{"id":113440,"date":"2021-03-15T15:30:32","date_gmt":"2021-03-15T08:30:32","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=113440"},"modified":"2021-03-15T16:25:59","modified_gmt":"2021-03-15T09:25:59","slug":"cuan-cengli-cincai-dan-percakapan-encek-encek-hokkian-mix-jawa-terminal-mulok-02","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cuan-cengli-cincai-dan-percakapan-encek-encek-hokkian-mix-jawa-terminal-mulok-02\/","title":{"rendered":"Cuan, Cengli, Cincai, dan Percakapan Encek-encek Hokkian Mix Jawa. Terminal Mulok #02"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awal bulan Maret lalu, di laman Facebook Agus Mulyadi, saya menemukan sesuatu yang menarik. Dalam sebuah postingan berbahasa Indonesia dan Jawa ngoko, terselip kata \u201ccengli\u201d yang berasal dari bahasa Hokkian. Tak dapat dimungkiri, cukup banyak kosakata bahasa Hokkian yang sudah bercampur dengan bahasa Indonesia dan Jawa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Contohnya ho ping (teman baik), cuan, cincai, ceng li, kong kauw (kongkow), dan masih banyak lagi yang Anda semua pasti sudah sering dengar dan tahu artinya,.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Minnan (Min Selatan) atau Hokkian dari Tiongkok Selatan kemungkinan besar masih dapat mengenali kata-kata tersebut jika mendengarnya diucapkan oleh orang keturunan Tionghoa yang lahir di Jawa Tengah. Pasalnya, pelafalannya masih cukup orisinal, meski telah banyak terpengaruh oleh bahasa Jawa yang medok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai contoh, ceng li yang artinya logis atau masuk akal, negasinya adalah mbo ceng li atau tidak masuk akal. Sebetulnya pelafalan aslinya \u201cbo\u201d bukan \u201cmbo\u201d, namun ya begitulah, orang Jawa Tengah kan suka menambahkan bunyi \u201cm\u201d sebelum huruf \u201cb\u201d. Misalnya: mbecak nang mBantul yang artinya naik becak di mBantul, eh Bantul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepanjang pengamatan saya sebagai keturunan Tionghoa yang lahir dan tumbuh besar di Jawa Tengah, biasanya kosakata Hokkian banyak digunakan oleh bapak-bapak yang sedang melakukan kong kauw bersama sambil ngerokok dan ngopi, ngeteh, atau ngewedang ronde. Salah satu contohnya adalah bapak saya sendiri. Seingat saya, saya pertama kali mengenal kosakata Hokkian saat mendengarkan bapak ngobrol dengan teman-temannya. Mereka utamanya berbicara dalam bahasa Jawa ngoko, namun kosakata Hokkian tersebut akan muncul bilamana dibutuhkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Barangkali Anda pernah secara tidak sengaja mendengar percakapan semacam itu, namun ada beberapa kata yang tidak Anda kenal? Nggak seru dong jadinya. Berikut beberapa kosakata Hokkian yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, beserta contoh kalimatnya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Be seng hi: sungkan, rikuh<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLha kae wis limang taun dijak nangndi-nangndi. Dikenalke bapak-mbokne, kakange, mbakyune. Foto-fotone wis akeh nang Instagram. Lha kok saiki ditinggal gledak. Opo ora be seng hi karo wong tuane?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u2018Lha itu sudah lima tahun diajak kemana-mana. Dikenalkan bapak-ibunya, kakak-kakaknya. Foto-fotonya sudah banyak di Instagram. Lha kok sekarang ditinggal gitu aja. Apa nggak sungkan sama orang tuanya?\u2019<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eh, setelah dipikir-pikir, obrolan kayak gini biasanya lebih marak di kalangan ibu-ibu, sih.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2. Nggo su: bahaya, mengkhawatirkan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKowe pokoke ojo melu investasi sing mbo ceng li. Nggo su, ngerti ora. Iso ilang kabeh duitmu.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u2018Kamu pokoknya jangan ikut investasi yang tidak masuk akal. Bahaya, ngerti nggak. Bisa hilang semua uangmu.\u2019<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Be\/mbe twi: tidak sepadan atau tidak menguntungkan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSi A kae ngajak aku kongsi. Ning ra gelem bagi hasil. Aku wegah tho yo. Lha, mbe twi jhe.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u2018Si A ngajak aku kerja sama. Tapi nggak mau bagi hasil. Aku ogah dong ya. Lha, tidak sepadan\/tidak menguntungkan, kok.