{"id":112624,"date":"2021-03-15T07:25:07","date_gmt":"2021-03-15T00:25:07","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=112624"},"modified":"2021-03-15T10:56:02","modified_gmt":"2021-03-15T03:56:02","slug":"makna-kata-sa-su-pi-dan-pu-dalam-dialeg-orang-flores-terminal-mulok","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/makna-kata-sa-su-pi-dan-pu-dalam-dialeg-orang-flores-terminal-mulok\/","title":{"rendered":"Makna Kata \u2018Sa\u2019, \u2018Su\u2019, \u2018Pi\u2019, dan \u2018Pu\u2019 dalam Dialeg Orang Flores. Terminal Mulok #01"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan cuma letak pulau Flores yang bikin orang-orang bingung seperti tulisan saya sebelumnya tetapi beberapa kata baku dalam Bahasa Indonesia yang sebenarnya sudah baik tetapi malah pengucapan disingkat oleh orang Flores juga membuat bingung banyak orang dan hanya kami sendiri sesama \u201cTimur\u201d yang paham jika saling berbicara atau sekedar berbasa-basi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pulau Flores memiliki 8 Kabupaten\/Kota dan setiap kabupaten memiliki bahasa daerah yang berbeda-beda. Akan sangat sulit jika satu orang Flores menguasai 8 bahasa daerah yang ada. Jika ada orang Flores yang menguasai 8 daerah yang ada, pasti orangnya nomaden ke seluruh daratan Flores.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap daerah punya beberapa bahasa yang unik dan menjadi ciri khas daerahnya masing-masing, seperti \u201cole\u201d dari Manggarai, \u201cwala\u201d dari Bajawa, atau \u201cngero\u201d dari Ende. Tiga kata unik tersebut bisa dikatakan memiliki makna yang sama, salah satunya untuk menunjukkan suatu reaksi. Contohnya seperti ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Manggarai: \u201cOle, itu enu (perempuan) cantik ee.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bajawa: \u201cWala, itu ana fai (perempuan) cantik eee.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ende: \u201cNgero, itu nona (perempuan) cantik eee.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tiga kata tersebut yakni \u201cOle\u201d, \u201cWala\u201d, dan \u201cNgero\u201d, sama-sama memiliki makna untuk menunjukkan kekaguman terhadap kecantikan seorang perempuan. Namun, pengucapannya berbeda setiap daerah sesuai dengan logat masing-masing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlepas dari setiap bahasa daerah di Flores yang berbeda-beda, semua bahasa daerah tersebut akan terhubung dengan beberapa kata yang secara arti dan pengucapannya sama, tapi sering disingkat dari kata aslinya. Misalnya, kata-kata berikut ini, \u201csaya\u201d atau \u201csaja\u201d disingkat \u201csa\u201d; \u201csudah\u201d disingkat \u201csu\u201d; \u201cpergi\u201d disingkat \u201cpi\u201d; atau \u201cdengan\u201d disingkat \u201cdeng\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berikut cara penggunaan dari kata-kata tersebut.<\/span><\/p>\n<h4>#1 Mengenal kata \u201csa\u201d<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata \u201csa\u201d bisa berfungsi untuk menunjukkan kata \u201csaya\u201d dan untuk kata \u201csaja\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh: \u201cSa masih kenyang.\u201d Artinya, \u201cSaya masih kenyang.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Demikian halnya dengan kata \u201csaja\u201d yang biasa disingkat menjadi \u201csa.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh: \u201cBeli rokok cukup dua batang sa.\u201d Artinya, \u201cBeli rokok cukup dua batang saja.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi orang Flores, penggunaan kata \u201csa\u201d bisa berfungsi untuk menunjukan diri sendiri (saya) dan bisa menunjukkan kata \u201csaja\u201d tergantung situasi yang tepat kapan bisa digunakan.<\/span><\/p>\n<h4>#2 Mengenal kata \u201csu\u201d<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika orang Jawa sering menyingkat kata \u201casu\u201d menjadi \u201csu\u201d dengan penuh penekanan untuk misuh atau menunjukkan ekspresi kekesalan, berbeda dengan orang Flores.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh: \u201cSu sampai rumah.