{"id":111008,"date":"2021-03-03T12:01:43","date_gmt":"2021-03-03T05:01:43","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=111008"},"modified":"2021-03-03T07:40:28","modified_gmt":"2021-03-03T00:40:28","slug":"orang-yang-bilang-makan-ikan-ribet-adalah-golongan-manusia-yang-layak-ditenggelamkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-yang-bilang-makan-ikan-ribet-adalah-golongan-manusia-yang-layak-ditenggelamkan\/","title":{"rendered":"Orang yang Bilang &#8216;Makan Ikan Ribet&#8217; Adalah Golongan Manusia yang Layak Ditenggelamkan!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya selalu berusaha untuk menghargai pendapat orang lain ketika berbeda. Kadang ya bikin kepala pusing juga akibat perkara ini, tapi mau gimana lagi? Wong saya orangnya nggak suka pertengkaran, apalagi sampai jotos-jotosan. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, ada satu perkara yang bikin kepala saya pusingnya nggak karuan. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Perkara paling urgent ini adalah perihal tulisan Mbak Vivi Wasriani dengan judul <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nggak-doyan-makan-ikan-itu-bukannya-belagu-cuma-nggak-suka-ribet-aja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>Nggak Doyan Makan Ikan Itu Bukannya Belagu, Cuma Nggak Suka Ribet Aja!<\/em><\/a>. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gimana, ya? Dari judulnya saja sudah bikin naik darah. Apalagi saya yang sejak dalam pikiran sudah punya silang sengkarut dengan ikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini, dalam artikel Mbak Vivi, penjelasan mengenai alasan pertama blio nggak suka ikan karena ikan memiliki banyak tulang yang ukurannya kecil. Mulai dari sini, saya ingin bilang satu hal sama Mbak Vivi, \u201cMainmu kurang jauh, Mbak!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bisa menjelaskan jenis ikan mulai dari yang paling mikroskopis sampai yang ukurannya sebesar rumah. Atau jenis ikan yang seluruh badannya bisa kita kategorikan sebagai tulang keras, sampai yang bahkan tulangnya bisa dikeramus sekali gigit. Dan saya pastikan itu nggak akan nyangkut di tenggorokan Mbak Vivi. Dan mungkin bukan hanya itu, ikan dengan jenis tulang lunak begini mungkin akan melewati lambung, usus bahkan terjun bebas ke saluran pembuangan akhir Mbak Vivi seperti nggak ada portalnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, satu hal yang menurut saya menjadi kesalahan fatal adalah ketika Mbak Vivi nggak menyebutkan nama ikan yang bikin trauma di masa lalu. Kemudian men-generalisasi semua jenis ikan memiliki tulang yang semrawut dan rumitnya sama dengan ikan yang oleh Mbak Vivi menyebutnya \u201cikan yang saya lupa jenisnya apa\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bisa saja menebak, ikan yang mungkin Mbak Vivi makan dan lantas bikin trauma itu adalah bandeng, atau malah ikan teri atau apa pun jenis ikan bertulang kecil lainnya. Satu hal yang ingin saya luruskan bahwa memang ada banyak ikan yang tulangnya kecil, bahkan akan sangat sulit kita kenali sebagai tulang. Tapi, menyebut semua ikan memiliki tulang kecil itu pelecehan yang sangat nyata. Saya benar-benar marah kali ini, Mbak!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin Mbak Vivi belum pernah mencoba ikan tuna, dengan daging yang terhampar di sekujur tubuhnya dan empuknya minta ampun itu. Belum lagi rasanya yang gurihnya, hmmm sangat nylekamin sekali kata orang Banyumas. Tulangnya? Bahkan orang dengan kelainan mata sekalipun saya yakin masih bisa mengenalinya sebagai tulang dari ikan ini tanpa melihatnya menggunakan alat bantu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persoalan tulang, saya punya rekomendasi beberapa makanan yang bahkan bisa dimakan sekalian dengan tulangnya. Yang lebih ekstrem tentu saja ikan hiu dan pari yang dari sononya sudah bertulang lunak. Dua jenis ikan yang saya sebutkan ini ya benar-benar tulangnya lunak dan bisa Mbak Vivi keramus sekali lahap.