{"id":111258,"date":"2021-03-10T12:03:13","date_gmt":"2021-03-10T05:03:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=111258"},"modified":"2021-03-10T11:26:09","modified_gmt":"2021-03-10T04:26:09","slug":"susahnya-punya-dosen-yang-pro-presiden-tapi-selalu-merasa-netral","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/susahnya-punya-dosen-yang-pro-presiden-tapi-selalu-merasa-netral\/","title":{"rendered":"Susahnya Punya Dosen yang Pro Presiden, tapi Selalu Merasa Netral"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tengah menempuh kuliah semester 6 saat ini di sebuah Jurusan Ilmu Pemerintahan. Belakangan ini, jurusan kami menambah nomenklatur \u201cpolitik\u201d untuk memperluas cakupan belajar. Pikir saya, jelas ini adalah hal yang sangat menarik. Saya membayangkan pembahasan diskusi yang akan semakin seru: kritis, objektif, dan open minded. Namun, realitas berbicara lain ketika dosen saya pro presiden.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa yang saya pikirkan dan bayangkan selama ini keliru. Dalam beberapa mata kuliah yang sudah dan sedang saya tempuh (kepemimpinan pemerintahan), memperkuat bukti bahwa istilah kritis, objektif, dan terbuka semakin semu saja keberadaanya. Hal ini tidak terlepas dari peran salah seorang dosen saya yang memiliki kekaguman lebih terhadap pemerintah saat ini wabil khusus pada Pak Presiden. Iya, dosen inlah yang sangat pro presiden.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan saja, setiap refleksi materi dalam realitas konkret yang positif-positif, tidak pernah tidak, contoh yang diberikan selalu tentang Pak Presiden. Sementara yang negatif-negatif selalu direfleksikan dengan pihak yang tidak sejalan dengan Pak Presiden. Seakan-akan apa yang berkaitan dengan presiden kita sekarang selalu benar dan perfect sementara yang berbeda pendapat dengannya seolah-olah selalu salah. Katanya sih, \u201cMereka mengkritik kurang sopan,\u201d, \u201cOh itu karena orang-orang di sekitar presiden saja, sebenarnya Pak Presiden tidak begitu,\u201d, dan banyak lagi alasannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dosen saya selalu mengawali dengan narasi andalan , \u201cBukannya saya ini pro Pak Presiden,\u201d atau \u201cBukannya saya orang pro pada pemerintah,\u201d kemudian dilanjutkan dengan pembahasan tentang kebaikan dan gaya kepemimpinan Jokowi.\u00a0 Saya tidak tahu persis bagaimana relasi beliau dengan Pak Presiden. Apakah beliau sedang jatuh cinta pada atau ada alasan lain, saya tidak paham. Yang jelas ini sangat meresahkan saya sebagai mahasiswa yang penuh harap ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMemang tidak ada yang sempurna dalam memerintah, ada hal baik yang harus kita puji dan hal buruk harus kita kritik.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kurang lebih begitulah kira-kira pernyataan yang beliau sampaikan untuk \u201cmenetralkan\u201d posisinya ketika di kelas. Tidak ada yang keliru dari pernyataan tersebut, namun dalam praktiknya, sungguh saya sama sekali tidak menemukan konsep keadilan berpikir seperti itu bila pokok bahasannya adalah mengenai Pak Presiden. Mungkin potongan lirik lagu Andra &amp; The Backbone \u201cKau begitu sempurna, di mataku kau begitu indah\u201d sangat cocok mewakili pandangan beliau kepada Pak Presiden. Duh, romantis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sangat sulit menemukan manifestasi kritis, objektif, dan open minded dalam kelas ini jika pengampunya saja terang-terangan pro presiden, meskipun beliau tidak pernah mengakuinya. Bagi saya, sebagai seorang dosen, beliau harusnya jeli dan pandai-pandai menempatkan diri. Tidak jadi soal bila beliau memiliki preferensi politik seperti itu. Yang terpenting adalah bagaimana beliau tetap menjaga kewarasan dan objektifitasnya, juga tetap kritis dalam pengajaran di kelas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab bagaimanapun, sebagai seorang pendidik atau sosok guru, beliau tetap menjadi acuan bagi mahasiswa-mahasiswanya. Beliau tidak boleh lupa, sebagian dari mahasiswanya sudah pandai membaca realitas. Mereka tidak akan mudah terpengaruh dan begitu saja pro presiden terlepas apa pun yang terjadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalo begini lantas apa lagi yang bisa kami \u201cgugu\u201d dan \u201ctiru\u201d dari sesosok dosen? Yang jelas, kami tidak akan menjadi tukang promosi kepresidenan dan tidak akan pernah taklid buta dengan kepemimpinannya, siapa pun orangnya.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/suka-kaget-dan-bingung-adalah-bukti-nyata-cinta-jokowi-kepada-rakyatnya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Suka Kaget dan Bingung Adalah Bukti Nyata Cinta Jokowi kepada Rakyatnya<\/a> dan tulisan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/firhandika-santury\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> Firhandika Santury<\/a> lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282136338016&amp;text&amp;app_absent=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mahasiswa mengerti untuk tidak akan menjadi tukang promosi kepresidenan, tapi giliran dosennya yang seolah selalu pro presiden.<\/p>\n","protected":false},"author":1439,"featured_media":14069,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[34,9092,699,1468],"class_list":["post-111258","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-mahasiswa","tag-perkuliahan","tag-presiden-indonesia","tag-presiden-jokowi"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111258","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1439"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=111258"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111258\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14069"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=111258"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=111258"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=111258"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}