{"id":112994,"date":"2021-03-21T13:10:23","date_gmt":"2021-03-21T06:10:23","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=112994"},"modified":"2021-03-21T13:13:16","modified_gmt":"2021-03-21T06:13:16","slug":"perseteruan-antara-mertua-ngapak-dan-mantu-suroboyoan-terminal-mulok-15","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perseteruan-antara-mertua-ngapak-dan-mantu-suroboyoan-terminal-mulok-15\/","title":{"rendered":"Perseteruan antara Mertua Ngapak dan Mantu Suroboyoan. Terminal Mulok #15"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai seorang perantau sejati saya selalu berusaha menyesuaikan lidah saya dengan bahasa di mana pun tempat saya tinggal. Bukan buat gaya-gayaan tapi bagi saya menguasai bahasa setempat akan lebih memudahkan urusan di kota tempat saya tinggal. Misal saat dulu selama sepuluh tahun saya merantau dan tinggal di Jakarta, saya cukup menguasai bahasa Betawi. Sedangkan sekarang saya tinggal dan menetap di Surabaya, lidah saya sudah otomatis menyesuaikan diri dengan dialek Suroboyoan, yang sangat jauh berbeda dengan bahasa ibu saya yaitu ngapak Banyumasan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang tua saya berasal dari Jawa Tengah bagian barat, bapak dari Kebumen sedangkan ibu dari Purwokerto sehingga tak pelak bahasa asli saya adalah ngapak. Bahasa ngapak sangat mudah dikenali dengan dialek yang biasanya ditandai dengan akhiran bunyi \u201ca\u201d seperti kata tanya \u201ciya\u201d dibaca sesuai bunyi hurufnya. Cara mengungkapkan sesuatu terdengar lucu, disertai tekanan dan intonasi yang cepat dan cenderung naik seperti sedang emosi padahal sebenarnya tidak. Tidak heran itulah mengapa bahasa ngapak sering dijadikan sebagai bahan lawakan seperti yang dilakukan oleh pelawak Parto Patrio dan Cici Tegal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDianggap lucu\u201d ini juga menimpa saya. Sebab, ketika saya mencoba berkomunikasi dengan suami yang asli Surabaya menggunakan dialek ngapak, bukannya menjawab, suami saya justru tertawa terpingkal-pingkal. Saya seperti sedang melakukan pertunjukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">standup<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">comedy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan tujuan berkomunikasi tidak tercapai. Yawes lah akhirnya saya \u201cmengalah\u201d dalam berkomunikasi, menyesuaikan dengan lidah suami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lain halnya dengan ibu saya yang memilih untuk tinggal bersama saya di Surabaya. Jika orang Surabaya mengira saya adalah warga asli Surabaya karena dianggap lekoh Suroboyoan, itu tidak terjadi dengan ibu saya. <\/span><b>Pertama<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, ibu tetap \u201csetia\u201d dengan ngapaknya, walaupun sudah delapan tahun tinggal di Surabaya. Yang <\/span><b>kedua<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, ibu masih sering salah terima dengan perbedaan arti kosakata homonim (kata yang sama lafal dan ejaannya, tetapi memiliki arti atau nilai yang berbeda) di antara ngapak dan Suroboyoan. Beberapa kosakata berikut sering memicu \u201cperseteruan antara mantu dan mertua\u201d.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Sampeyan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata ganti \u201csampeyan\u201d dalam dialek Suroboyoan dianggap cukup sopan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua. Tapi, saat suami menyebut ibu dengan panggilan sampeyan, dahi beliau berkerut menampakkan kejanggalan dengan panggilan itu. Walaupun sehari-hari ibu memakai bahasa ngoko ngapak, tapi beliau terbiasa menggunakan bahasa kromo kepada orang yang lebih tua atau dihormati. \u201cBukan sampeyan, tapi panjenengan,\u201d kata ibu menasihati. Untuk menengahi, saya dan suami sepakat menggantinya dengan kata \u201csampeyan\u201d dengan sebutan \u201cibu\u201d. Biar aman. Daripada rebutan sebutan mana yang lebih sopan sampeyan atau panjenengan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tepok jidat deh.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Mari<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMari\u201d memiliki arti sembuh dari suatu penyakit menurut ngapak. Sedangkan dalam Suroboyoan \u201cmari\u201d berarti sudah selesai melakukan sesuatu. Pernah suatu hari suami tanya ke saya, \u201dAwakmu wes mari, Mah?\u201d (Apa kamu sudah selesai) yang merujuk pada pekerjaan saya di kantor saya kala itu. Ibu yang kebetulan lewat tiba-tiba menimpali, \u201dKowe mriang apa Rin?\u201d (Kamu sakit ya, Rin?).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak nyambung blas!