{"id":110897,"date":"2021-03-03T09:01:23","date_gmt":"2021-03-03T02:01:23","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=110897"},"modified":"2021-03-03T07:18:47","modified_gmt":"2021-03-03T00:18:47","slug":"manfaat-tak-terduga-dari-cium-bau-kotoran-tubuh-sendiri-bagi-kesehatan-tubuh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/manfaat-tak-terduga-dari-cium-bau-kotoran-tubuh-sendiri-bagi-kesehatan-tubuh\/","title":{"rendered":"Manfaat Tak Terduga dari Cium Bau Kotoran Tubuh Sendiri bagi Kesehatan Tubuh"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut amatan sekilas saya, banyak orang suka mencium bau-bau kotoran yang volumenya sedikit dari tubuhnya sendiri. Seperti, bau keringat di ketiak, kotoran pada sela-sela kuku di jempol kaki, lendir di telinga. Saya tidak tahu, apakah orang-orang di belahan dunia lain juga suka melakukan hal itu. Yang jelas, saya bisa memastikan, kebanyakan orang Indonesia seperti itu. Ntah, apakah itu ada manfaatnya bagi kesehatan tubuh atau tidak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya pribadi, ada semacam kepuasan yang ganjil setelah mencium kotoran-kotoran dari tubuh tersebut. Gabungan antara puas dan jijik sekaligus. Sebagaimana orang yang meminum teh nasgitel merasa puas.Lantaran selain ada rasa manis yang dihasilkan dari gula yang dilarutkan, ada juga rasa sepet yang berasal dari kekentalan teh. Coba saja kalau rasa sepet saja, pasti agak kurang, kecuali orang-orang yang menghindari gula dan memaksakan diri untuk suka dengan teh tanpa gula, atau kalau di Jogja biasa disebut teh tawar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang, tidak begitu jelas juga secara detail titik puasnya seperti apa. Namun, jika dijabarkan melalui kalimat kira-kira seperti itu. Memang agak rumit. Jika dicerna dengan nalar umum terasa aneh. Lantaran biasanya kotoran identik dengan rasa jijik. Dan perasaan jijik tidak disukai sehingga akan dihindari. Kira-kira dari sisi kepuasan batin dalam artian yang subyektif seperti itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belakangan saya menemukan fungsi lain yang saya kira cukup berguna. Tidak tanggung-tanggung, ternyata ini berkaitan dengan kesehatan tubuh kita. Meskipun ini hanya cocokologi saya yang saya dapatkan secara kebetulan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu yang lalu saya flu. Kepala saya pusing minta ampun, hampir pilek dan batuk. Saya sudah mencoba minum vitamin C sebagaimana kebiasaan saya ketika gejala flu muncul dan biasanya manjur. Kali itu tidak. Saya juga mencoba minum <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Paracetamol<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, tidak manjur juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan badan lemas dan kepala pusing saya naik motor menuju salah satu rumah sakit swasta di Bantul, kabupaten tempat saya tinggal. Salah satu kekhawatiran ketika berobat di masa pandemi seperti ini adalah didiagnosa positif covid. Dan sepanjang perjalanan itu membuat saya tambah pusing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di rumah sakit diperiksa. Saya disuntik dan diberi resep. Setelah disuntik rasa lemas dan pusing saya berkurang. Bahkan sampai rumah saya merasa sudah sembuh. Akan tetapi, hal itu tidak lantas membuat saya membuang obat yang diberi dokter ke tempat sampah. Saya paham itu adalah efek suntik. Dan setelah efeknya hilang kalau tidak disambung obat tentu saja rasa pusing itu akan sekonyong-konyong memorakporandakan kepala saya lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya beruntung sekira dua hari minum obat sudah badan sudah terasa fit. Itu membuat saya lega. Pasalnya, sebelum saya mengambil resep dan membayar biaya pengobatan dokter mengatakan, kalau tiga hari tidak sembuh saya diminta kontrol untuk cek darah sama rapid antigen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya puncak kenikmatan itu adalah sehat. Dan kembali sehatnya tubuh saya rasakan dengan bekerja secara giat seperti biasanya. Namun\u2014ini sangat menyebalkan\u2014seminggu kemudian saya flu lagi. Saya terlalu girang dengan kesehatan tubuh yang sudah saya nikmati. Cuaca ekstrem, sering hujan, kalau siang panas, kalau malam dingin, tentu adalah alarm bagi kita untuk berhati-hati. Saya agak kurang berhati-hati. Serial-serial original Netflix membuat saya memaksa tubuh saya untuk maraton di malam hari. Ganjaran itu saya terima.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kali ini rasa pusingnya tidak terlalu. Namun, hidung tersumbat dan tenggorokan serak, serasa mau batuk, lebih cepat dari sebelumnya. Ketika saya periksa di klinik\u2014ya selanjutnya di klinik, bukan di rumah sakit swasta\u2014indra penciuman dan pengecap saya terasa agak berkurang. Lagi-lagi rasa khawatir positif muncul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagaimana informasi yang sudah beredar, salah satu tanda terkena covid adalah tidak bisa mencium dan mengecap. Yang saya alami hanya berkurang saja, tidak benar-benar hilang. Kalau mencium sabun mandi harus didekatkan ke hidung baru tercium. Kalau makan sate saya hanya bisa merasakan rasa asin dan manis saja. tidak bisa merasakan khas dagingnya. Kira-kira seperti itulah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, bukankah kalau biasanya kalau hidung tersumbat indra penciuman dan pengecap berkurang? Itu yang membuat saya bisa menampik rasa khawatir tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua hari setelahnya indra penciuman dan pengecap semakin berkurang. Pada titik ini saya menemui sesuatu yang berkaitan dengan bau kotoran tubuh yang saya singgul di awal tulisan. Saya tidak bisa mencium kotoran di sela-sela kuku jempol kaki dan lendir telinga. Kalau bau ketiak, masih bisa walau tidak seperti biasanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, hal itu saya gunakan untuk mengecek kondisi saya sendiri. Secara berkala saya mengecek indera penciuman saya dengan membaui kotoran tersebut. Maksud saya, berarti kalau saya sudah bisa mencium bau kotoran-kotoran itu secara maksimal indera penciuman saya sudah benar-benar pulih. Kalau indera penciuman pulih, biasanya indera pengecapan pun pulih. Sungguh benar jika para ustaz itu menyampaikan nukilan ayat Alquran yang kira-kira terjemahan bebasnya seperti ini, tak ada satu pun yang diciptakan Tuhan itu sia-sia.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/susahnya-jadi-anak-yang-punya-ibu-orang-kesehatan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Susahnya Jadi Anak yang Punya Ibu Orang Kesehatan <\/a>dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dani-ismantoko\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Dani Ismantoko<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya menemukan fungsi lain dari mencium bau kotoran tubuh sendiri  yang saya kira cukup berguna. Tidak tanggung-tanggung, ini berkaitan dengan kesehatan tubuh kita.<\/p>\n","protected":false},"author":774,"featured_media":111191,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[10930,256],"class_list":["post-110897","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bau-kotoran-tubuh","tag-kesehatan"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/110897","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/774"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=110897"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/110897\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/111191"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=110897"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=110897"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=110897"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}