\u2019<\/span><\/p>\n<h4><b>#4 Bo\/mbo kam guan: tidak terima<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMbo kam guan wis, pokoke aku mbo kam guan, tenan. Sesuk meh tak unek-unekke wong e.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u2018Tidak terima, pokoknya aku tidak terima, beneran. Besok mau kumaki-maki orangnya.\u2019<\/span><\/p>\n<h4><b>#5 Ciak: makan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWis ciak durung? Ayo ciak dhisik.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u2018Sudah makan belum? Ayo makan dulu.\u2019<\/span><\/p>\n<h4><b>#6 Ciak simpwa: makan hati<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWis jian kali iki aku ciak simpwa tenan. Kapok wis, kapok.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u2018Kali ini aku makan hati beneran. Kapok deh, kapok.\u2019<\/span><\/p>\n<h4><b>#7 Kong dao: guna-guna atau santet<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAti-ati lho. Kowe iso di-kong dao. Kae dukune kuat.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u2018Hati-hati lho. Kamu bisa diguna-guna. Dia dukunnya kuat.\u2019<\/span><\/p>\n<h4><b>#8 Bo\/mbo yong: tidak ada gunanya<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWis ciak simpwa ping bola-bali, tetep wae ra keno kandani. Mbo yong wis, mbo yong.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u2018Sudah makan hati berkali-kali, tetep aja nggak bisa dinasihati. Tidak ada gunanya deh, nggak ada gunanya.\u2019<\/span><\/p>\n<h4><b>#9 Put dao: kurang ajar<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJok wani-wani koen put dao mbek wong tuomu, kualat koen!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u2018Jangan berani-berani kamu kurang ajar sama orang tuamu, kualat kamu!\u2019<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini kayaknya orang Jawa Timur yang lagi singgah di Jawa Tengah.<\/span><\/p>\n<h4><b>#10 Se kia: anak kecil<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHalah, cah loro kae isih se kia. Pedhot yo ngko lak iso golek jodo dewe-dewe. Rasah didadekake pusat perhatian terus. Gentenan merhatike sing kudeta partai wae, luwih seru!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u2018Halah, mereka berdua masih anak kecil. Putus juga nanti bisa cari jodoh sendiri-sendiri. Nggak usah dijadikan pusat perhatian terus. Gantian perhatiin yang kudeta partai aja, lebih seru!\u2019<\/span><\/p>\n<p><em>Photo by <a href=\"https:\/\/www.pexels.com\/@jimbear\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"text-decoration: underline;\">Jimmy Chan<\/span><\/a> via Pexels.com<\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/makna-kata-sa-su-pi-dan-pu-dalam-dialeg-orang-flores-terminal-mulok\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Makna Kata \u2018Sa\u2019, \u2018Su\u2019, \u2018Pi\u2019, dan \u2018Pu\u2019 dalam Dialeg Orang Flores. Terminal Mulok #01<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/santi-kurniasari-hanjoyo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Santi Kurniasari Hanjoyo<\/a><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhaimin-nurrizqy\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">\u00a0<\/a>lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cukup banyak kosa kata bahasa Hokkian yang sudah bercampur dengan bahasa Indonesia dan Jawa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari.<\/p>\n","protected":false},"author":816,"featured_media":113733,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2519,11051,725,11050],"class_list":["post-113440","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bahasa-daerah","tag-bahasa-hokkian","tag-dialek","tag-terminal-mulok"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/113440","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/816"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=113440"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/113440\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/113733"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=113440"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=113440"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=113440"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}