{"id":111127,"date":"2021-03-03T12:11:22","date_gmt":"2021-03-03T05:11:22","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=111127"},"modified":"2021-03-03T04:31:06","modified_gmt":"2021-03-02T21:31:06","slug":"taylor-swift-dan-narasi-yang-usang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/taylor-swift-dan-narasi-yang-usang\/","title":{"rendered":"Taylor Swift dan Narasi yang Usang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Golden Globe Awards ke-79 rampung digelar secara virtual pada Senin (1\/3) waktu Indonesia. Alih-alih merayakan kemenangan Josh O\u2019Connor, Emma Corrin, Rosamund Pike, dan Anna Taylor-Joy, perhatian pengguna linimasa Twitter teralihkan oleh trending topic pagi itu. Taylor Swift kembali menjadi perbincangan hangat di aplikasi burung tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kali ini keyword \u201cRESPECT TAYLOR SWIFT\u201d bertengger di trending topic selama beberapa jam lamanya. Pemilik album <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Evermore<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> itu menjadi perbincangan netizen setelah dua film produksi Netflix menyematkan lelucon tak pantas kepada Swift yang sukses menyulut kemarahan Swifties.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada episode terakhir musim pertama series <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ginny and Georgia<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, salah satu tokoh utama bernama Ginny Miller, menyeletuk, \u201cWhat do you care? You go through man faster than Taylor Swift.\u201d Swifties mengutuk penulis script tersebut karena telah menggunakan tired trope yang selama ini selalu digunakan untuk menyerang idola mereka. Netizen juga menyayangkan karena tokoh Ginny Miller yang diperankan oleh Antonia Gentry digambarkan sebagai tokoh remaja feminist sejak awal episode series tersebut muncul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ginny and Georgia<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, guyonan yang sama dan membosankan tersebut ditemukan pada series <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Degrassi: Next Class<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Salah satu karakter menyebutkan bahwa \u201cTaylor Swift made an entire career off her exes\u201d. Hal ini semakin menyulut kemarahan Swifties dan warganet terhadap aplikasi layanan streaming paling terkenal tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa jam setelah menjadi perbincangan publik, Swift akhirnya berbicara pada public. \u201cHey Ginny and Georgia, 2010 called and it wants its lazy, deeply sexist joke back. How about we stop degrading hard working women by defining this horse shit as FuNny. Also, @netflix after Miss Americana this outfit doesn\u2019t look cute on you Happy Women\u2019s History Month I guess.\u201d Hal ini menegaskan bahwa Taylor Swift telah lelah dengan candaan seksis dan menyampaikan kekecewaannya terhadap Netflix yang pernah bekerja sama dengannya pada proyek film dokumenter.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Para penggemar menuduh Netflix menggunakan isu misoginis dan guyonan seksis untuk menaikkan rating kedua serial produksi Netflix. Tapi, apakah guyonan semacam ini adalah hal baru, atau ini hanyalah narasi usang yang direproduksi tanpa henti?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apabila anda seorang fan, atau bahkan seorang hater, kalian paham akan hal ini. Selain album-albumnya yang memukau, Swift menarik perhatian karena label gonta-ganti cowok yang disematkan padanya sejak 2010. Label yang diberikan hanya karena ia berkencan dengan pria beberapa kali, lalu putus. Normal bukan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWait, tapi kan ia mengubah cerita patah hatinya menjadi world hits dan mendapatkan profit dari itu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di situlah permasalahannya. Ketika seorang penyanyi perempuan memperoleh keuntungan besar dari menulis breakup songs\u00a0 yang kemudian menjadi hits, penerima sepuluh piala Grammy Awards, membuat tur dunia, dan menjadi selebriti dengan bayaran termahal di dunia, orang akan memberi banyak hujatan untuk sebuah hubungan percintaan. Hujatan yang akhirnya digunakan berkali-kali untuk menyerang seorang perempuan dengan alasan humor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Taylor Swift selama ini menulis lagu tentang hubungan cintanya yang kandas dengan beberapa pria, misal, Joe Jonas, Harry Styles, John Mayer, Taylor Lautner, dan Cory Monteith. Hits \u201cOut of Woods\u201d pada album <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">1989<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ditulis berdasarkan hubungan percintaannya dengan Harry Styles pada akhir 2012.