangan), glewehan (bercanda), atau ngomong brecuh (bicara ngawur) yang keluar dari mulut orang Banyumas memang terkadang terlihat berlebihan sebagai penerapan dari karakter cablaka tadi. Ditambah intonasi dialek khas Banyumas yang cenderung dikira selalu emosi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Umpatan di Banyumas biasanya sudah dimodifikasi dari pakem umpatan pada umumnya sehingga terkesan lebih beringas. Pak Ahmad Tohari dalam karyanya yang sangat terkenal, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ronggeng Dukuh Paruk<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, sering menggunakan umpatan \u201casu buntung\u201c yang lebih ekspresif karena ada dua kombinasi kata di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Umpatan \u201casu\u201c saja bagi sebagian orang sudah termasuk kasar dan menyakiti hati, lha kok ini malah ditambahi kata \u201cbuntung\u201c alias nggak punya kaki. Damage-nya bisa berlapis-lapis. Pola yang sama dapat ditemukan juga pada umpatan \u201cgudal jaran\u201c dan \u201cpejuh ngasu\u201c. Sebuah kombinasi yang dalam perspektif khalayak umum, sama-sama menjijikkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGudal\u201c dan \u201cpejuh\u201c, dalam persepsi kolektif, adalah dua hal yang sangat menjijikan dan berasal dari satu sumber yang sama, yaitu alat kelamin. Saking menjijikannya, saya sampai nggak tega mau menjelaskan apa sebenarnya arti gudal. Lah kok masih ditambahi kosakata hewan, yaitu jaran (kuda) dan ngasu (anjing). Sungguh tidak boleh dilakukan sembarangan kecuali Anda mau dikamplengi oleh lawan bicara Anda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kombinasi umpatan akan lebih dahsyat jika terdiri dari tiga kata atau lebih, misalnya \u201cgudal jaran dengklang\u201c atau \u201cpejuh ngasu buntung\u201c. Kalau Anda sudah mendengar umpatan itu, lebih baik Anda segera minta maaf dan kabur secepatnya karena hal tersebut menandakan bahwa lawan bicara Anda sedang emosi luar biasa, heuheuheu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ragam umpatan ini baiknya tidak dipandang sebagai hal yang negatif. Justru umpatan dengan kombinasi dua kata atau lebih adalah bentuk kreativitas dan kemantapan dalam mengekspresikan emosi. Artinya, orang Banyumas tidak pernah main-main untuk memberikan kesan yang tepat dalam merespons sesuatu. Umpatan khas Banyumas memang tidak seterkenal \u201cjancuk\u201d-nya orang Surabaya atau \u201cpala bapak kau\u201d-nya orang Batak. Tapi, layaklah diakui sebagai bagian dari kekhasan daerah yang unik.<\/span><\/p>\n<p><em>*Terminal Mulok adalah segmen khusus yang mengulas tentang bahasa dari berbagai daerah di Indonesia dan dibagikan dalam edisi khusus Bulan Bahasa 2021.<\/em><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: <a href=\"https:\/\/commons.wikimedia.org\/w\/index.php?search=banyumas&amp;title=Special%3ASearch&amp;go=Go&amp;ns0=1&amp;ns6=1&amp;ns12=1&amp;ns14=1&amp;ns100=1&amp;ns106=1#\/media\/File:Tradisi_Unggahan_Bonokeling.jpg\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Wikimedia Commons<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/boso-walikan-malang-tak-sekadar-dibalik-kalimatnya-terminal-mulok-06\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Boso Walikan Malang Tak Sekadar Dibalik Kalimatnya. Terminal Mulok #06<\/a>\u00a0dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/bachtiar-mutaqin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Bachtiar Mutaqin<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kombinasi umpatan khas Banyumas lebih dahsyat karena ada tiga kata atau lebih, misalnya \u201cgudal jaran dengklang\u201c atau \u201cpejuh ngasu buntung\u201c.<\/p>\n","protected":false},"author":1360,"featured_media":114136,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[3203,2858,11050,9336],"class_list":["post-113445","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bahasa-ngapak","tag-banyumas","tag-terminal-mulok","tag-umpatan"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/113445","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1360"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=113445"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/113445\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/114136"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=113445"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=113445"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=113445"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}