{"id":113126,"date":"2021-03-17T15:15:24","date_gmt":"2021-03-17T08:15:24","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=113126"},"modified":"2025-11-24T12:15:52","modified_gmt":"2025-11-24T05:15:52","slug":"boso-walikan-malang-tak-sekadar-dibalik-kalimatnya-terminal-mulok-06","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/boso-walikan-malang-tak-sekadar-dibalik-kalimatnya-terminal-mulok-06\/","title":{"rendered":"Boso Walikan Malang Tak Sekadar Dibalik Kalimatnya. Terminal Mulok #06"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi masyarakat wabilkhusus pemuda pemudi indie yang hidup dan besar di Malang, pastilah sudah mengenal boso walikan atau bahasa yang dibalik. Jikalau belum, pasti mainmu kurang jauh pulangmu kurang pagi. Boso walikan merupakan bahasa yang mana struktur huruf dalam kata-nya dibalik sehingga membentuk kata yang baru, contohnya kata \u201ckamu\u201d jika di dalam boso walikan menjadi \u201dUmak\u201d. Pembalikan katanya juga berlaku untuk bahasa Jawa seperti kata \u201csepurane\u201d menjadi \u201cenarupes\u201d. Boso walikan Malang biasanya tenar digunakan dalam tongkrongan poskamling, pasar, dan warung kopi yang turut bersaing dengan bahasa Kedirian dan Jakartaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam sejarahnya, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">boso walikan digunakan bahasa atau kode untuk menjamin kerahasiaan, efektivitas, dan komunikasi kepada sesama pejuang. Sekaligus untuk mengidentifikasi mana lawan atau kawan. Pada Maret 1949, Belanda banyak mengirim mata-mata ke dalam kelompok pejuang. Mata-mata belanda merupakan pribumi yang menguasai bahasa daerah sehingga mudah mendapatkan informasi dari kalangan pejuang arek Malang yang tergabung dalam Gerilya Rayat Kota (GRK). Sehingga berpotensi informasi bocor ke pihak Belanda, jika berkomunikasi dalam bahasa Jawa<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama 23 tahun hidup di Malang, ternyata nggak semua kata itu bisa dibalik seenak jidat dalam boso walikan. Pembalikan katanya dari yang saya amati itu disesuaikan dengan pengucapanya agar lebih mudah. Kata \u201cmenang\u201d dalam boso walikan menjadi \u201cnganem\u201d bukan \u201cgnanem\u201d, hal ini dikarenakan \u201cnganem\u201d\u00a0 lebih mudah pengucapannya. Namun, tidak cukup sampai situ mengenai struktur kata dari bahasa tersebut, mari kenali lebih\u00a0 dalam dalam penjabaran berikut:<\/span><\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify; background: white; margin: 0cm 0cm 19.5pt 0cm;\"><b><span style=\"color: #222222;\">Pembalikan sempurna<\/span><\/b><\/h2>\n<p>Boso walikan Malang yang memiliki pembalikan sempurna memilki struktur yang seluruh hurufnya dalam dalam kata dibalik semuanya. Strukturnya yakni kata-kata yang awalannya memiliki struktur \u00a0K<sub>1<\/sub>V<sub>1\u00ad\u00ad\u00ad<\/sub>K<sub>2<\/sub>V<sub>2<\/sub>K<sub>3 <\/sub>berubah menjadi K<sub>3<\/sub>V<sub>2\u00ad\u00ad<\/sub>K<sub>2<\/sub>V<sub>1<\/sub>K<sub>1<\/sub>. Contoh kata yang menggunakan kata ini adalah kata dalam Jawa \u201dbudal\u201d atau dalam bahasa Indonesia berarti \u201cberangkat\u201d berubah menjadi \u201cladub\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify; background: white; margin: 0cm 0cm 19.5pt 0cm;\"><em><span style=\"color: #222222;\">(Keterangan K: Konsonan V: Vokal)<\/span><\/em><\/p>\n<p>Jika dibuat dalam contoh kalimat yakni <strong>Kamu <\/strong>wis <strong>budal <\/strong>durung (kamu sudah berangkat belum ) menjadi \u201c<strong>Umak<\/strong> wis <strong>ladub<\/strong> durung?<\/p>\n<p>Pembalikan sempurna ini banyak dipakai untuk kata kata dalam bahasa Jawa. Contohnya yakni, kabeh (Banyak) menjadi hebak, manuk (burung) menjadi Kunam, dewe (sendiri) menjadi ewed, dan masih banyak contoh lain.