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, hanya karena seorang perempuan menulis lagu-lagu dari kisah romansanya yang kandas dan \u201ckerap\u201d berkencan dengan pria, lantas apakah perempuan tersebut berhak dicemooh selama bertahun-tahun? Tentu saja tidak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini hanya membuktikan betapa seksis dan misoginisnya industri musik. Bagaimana orang-orang datang kepada seorang perempuan hanya karena menulis lagu-lagu sedih dan menjadi terkenal karena itu. In fact, Swift adalah salah satu penyanyi dengan bakat menulis yang luar biasa dan mampu menguasai banyak genre musik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Candaan misoginis kepada penyanyi perempuan hanya akan melanggengkan praktik budaya misoginis pada industri musik. Slut-shaming adalah hal yang menjengkelkan namun bertumbuh subur di Hollywood. Seorang publik figur perempuan akan selalu dinilai salah karena menulis lagu tentang mantan-mantannya dan akan terkekang oleh olok-olokan seksis bahwa perempuan tersebut adalah slut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, ketika yang menjadi pelakunya adalah seorang pria, semua tiba-tiba buta. Ketika Justin Bieber merilis album <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Purpose<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dengan penuh keberanian ia mengatakan bahwa mantan-mantannya menginspirasi\u00a0 pembuatan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Purpose<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Namun, apakah Justin Bieber menerima slut-shaming? Apakah Shawn Mendes menerima olok-olok karena menulis lagu tentang Hailey Baldwin? Apakah Ed Sheeran dibully karena menjadikan Ellie Goulding inspirasinya untuk menulis \u201cDon\u2019t\u201d? Then, let\u2019s slut-shame men too.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika Taylor Swift adalah seorang penyanyi laki-laki, hal murahan semacam ini tidak akan menjadi sebuah isu. Alih-alih di-bully karena menulis lagu untuk mantan kekasih, seorang pria akan memperoleh komemorasi karena memiliki mantan-mantan kekasih dan dipuja karena maskulin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 2016, akun twitter bernama @southern_mayers membuat candaan tidak pantas yang membandingkan vagina anak perempuannya dengan vagina Taylor Swift. Vagina Swift digambarkan sebagai ham sandwich yang terbuka dan bergelambir. Seolah-olah ia adalah perempuan gampangan dan berdosa karena telah mengencani banyak pria.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">TheTalko pada awal 2017 menulis sebuah artikel dengan judul yang sangat seksis, \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">15 Reasons Why It\u2019s Dangerous to Date Taylor Swift\u201d. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Judul tersebut seolah-olah menempatkan Swift sebagai perempuan berbahaya yang tidak pantas untuk dipacari karena kau akan hanya berakhir menjadi sebuah lagu hits apabila mengencani Taylor Swift.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">FYI, pemilik nama lengkap Taylor Alison Swift tersebut telah lama berjuang memerangi narasi membosankan ini bahwa ia lebih dari seorang-penyanyi-yang-mendapat-profit-dari-mantan. Puncaknya saat ia merilis film dokumenter Miss Americana pada akhir Januari 2020.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 2015, Swift mengatakan kepada Maxim, \u201cMisoginis telah mendarah daging pada orang-orang sejak mereka lahir, jadi bagiku, feminism adalah gerakan paling penting bisa kau peluk. Seorang laki-laki menuliskan perasaannya dari kondisi yang rentan dalah sebuah keberanian; seorang perempuan menuliskan perasaannya dari kondisi yang rentan adalah oversharing dan mengeluh.\u201d Swift meyakini bahwa perempuan tidak diperbolehkan menginginkan sesuatu seperti seorang pria diperbolehkan menginginkan hal tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, Taylor Swift memiliki hak untuk menulis tentang mantan kekasihnya dan pengalaman romansanya. It\u2019s her experience. Leave her alone.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: YouTube <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UCPC0L1d253x-KuMNwa05TpA\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Taylor Swift-Topic<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menggoreng-isu-pelakor-lewat-album-baru-taylor-swift-folklore\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Menggoreng Isu Pelakor Lewat Album Baru Taylor Swift, \u2018Folklore\u2019<\/a><\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/em><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><em>ini<\/em><\/a><em>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<\/em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><em>di sini.<\/em><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jika Taylor Swift adalah seorang penyanyi laki-laki, hal murahan seperti perkara ganti pasangan tidak akan menjadi sebuah isu.<\/p>\n","protected":false},"author":1440,"featured_media":111156,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[8760],"class_list":["post-111127","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-taylor-swift"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111127","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1440"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=111127"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111127\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/111156"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=111127"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=111127"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=111127"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}