{"id":113000,"date":"2021-03-19T06:45:10","date_gmt":"2021-03-18T23:45:10","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=113000"},"modified":"2021-03-18T16:38:07","modified_gmt":"2021-03-18T09:38:07","slug":"wong-serang-banten-tanpa-geh-bagai-dunia-maya-tanpa-terminal-mojok-nggak-lengkap-terminal-mulok-09","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wong-serang-banten-tanpa-geh-bagai-dunia-maya-tanpa-terminal-mojok-nggak-lengkap-terminal-mulok-09\/","title":{"rendered":"Wong Serang Banten Tanpa &#8216;Geh&#8217; Bagai Dunia Maya Tanpa Terminal Mojok, Nggak Lengkap! Terminal Mulok #09\u00a0"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ngomong-ngomong soal bahasa daerah, bagi saya sebagai orang yang lahir di ibu kota Provinsi Banten, Kota Serang, sangatlah absurd. Kenapa? Karena bahasa daerah di kota kecil ini banyak sekali ragamnya. Sebut saja di kampung kelahiran saya, Karangantu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat saya masih duduk di bangku SD, Banten masih menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat yang membuat saya harus bin kudu mempelajari bahasa Sunda sebagai muatan lokalnya. Tapi anehnya, bahasa Sunda yang saya pelajari di sekolah begitu asing dengan bahasa Sunda yang saya gunakan sehari-hari bersama Emak, Abah, Teteh, dan Aa saya. Saya nggak begitu paham apa yang dibicarakan oleh guru saya di kelas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya begini, di rumah saya menggunakan kata <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;dahar&#8221;<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk makan, tapi di sekolah, guru saya menggunakan kata &#8220;tuang&#8221; <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">yang membuat otak saya mengimajinasikan iklan susu hingga tetes terakhir. Alhasil, nilai bahasa Sunda saya, yang oleh teman-teman dilabeli \u201corang Sunda\u201d, nggak jauh lebih baik dari teman-teman saya yang bertutur dengan bahasa daerah berbeda.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, ini juga hal absurd lainnya: saya berbicara dalam bahasa Sunda \u201cala keluarga\u201d (disclaimer: tidak untuk dibandingkan dengan Sunda Parahyangan (Bandung, Tasik, Majalengka, dan sekitarnya), apalagi untuk diperdebatkan) dengan keluarga saya, tapi saya harus melakukan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">language switch<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> lebih dahulu saat hendak bermain dengan anak-anak tetangga karena mereka menggunakan bahasa Jawa yang sekarang marak disebut Jawa Serang (Jaseng).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kecil saat itu benar-benar nggak habis pikir, mengapa di sekolah kami diwajibkan mempelajari bahasa Sunda, sementara bahasa yang digunakan di lingkungan sekitar adalah bahasa Jawa Serang? Sayangnya, alih-alih terjawab, keheranan saya malah bertambah runyam seperti hubungan agama dan negara versi manusia, lantaran begitu heterogennya bahasa daerah yang sampai di telinga saya dalam keseharian di kampung yang nggak luas itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tinggal di daerah paling timur Kota Serang yang berbatasan dengan Teluk Banten. Selain para pribumi yang lahir, besar, dan tinggal di sana, yang merupakan penutur bahasa Jawa Serang versi pasar berkonotasi kelas rendah dan kasar, juga masih ada para priayi keturunan Sultan bergelar Tubagus atau Entus (untuk laki-laki) dan Ratu (untuk perempuan) yang menuturkan bahasa Jawa Banten yang dianggap lebih halus dan beretika.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain kedua kelompok berbahasa Jawa ini, ada juga para pendatang di sepanjang pesisir Teluk Banten yang berbahasa Bugis, sehingga perkampungan mereka dinamai kampung Bugis. Kelompok terakhir ini masih menuturkan bahasa mereka sendiri di antara para warga. Namun sebagian sudah dapat bertutur dalam bahasa Jawa Serang, atau setidaknya memahami, meskipun tetap dengan aksen Bugis mereka yang kental seperti bunyi <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ng<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> pada tiap kata berakhiran <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">-n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Misalnya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">saya pergi ke Banten<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> jadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">saya pergi ke Banteng.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari semua ke-absurd-an tersebut, ada hal yang menarik. Lamat-lamat saya amati bagaimana orang-orang di kota saya bertutur. Entah pribumi, priayi, atau pendatang yang membawa dialek masing-masing, ketika mereka sudah mulai menyerap suara-suara manusia di sekitar mereka, muncul satu kesamaan dalam sebuah partikel kalimat yang kecil namun sangat khas, yaitu partikel <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;geh&#8221;<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Partikel <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;geh&#8221; <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ini sangat umum didengar dalam pembicaraan orang-orang di daerah saya. Berikut beberapa contoh penggunaan partikel &#8220;geh&#8221;:<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Lo jangan gitu geh! <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Orang Serang saat berpacaran dengan orang luar Serang)<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ulah kitu geh! <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Orang Serang berlatar keluarga berbahasa Sunda yang berasal dari Pandeglang atau Tangerang)<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Napik mengkoten geh! <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Orang Serang priayi berbicara dengan orang tua mereka)<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Aje mengkonon geh! <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Orang Serang kebanyakan tersebar di setiap inci kota termasuk saya)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Huruf &#8220;<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">e&#8221; <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">pada contoh partikel &#8220;<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">geh&#8221; <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">nomor 1 dan 2 berbunyi seperti e pada kata <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">boleh. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan &#8220;e&#8221;<\/span><i> <\/i><span style=\"font-weight: 400;\">pada contoh partikel &#8220;<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">geh&#8221; <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">nomor 3 dan 4 berbunyi seperti e pada kata <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">mekar.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Partikel <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;geh&#8221; <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ini hampir tidak memiliki fungsi dan makna dalam kalimat, dan mungkin dapat dipadankan dengan partikel &#8220;<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">sih&#8221; <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">atau &#8220;<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">dong&#8221;<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Meski demikian, partikel ini berfungsi luar biasa dalam kebudayaan, yaitu sebagai identitas dan keunikan. Jadi, jika ada orang Serang meng-ghosting partikel <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;geh&#8221; <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">dalam kesehariannya, maka sudah pasti dia belum pernah membaca <em>Terminal Mulok<\/em> di <em>Mojok<\/em> dan merayakan keriaan serta bangga bertutur dengan bahasa daerah dengan segala kekhasannya.<\/span><\/p>\n<p><em>*Terminal Mulok adalah segmen khusus yang mengulas tentang bahasa dari berbagai daerah di Indonesia dan dibagikan dalam edisi khusus Bulan Bahasa 2021.<\/em><\/p>\n<p><em>Sumber Gambar: YouTube <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=H_KngePzjAY\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Vlognya Ipang<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA<\/strong><strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pantai-gopek-mutiara-yang-tersembunyi-di-banten\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Pantai Gopek, Mutiara yang Tersembunyi di Banten<\/a>.<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>di sini.<\/em><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Aje mengkonon geh!<\/p>\n","protected":false},"author":1464,"featured_media":114185,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[11064,6217,11050],"class_list":["post-113000","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bahasa-jawa-serang","tag-banten","tag-terminal-mulok"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/113000","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1464"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=113000"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/113000\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/114185"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=113000"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=113000"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=113000"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}