{"id":1118,"date":"2019-05-28T11:15:31","date_gmt":"2019-05-28T04:15:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=1118"},"modified":"2021-10-05T13:22:53","modified_gmt":"2021-10-05T06:22:53","slug":"mau-mengkritik-tetapi-takut-dianggap-anakan-hewan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mau-mengkritik-tetapi-takut-dianggap-anakan-hewan\/","title":{"rendered":"Mau Mengkritik, Tetapi Takut Dianggap Anakan Hewan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Layaknya penulis hantu alias <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ghostwriter nggak terkenal <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">pada umumnya yang suka <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nge-blog, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">terkadang saya juga doyan mengkritik pihak-pihak tertentu di dunia politik. Namun dalam proses tersebut, saya sering dituding sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">anakan <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">hewan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana bisa? Hal ini tidak lain terjadi setelah duel \u00a0antara Bapak Joko Widodo dan Bapak Prabowo Subianto terjadi sejak tahun 2014. Saya pakai kata \u201csejak\u201d, karena sampai sekarang, pertengkaran sengit antara para pendukungnya belum usai juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pendukung Pak Joko Widodo, oleh para jari cobek di media sosial dilabeli <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cebong <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">alias anak katak. Kalau pendukung Pak Prabowo Subianto, oleh para jari ayam geprek dinamai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">kampret <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">atau anak kelelawar. \u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lho sejarahnya bagaimana? Panjang, dan memuakkan. Sepertinya saya lebih suka <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngomongin <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sejarah kenapa Anakin Skywalker jadi Darth Vader atau sejarah budak cinta Severus Snape\u2014daripada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngomongin <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">soal sejarah cebong versus kampret.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah mengkritik kedua orang tersebut. Tenang saja, kritiknya tidak pernah bawa-bawa identitas apalagi hoaks. Menurut saya, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagai warga legal di sebuah negara demokrasi yang bayar pajak, boleh <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">toh <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">saya punya pendapat dan ditulis di media sosial atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">blog?<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, saya pernah dikira kampret karena mengkritik Pak Joko Widodo dan pernah juga dikira cebong karena mengkritik Pak Prabowo Subianto. Apakah yang menuding saya adalah dua orang tersebut? Jelas bukan\u2014yang menuduh bahkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nggak <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">pernah tuh benar-benar menjadi bagian hidup kedua orang tersebut. Cuma ya, mereka doyan benar membela mati-matian salah satunya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka dari itu, dalam keadaan seperti ini, saya jadi malas mengkritik dan memuji. Soalnya, pemikiran banyak orang di tahun-tahun panas <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">yang lamanya mengalahkan durasi pernikahan Vicky Prasetyo-Angel Lelga <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ini begitu sempit. Kalau saya mengkritik Pak Joko Widodo, pastilah saya mendukung Pak Prabowo. Kalau saya mengkritik Pak Prabowo Subianto, \u00a0pastilah saya mendukung Pak Joko Widodo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terus, apa artinya demokrasi kalau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nggak <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">berisik? Apa maknanya demokrasi kalau orang selalu dituduh saat mengkritik? Kalian lihat, deh. Banyak tokoh yang dikira memihak ke A atau B karena pernah mengkritik salah satunya. Bukan sekadar dikira memihak, mereka pun mendapatkan berbagai macam intimidasi yang sangat menyakitkan hati dan buat setan sekali pun, intimidasi-intimidasi itu terlampau traumatis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka dari itu, saya tidak heran kalau ada banyak orang yang mendeklarasikan dirinya sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">golputers. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Daripada kalau memilih dikira <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nggak <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">waras dan dimaki sama kelompok tertentu dengan sebutan <em>anakan<\/em> hewan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal jadi manusia itu melelahkan\u2014apalagi jadi hewan. Dipikir <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nggak <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">capek apa, harus sekolah bertahun-tahun, mengalami proses persalinan, mengalami sunatan, dan juga <a href=\"https:\/\/mojok.co\/apk\/ulasan\/pojokan\/kenapa-kami-takut-menikah\/\">patah hati berulang kali<\/a>? Dan setelah melewati semua fase yang membuat hati berulang kali ingin mati itu\u2014tiba-tiba oleh orang lain\u2014kita dianggap <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">anakan hewan.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang jelas, saya masih sangat bingung mengapa ada banyak orang yang bisa membenci sekaligus mencintai Pak Joko Widodo dan Pak Prabowo Subianto\u2014seolah mereka punya hubungan khusus sama keduanya! Lha, punya nomor Whatsapp-nya aja <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nggak, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">kok bisa mati-matian punya perasaan\u2014kan lucu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/tirto.id\/respons-fahri-hamzah-soal-gabut-award-dari-psi-untuk-dpr-ri-dkRJ\">Dalam pikiran tergabut<\/a>\u2014saya membayangkan apa jangan-jangan, istilah cebong dan kampret itu sebenarnya diprakarsai oleh para mantan calon presiden yang sakit hati di masa lalu. Ya, bisa saja! Nyatanya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">black campaign <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">buat keduanya sama-sama tidak bermutu dan hoaksnya di luar nalar manusia. Bukankah cuma mantan pacar yang bisa seperti itu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi membayangkan kalau saya adalah mantan pacar dari salah satu calon presiden yang sakit hati a.k.a barisan sakit hati. Pertama-tama, saya akan membuat akun-akun palsu, kemudian menyebarkan aib mantan saya di masa lalu. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kurang banyak aibnya? Tenang, karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang mampu mengarang fitnah. Tinggal bilang saja kalau mantan saya itu dulu pernah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nyolong<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mendoan, menggelapkan uang kas sekolah, atau memalsukan ijazah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah itu, saya akan meyakinkan banyak orang kalau dia tidak layak dipilih. Amanat hati seorang wanita saja tidak bisa dia jaga, bagaimana dengan jantung Ibu Pertiwi? Pasti akan dikhianati! Begitulah, karena upaya balas dendam saya berasal dari hati, maka pasti hasilnya akan keren sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun sekali lagi, itu cuma khayalan. Nyatanya dan untungnya, mantan-mantan saya (belum) jadi calon presiden. Karena kalau iya, pasti salah satu pihak akan diuntungkan karena saya rela <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nggak <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dibayar buat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">bikin <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">konten <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">black campaign. uwuwuuwuwu~<\/span><\/i><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Terkadang saya juga doyan mengkritik pihak-pihak tertentu di dunia politik. Namun dalam proses tersebut, saya sering dituding sebagai anakan hewan.<\/p>\n","protected":false},"author":54,"featured_media":2406,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[629,630,18,561],"class_list":["post-1118","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-anakan-hewan","tag-cebong-dan-kampret","tag-pilpres-2019","tag-politik-indonesia"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1118","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/54"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1118"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1118\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2406"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1118"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1118"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1118"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}