{"id":112694,"date":"2021-03-10T12:06:40","date_gmt":"2021-03-10T05:06:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=112694"},"modified":"2021-08-29T22:10:58","modified_gmt":"2021-08-29T15:10:58","slug":"ngapain-sih-orang-indonesia-berharap-terwakili-sama-film-raya-and-the-last-dragon","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ngapain-sih-orang-indonesia-berharap-terwakili-sama-film-raya-and-the-last-dragon\/","title":{"rendered":"Ngapain sih Orang Indonesia Berharap Terwakili Sama Film &#8216;Raya And The Last Dragon&#8217;?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walt Disney mengeluarkan film animasi terbarunya yang berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Raya and The Last Dragon<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Alasan kenapa film ini punya modal bagus menarik atensi penonton Indonesia adalah karena film putri Disney kali ini mengambil elemen beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Yup, film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Raya and The Last Dragon<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah film Disney pertama yang mengambil inspirasi dari budaya Asia Tenggara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya melihat, akhir-akhir ini dunia perfilman di Amerika Serikat tengah sangat akrab dengan istilah-istilah seperti representasi dan diversity<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Raya and The Last Dragon <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">adalah salah satu bentuk upaya hal itu, hal yang sebenarnya sudah sejak lama Walt Disney coba lakukan, contohnya film Mulan. Perihal tema representasi dan diversity ini memang patut\u00a0 diapresiasi sebagai bentuk mewakili kelompok masyarakat yang selama ini terpinggirkan. Tapi, memang di beberapa eksekusinya, tidak semuanya saya setuju. Salah satu hal yang saya soroti mengenai keanehan upaya mengkampanyekan representasi ini adalah, bagaimana orang-orang memposisikan dan secara tidak langsung mengamini bahwa industri perfilman Amerika berhak mewakili apa pun yang ada di belahan dunia manapun. Mentang-mentang negara adidaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mencoba lebih memahami maksud awal kampanye agenda representasi, saya pikir memang hal yang baik untuk menghadirkan kisah atau karakter yang mewakili sekelompok tertentu dengan gambaran yang tidak terbatas pada stereotip usang. Warga Afrika-Amerika, warga Asia-Amerika, atau representasi gender tertentu mendapatkan representasi dalam film-film Hollywood adalah hal yang baik karena kita bisa mengulik cerita dari keresahan-keresahan yang lebih spesifik. Hal ini menjadi penanda bahwa cerita kelompok tertentu diakui setidaknya dalam dunia sinema Hollywood. Tapi, bagiku hal ini cukuplah hanya berlaku bagi orang-orang yang tinggal di lingkungan Amerika, berlaku bagi orang-orang yang memang diwakilinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Raya and The Last Dragon<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini, saya pikir tak masalah jika konsep awalnya adalah untuk menyenangkan para keturunan Asia Tenggara di Amerika. Untuk membuat mereka bernostalgia, mengenal akar budaya mereka, atau untuk melihat budayanya jadi bagian pop culture tempat domisilinya. Tapi, akan aneh rasanya kalau yang menuntut representasi ini datang dari warga global, termasuk Indonesia. Atau yang lebih aneh lagi, jika Walt Disney memang bertujuan membuat film ini menjadi representasi orang-orang yang memang berada di Asia Tenggara? Lah koe sopo? Eh, pantes nggak sih saya ngomong gini ke Disney? Kok aneh, Wkwk, lah aku sopo?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Raya and The Last Dragon<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, referensi budaya Asia Tenggara yang dicomot adalah gado-gado, campur aduk. Bukan cuma budaya Indonesia di mana kita mungkin akan melihat rumah adat Indonesia, gerakan silat, tokoh karakter berkulit sawo matang, dan semacamnya.Tapi selain itu, kita juga akan melihat elemen-elemen budaya dari negara Asia Tenggara lainnya. Dengan kata lain, film ini akan bertindak seolah-olah semua budaya Asia Tenggara dapat dipertukarkan satu sama lain atau diseragamkan. Jadi, kalau bicara soal mewakili, ya tidak seratus persen mewakili Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, seharusnya itu tidak mengganggu kita. Ngapain sih menuntut negara lain menulis cerita yang bisa mewakili kita? Kalau mau menonton sesuatu yang bisa mewakili orang Indonesia, seharusnya bisa sih berharap ke film Indonesia. Maksudnya, siapa lagi yang mau mengangkat\u00a0 keresahan-keresahan masyarakat kita kalau bukan film dari negara sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal inilah yang seharusnya masyarakat global tuntut dari penonton film di Amerika, atau mungkin industrinya. Ketimbang memaksakan representasi menulis cerita kultur lain, padahal para kreatornya tidak menguasai kultur tersebut, bukankah lebih baik memberikan kesempatan film dari kultur tersebut untuk unjuk gigi. Misalnya, saya tidak ambil pusing dan peduli bagaimana Walt Disney mengeksekusi film Mulan, di mana mereka mencoba membuat film dari kultur budaya di belahan dunia yang lain, terlepas entah target audience utamanya untuk warga Amerika, China, atau global. Tapi, saya akan sangat mengapresiasi film macam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Crazy Rich Asian<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di mana komunitas Asian-American membuat film yang dekat dengan kultur mereka. Atau bagaimana film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Parasite<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> begitu diapresiasi dan mendapatkan penghargaan Oscar. Maksudnya, kalau mau tahu cerita mengenai kultur budaya serta keresahan belahan dunia yang lain, ya tontonlah film-film di mana mereka berasal. Beri kesempatan dan aksesnya. Saya pikir itu adalah salah satu bentuk ideal dari konsep representasi dan diversity.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara untuk film seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Raya and The Last Dragon<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, ya ini film untuk menghibur kita semua. Hal yang patut disyukuri dari hadirnya film ini adalah, bahwa beberapa elemen budaya Indonesia punya peluang menjadi bagian pop culture di Hollywood, seperti ninja dari Jepang atau kungfu dari China. Sisanya, saya pikir film-film Hollywood tidak punya kewajiban atau tanggung jawab untuk membuat referensi yang detail tentang masyarakat di belahan dunia yang lain dengan dalih mewakili. Salah yang nonton, kok ngarep sama yang bukan sumbernya<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: YouTube <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=OPvp0LL8uxc\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Delineare Story<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/konsep-multiverse-di-marvel-cinematic-universe-hanyalah-hoax\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Konsep Multiverse di Marvel Cinematic Universe Hanyalah Hoax <\/a><\/strong><strong>dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-sabilurrosyad\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Muhammad Sabilurrosyad<\/a> lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<a href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282136338016&amp;text&amp;app_absent=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>di sini.<\/em><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Raya and The Last Dragon adalah film Disney pertama yang mengambil inspirasi dari budaya Asia Tenggara<\/p>\n","protected":false},"author":1449,"featured_media":112696,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13081],"tags":[],"class_list":["post-112694","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-film"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/112694","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1449"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=112694"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/112694\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/112696"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=112694"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=112694"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=112694"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}