<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Waras<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan kata yang memiliki arti sehat atau sembuh dari suatu penyakit menurut Suroboyoan adalah kata \u201cwaras\u201d. Namun, sebaliknya, ternyata kata \u201cwaras\u201d ini punya arti yang lain lagi dalam ngapak yaitu kemampuan berpikir normal alias tidak gila. Pernah suatu kali ibu saya nyeletuk, \u201dSi X pancen ora waras.\u201d (Si X memang gila), suami tanya ke saya, \u201dSi X iki loro opo Mah?\u201d (Si X ini sakit apa?).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hadeeeh.<\/span><\/p>\n<h4><b>#4 Luwe<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Luwe artinya lapar. Saat suami bilang, \u201cAku luwe\u201d, adalah sinyal untuk saya harus segera menata meja makan. Tanpa dia sadari, ibu yang ikut membantu di dapur bisik-bisik, \u201dLuwe kan kewan sikile akeh, ya medeni nek dipangan.\u201d (Luwe kan binatang yang kakinya banyak, kan serem kalo dimakan). Dalam kamus ibu, luwe berarti hewan kaki seribu yang hiyyy itu!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wqwqwq.<\/span><\/p>\n<h4><b>#5 Iwak<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah<\/span><b>! <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Kata ini lah yang menurut saya menjadi puncak \u201cperseteruan mertua ngapak versus mantu Suroboyoan\u201d. Kenapa puncak? Sebab, kali ini saya memilih berada di kubu ibu saya. Saya sepaham dengan ibu terhadap penggunaan kata \u201ciwak\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIwak\u201d dalam bahasa Indonesia berarti ikan. Yaitu sejenis makhluk yang hidup di dalam air dengan cara berenang menggunakan sirip. Tapi, menurut Suroboyoan, kata ini merujuk pada kata lauk pauk, pelengkap makan nasi. Tak hanya berupa ikan, tempe, tahu, telur, bahkan kerupuk termasuk kategori iwak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaiki iwak e opo?\u201d tanya suami (Sekarang lauknya apa?)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGak onok iwak, onone mendoan,\u201d jawab saya iseng. (Nggak ada \u201cikan\u201d adanya tempe mendoan.)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHalah, Mah, mendoan lak iwak seh,\u201d sambung suami lagi. (Halah, Mah, mendoan kan termasuk lauk juga.)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di lain waktu saat suami tidak ada di rumah, ternyata ibu saya yang mendengar percakapan itu ngrasani suami, \u201cKit kapan sing jenenge tempe (mendoan) isa nglangi!\u201d (Sejak kapan tempe mendoan bisa berenang!)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Auto ngakak saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan masih banyak kata-kata lain yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu karena saking banyaknya. \u201cPerseteruan antara mertua dan mantu\u201d versi saya ini memang nggak seseram kisah ratu Elizabeth II kepada Meghan Markle kok. Kami bertiga sama-sama sadar memang tidak semua orang mudah untuk menyesuaikan diri dengan bahasa lain yang bukan bahasa ibu. Kelucuan-kelucuan yang menghibur itu timbul, justru karena adanya perbedaan ragam bahasa di antara kita.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/makna-kata-sa-su-pi-dan-pu-dalam-dialeg-orang-flores-terminal-mulok\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Makna Kata \u2018Sa\u2019, \u2018Su\u2019, \u2018Pi\u2019, dan \u2018Pu\u2019 dalam Dialeg Orang Flores. Terminal Mulok #01 <\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/rina-purwaningsih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Rina Purwaningsih<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<a href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282136338016&amp;text&amp;app_absent=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>di sini.<\/em><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banyak kata-kata yang sama, tapi artinya berbeda dan cenderung mengundang kesalahpahaman. Memang benar ngapak dan Suroboyoan itu beda jauh.<\/p>\n","protected":false},"author":1341,"featured_media":114374,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[8370,724,11050],"class_list":["post-112994","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-mertua","tag-ngapak","tag-terminal-mulok"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/112994","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1341"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=112994"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/112994\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/114374"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=112994"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=112994"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=112994"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}