\u201d Artinya, \u201cSudah sampai rumah.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kalau teman-teman ke Flores dan mendengar kata \u201csu\u201d itu bukan misuh, ya, tapi ini memiliki arti \u201csudah\u201d. Lagian pisuhan orang Flores berbeda dan terkesan lebih garang dalam pengucapannya, kok.<\/span><\/p>\n<h4>#3 Mengenal kata \u201cpi\u201d<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Timur pada umumnya mengganti kata \u201cpergi\u201d menjadi \u201cpigi\u201d. Berbeda dengan orang Flores yang malah memotong dan menyingkat kata \u201cpergi\u201d menjadi \u201cpi\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh: \u201cMau pi kerja dulu.\u201d Artinya, \u201cMau pergi kerja dulu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah apa yang merasuki, tetapi kata \u201cpi\u201d sebagai pengganti kata \u201cpergi\u201d sangat familiar di kuping orang Flores.<\/span><\/p>\n<h4>#4 Mengenal kata \u201cpu\u201d<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada umumnya, kata \u201cpunya\u201d akan disingkat \u201cpu\u201d oleh orang-orang Flores atau orang Timur lainnya. Kata \u201cpu\u201d bertujuan untuk menunjukkan kepemilikan akan sesuatu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh: \u201cBapa pu baju masih basah.\u201d Artinya, \u201cBapa punya baju masih basah.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan sangat membingungkan bagi orang di luar Flores jika beberapa kata yang disingkat di atas dipadukan menjadi satu kalimat seperti, \u201cSa su makan di rumah.\u201d (Saya sudah makan di rumah).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Atau mungkin contoh lain yang berpotensi bikin kalian gagal paham, jika mendengar kalimat seperti ini, \u201cSa pi pasar dulu.\u201d (Saya pergi pasar dulu). Mungkin teman-teman akan bertanya: lah ini yang mau ke pasar siapa? Saya atau sapi?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh lainnya seperti kalimat, \u201cSa pu pacar sekarang\u201d. Lah ini kenapa pacarnya mau disapu atau mau bersih-bersih pacar?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya masih banyak kata-kata yang pengucapannya disingkat sesuka hati oleh orang Flores atau Timur. Entah siapa yang mengawalinya. Mungkin pada saat itu seseorang sedang mengunyah jagung panas dalam mulutnya. Lantas, ketika ditanya oleh ibunya: apakah ia sudah pergi ke pasar? Dengan nada marah-marah. Ia dengan ketakutan dan mulutnya yang kepanasan menjawab, \u201cSa su pi pasar tadi mama.\u201d Mungkin loh, yaaa.<\/span><\/p>\n<p><em>*Terminal Mulok adalah segmen khusus yang mengulas tentang bahasa dari berbagai daerah di Indonesia dan dibagikan dalam edisi khusus Bulan Bahasa 2021.<\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menerka-alasan-warung-kopi-di-flores-sering-sepi-pengunjung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Menerka Alasan Warung Kopi di Flores Sering Sepi Pengunjung <\/a><\/strong><strong>atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/alexandros-ngala-solo-wea\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Alexandros Ngala Solo Wea<\/a>\u00a0lainnya<\/strong>.<\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pulau Flores punya 8 Kabupaten\/Kota. Setiap daerah punya bahasa khas yang berbeda. Akan sulit jika satu orang Flores menguasai kedelapannya.<\/p>\n","protected":false},"author":1300,"featured_media":113587,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[11049,1318,11050],"class_list":["post-112624","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-dialeg","tag-orang-flores","tag-terminal-mulok"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/112624","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1300"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=112624"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/112624\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/113587"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=112624"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=112624"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=112624"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}