{"id":111993,"date":"2021-03-07T12:12:55","date_gmt":"2021-03-07T05:12:55","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=111993"},"modified":"2021-12-28T16:41:23","modified_gmt":"2021-12-28T09:41:23","slug":"4-hal-yang-paling-sering-bikin-kaum-wibu-ribut","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-hal-yang-paling-sering-bikin-kaum-wibu-ribut\/","title":{"rendered":"4 Hal yang Paling Sering Bikin Kaum Wibu Ribut"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sependek pengetahuan saya, kaum wibu di Indonesia itu banyak banget. Bahkan kalau mau bikin Partai Wibu Indonesia, kayaknya bisa. Kebetulan juga, wibu di Indonesia ini hobi ribut. Dikit-dikit debat, dikit-dikit menyumpah-serapah, dikit-dikit nyinyir, dikit-dikit ngeroyok di kolom komentar. Yaaa macam warga negara Indonesia (((pada umumnya))) gitu. Berikut saya simpulkan empat hal yang paling sering bikin kaum wibu ribut. Kalau kalian nggak siap mental untuk dikeroyok, harap jauhi empat hal ini, ya.<\/span><\/p>\n<h4><b>Menghina waifu<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Unik sekaligus gobloknya, kaum wibu itu paling sering ribut sama sesama kaumnya sendiri. Jadi, orang-orang yang bukan wibu nggak perlu kaget kalau misal di suatu waktu para wibu memojokkan suatu hal, karena dari sononya sudah hobinya begitu. Wong dengan sesama wibu saja ribut, apalagi dengan yang bukan. Perkara menghina waifu ini menjadi hal yang sensitif banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, kasus menghina husbu justru jarang bermasalah sebab hampir nggak ada yang sudi menghabiskan energinya untuk menghina karakter laki-laki. Kalaupun ada, paling lapaknya sepi, wqwqwq. Kalau ada wibu yang ngomong karakter perempuan A beban, maka para penggemar karakter tersebut langsung menyanggah \u2014yang sebenarnya kelihatan seperti keroyokan\u2014 dengan teori-teori yang seolah menunjukkan bahwa karakter tersebut nggak beban.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain ngomongin beban, kalimat andalan untuk menghina waifu yang dijamin bakal bikin pelakunya dikeroyok habis-habisan adalah kalimat \u201cwaifu lu lont*\u201d. Duh, memang benar kesopanan warga kita ini under grade banget. Ya maaf saya sensor, soalnya ngebacanya nggak enak banget. Kalau sudah ketemu yang kayak begini, saya mending nggak melihat deh. Bukan karena saya sok alim. tapi karena nggak bakal ada habisnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan reaksi para wibu soal \u201ckarakter beban\u201d yang dijawab dengan teori meyakinkan, reaksi para wibu soal \u201ckarakter lont*\u201d justru dibalas dengan nyebut karakter lain yang disukai pelaku sebagai lont* juga. Udur-uduran ngono, lho.<\/span><\/p>\n<h4><b>Membandingkan dua anime<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak habis pikir sama orang-orang yang begini. Sepertinya mereka punya banyak waktu luang dan energi untuk membandingkan dua hal yang jelas beda. Ya jelas nggak bakal nyambung, wong yang dibandingkan saja beda. Baik dari segi plot, desain karakter, kru belakang layar, hingga soundtrack yang dipakai. Aneh, to? Walau aneh, masih saja ada orang yang sering melakukannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau genrenya masih sama, menurut saya pribadi tetap nggak ada gunanya juga membandingkan. Wong genre itu cakupannya luas banget. Padahal, kalau kedua animenya sama-sama menarik, ya tonton dan sukai saja keduanya. Nggak harus ditentukan mana yang paling bagus. Kalau memang ada yang paling bagus dan paling bikin excited, ya simpan saja untuk konsumsi pribadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh iya, saya lupa kalau orang Indonesia itu memang penganut motto hidup \u201ckalau bisa ribet, kenapa harus simpel?\u201d Berbeda dengan anime watcher, manga reader justru lebih sering minta rekomendasi cerita yang mirip dengan cerita yang disukainya daripada membandingkan dua cerita yang kadang malah nggak ada mirip-miripnya sama sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang kita nggak bisa mengesampingkan fakta bahwa dalam dunia perwibuan juga ada golongan-golongan tertentu. Lah, itu wibu apa BPJS? Pfffttt.<\/span><\/p>\n<h4><b>Spoiler<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pribadi adalah orang yang nggak alergi banget sama spoiler. Kalau teman saya membuat story WA cuplikan manga atau anime dan saya nggak mau lihat, ya sudah skip saja. Sesimpel itu. Tapi, ada juga wibu yang emang hobinya bikin ribet hidup dan selalu punya stok energi untuk mendebat hal nggak penting.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ada para manga\/LN\/WN reader yang dengan songongnya upload cuplikan cerita ke suatu platform media sosial, sudah pasti ada yang ngotot, \u201cWoi, jangan spoiler dong, bangsat!\u201d Ya betul, masyarakat kita memang nggak pernah ketinggalan kalimat pisuhan macam itu. Pun ada saja golongan kaum wibu yang alergi banget sama spoiler.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, kita bisa milih mau melihat apa nggak. Kita nggak bisa ngontrol apa yang orang lain lakukan, tapi kita bisa mengontrol bagaimana reaksi kita atas apa yang dilakukan orang lain, kan. Tapi, ya sudahlah, lagipula tulisan ini bukan mengusung tema self development.<\/span><\/p>\n<h4><b>Visual<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal visual memang menjadi hal yang krusial banget dalam industri anime. Saya pribadi setuju bahwa nonton anime memang lebih enak kalau visualnya bagus, supaya nggak sakit mata. Oleh karena kekrusialan tersebut, visual suatu anime juga jadi salah satu hal yang paling sering memicu keributan. Bahkan keributannya mencakup wibu tingkat dunia, nggak cuma wibu lokal saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu kita belum lupa sama hal yang baru-baru ini terjadi, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">AoT<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> musim terakhir yang banyak dihujat karena visualnya yang nggak sesuai ekspektasi penonton. Juga anime <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Cells at Work!!<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (yang kalah hype dengan anime lain) yang visualnya jomplang banget di musim ini ketimbang musim sebelumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, di antara banyaknya kritikan tersebut, kita pasti akan menemukan kalimat \u201cnonton bajakan doang berisik lu. Emang lu bisa apa bikin karya macam gini? Bikin aja nggak bisa, ngebacot doang bisa\u201d. Tanpa ia sadari bahwa dirinya juga lagi menghujat orang lain namun tetap berusaha mencegah orang lain untuk menghujat. Sungguh mulia.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/stereotip-ngehek-bagi-bapak-bapak-yang-masih-suka-nonton-anime\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Stereotip Ngehek bagi Bapak-bapak yang Masih Suka Nonton Anime <\/a><\/b><b>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/vivi-wasriani\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Vivi Wasriani<\/a><\/b><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sependek pengetahuan saya, kaum wibu di Indonesia itu banyak banget. Bahkan kalau mau bikin Partai Wibu Indonesia, kayaknya bisa.<\/p>\n","protected":false},"author":1034,"featured_media":26570,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12908],"tags":[2775,10972],"class_list":["post-111993","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-anime","tag-anime","tag-kaum-wibu"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111993","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1034"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=111993"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111993\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26570"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=111993"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=111993"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=111993"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}