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi karena mereka cukup ekstrem, mari saya kasih alternatif pengganti. Belilah ikan kembung di pasar yang biasanya dikeranjangin itu. Atau ikan teri juga boleh. Bawa pulang, lalu goreng sampai ikannya berwarna merah kecokelatan sebagai tanda matang kelewat dikit dan hampir gosong. Pada kondisi demikian, biasanya ikan kecil (yang jadi trauma Mbak Vivi) akan menjadi sedikit lunak sampai ke tulang-tulangnya dan sekali dua kali gigit akan hancur berkeping-keping. Atau kalau nggak mau ribet, beli ikan sarden dalam kaleng saja, Mbak. Takutnya, ketidaksukaan pada ikan adalah cara Mbak Vivi menyembunyikan ketidakbisaan memasak ikan itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau sudah dengan perkara pertama, mari kita lanjut ke bagian kedua. Nah, di penjelasan Mbak Vivi, ada salah satu statement yang menurut saya terlalu umum bagi saya yang sudah sejak kecil sudah \u201cbau amis ikan\u201d ini. Tapi saya paham jika Mbak Vivi nggak suka. Masalah trauma dengan bau amis ikan? Tunggu dulu. Sudah ada banyak cara dan teknologi yang membuat bau ikan ini hilang seketika kalau Mbak Vivi mau belajar. Mbak Vivi boleh mencobanya dengan mulai menggunakan detergen atau cairan pencuci tangan pada umumnya. Atau menggunakan cairan pencuci piring macam moonlight atau papa lemon juga ampuh, terutama yang komposisinya mengandung jeruk nipis. Tapi tentu saja pastikan bahwa mencuci tangan dengan bahan-bahan di atas, Mbak Vivi lakukan setelah makan ikan, jangan sebelum makan ikan, malah nggak akan ada gunanya, Mbak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang kedua, saya menyarankan kepada Mbak Vivi untuk membeli ikan yang masih segar. Bila perlu, belilah ikan yang masih menggeliang saat dibayar. Jangan beli ikan yang sudah basi, apalagi ikan yang lebih lama matinya daripada hidupnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, memang ada ikan-ikan tertentu yang bahkan belum dimasak saja sudah mengeluarkan bau amis yang lumayan menyengat. Ya salah satunya ikan yang sudah lama mati itu, Mbak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, saya harus bersepakat pada salah satu penjelasan Mbak Vivi mengenai ikan yang bukan satu-satunya sumber protein. Saya sudah cukup membuktikan hal itu dengan menjadi orang yang makan ikan setiap hari selama kurang lebih 18 tahun saya hidup, tapi tetap saja kurusnya macam burung bangau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, sebagai penutup, saya mau mengajak Mbak Vivi untuk mau mencoba makan ikan lagi mulai dari sekarang. Tentu dengan mengikuti tips-tips saya di artikel ini. Terutama jika Mbak Vivi takut \u201cditenggelamkan\u201d. Tapi, kalau Mbak Vivi lebih percaya dengan trauma di masa lalu, ya saya nggak mau ikut-ikutan, Mbak. Ini mah sekadar mengingatkan saja.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-ikan-asin-terbaik-untuk-resep-nasi-liwet-sunda\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">4 Ikan Asin Terbaik untuk Resep Nasi Liwet Sunda <\/a><\/b><b>dan <\/b><b>tulisan\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/taufik\/\"><b>Taufik<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><b><i>ini<\/i><\/b><\/a><b><i>\u00a0ya.<\/i><\/b><\/h6>\n<h6><b><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><\/b>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\"><b><i>di sini.<\/i><\/b><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau nggak suka makan ikan, tenggelamkan saja!<\/p>\n","protected":false},"author":50,"featured_media":111169,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[7806,4565],"class_list":["post-111008","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-ikan","tag-makan"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111008","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/50"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=111008"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111008\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/111169"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=111008"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=111008"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=111008"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}