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify; background: white; margin: 0cm 0cm 19.5pt 0cm;\"><b><span style=\"color: #222222;\">Pembalikan semi sempurna<\/span><\/b><\/h2>\n<p>Pembalikan semi sempurna ini di mana di dalam kata yang sebagian hurufnya tidak dibalik. Struktur suku kata dalam pembalikan semi sempurnya ini yakni kata yang memiliki struktur K<sub>1<\/sub>V<sub>1\u00ad\u00ad\u00ad<\/sub>K<sub>2<\/sub>V<sub>2<\/sub> <strong>K<sub>3<\/sub> K<sub>4<\/sub><\/strong> berubah menjadi <strong>K<sub>3<\/sub>K<sub>4<\/sub><\/strong><sub>\u00ad\u00ad\u00ad<\/sub>V<sub>2<\/sub>K<sub>2<\/sub> V<sub>1<\/sub> K<sub>1<strong>. <\/strong><\/sub>Dalam struktur tersebut katanya tetap dibalik, namun dua huruf dengan suku kata <strong>K<sub>3<\/sub> <\/strong>dan<strong> K<sub>4 <\/sub><\/strong>tidak dibalik. Contoh kata yang menggunakan struktur ini adalah kata \u201cMalang\u201d menjadi \u201cNgalam\u201d.<\/p>\n<p>Kebanyakan kata kata yang memakai struktur seperti ini adalah kata kata yang di akhir katanya terdapat huruf \u201cng\u201d. Contoh yakni kering menjadi ngirek, lanang (laki-laki ) menjadi nganal. Eits jangan disalahartikan ya. Ada lagi nih kata sembarang berubah menjadi ngarambes. Kata kata yang menggunakan struktur ini jika dibuat kalimat contohnya yakni \u201corep ndek Malang gak iso sembarangan (hidup di Malang tidak bisa sembarangan)\u201d, jika dibuat boso walikan menjadi \u201corep ndek ngalam gak iso ngarambes\u201d.<\/p>\n<h2><b><span style=\"color: #222222;\">Kata yang mendapat imbuhan, hanya dibalik katanya saja<\/span><\/b><\/h2>\n<p>Aturan ini sebenarnya sederhana, di mana kata yang mendapat imbuhan di-, dan \u2013an, yang dibalik hanya katanya saja, imbuhanya tetap. Struktur katanya yakni di- K<sub>1<\/sub>V<sub>1\u00ad\u00ad\u00ad<\/sub>K<sub>2<\/sub>V<sub>2<\/sub>K<sub>3 <\/sub>berubah menjadi di-K<sub>3<\/sub>V<sub>2\u00ad\u00ad<\/sub>K<sub>2<\/sub>V<sub>1<\/sub>K<sub>1, <\/sub>Hal yang sama juga berlaku untuk imbuhan \u2013e dan \u2013an. Contohnya yakni \u201cdisikat\u201d menjadi \u201cditakis\u201d, dan \u201cmenangan\u201d menjadi \u201cnganeman\u201d.<\/p>\n<p>Penggunaan bahasa walikan dengan struktur ini khususnya untuk yang menggunakan imbuhan di- biasanya dipakai untuk beberapa kata kerja, baik dalam bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia. Sedangkan untuk yang menggunakan kata imbuhan \u2013an biasanya digunakan untuk penekanan kata sifat.<\/p>\n<p>Pada intinya boso walikan Malang tidak ada aturan yang benar benar baku layaknya bahasa Indonesia, karena boso walikan Malang sudah menjadi kultur yang mendarah daging. Pada boso walikan Malang prinsipnya di mana <strong>kata yang dibalik harus dapat diucapkan lebih mudah. <\/strong>Ayo Nalod ning Ngalam, ben gak ning hamur tok wae!<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rekomendasi-wisata-nol-rupiah-di-kota-malang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Rekomendasi Wisata Nol Rupiah di Kota Malang<\/a>\u00a0dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/wikan-agung-nugroho\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Wikan Agung Nugroho<\/a><\/strong><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0<i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagi masyarakat wabilkhusus pemuda pemudi indie yang hidup dan besar di Malang, pastilah sudah mengenal boso walikan Malang.<\/p>\n","protected":false},"author":1405,"featured_media":114139,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[6,8],"tags":[7663,985],"class_list":["post-113126","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-featured","tag-boso-walikan","tag-malang"],"modified_by":"Anggi Thoat Ariyanto","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/113126","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1405"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=113126"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/113126\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/114139"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=113126"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=113126"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=113126"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}