{"id":110467,"date":"2021-03-02T06:37:36","date_gmt":"2021-03-01T23:37:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=110467"},"modified":"2021-11-14T16:13:50","modified_gmt":"2021-11-14T09:13:50","slug":"meme-nggak-bisa-basa-enggres-dan-latahnya-kita-dalam-belajar-bahasa-inggris","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/meme-nggak-bisa-basa-enggres-dan-latahnya-kita-dalam-belajar-bahasa-inggris\/","title":{"rendered":"Belajar Bahasa Inggris Jangan Dibuat Runyam"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu, ramai di internet meme yang berasal dari potongan video seorang bocah berkata, \u201cNggak bisa basa enggres\u201d sambil mengelap mukanya menggunakan dasi seragam sekolah, melas. Hingga ini bisa ramai, kita dapat melihat bahwa jumlah orang yang menginternalisasi nilai yang direpresentasikan dalam meme ini cukup banyak. Utamanya soal belajar bahasa Inggris.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alih-alih meme ini menjadi perayaan akan adanya kesenjangan kecakapan berbahasa Inggris yang ada dalam masyarakat kita, beberapa orang-orang yang jago bahasa Inggris justru gatel dengan praktik penggunaan meme ini. Mereka bilang, ini cuma bakal menjadi alasan (pembenar) untuk orang-orang malas yang tidak mau belajar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, emang segitunya, ya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari laporan English Proficiency Index (EPI) 2020 dari EF \u2013 iya, EF yang itu \u2013 Indonesia menempati peringkat 74 dalam tingkat kecakapan berbahasa Inggris dari total 100 negara di luar lingkar utama negara-negara Anglosphere macam Britania Raya, Amerika Serikat, Kanada, ataupun Australia dan Selandia Baru. Indonesia masuk dalam peringkat kecakapan yang rendah, masih kalah dengan Malaysia, Filipina, apalagi Singapura. Tentu angka itu bukanlah hal yang mengejutkan untuk kita ketahui bersama, toh, kita sudah banyak tahu kalau Indonesia sering tertinggal dalam banyak hal, kecuali soal tingkat kebisingan warganet.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kita mau lebih peduli, tingkat kecakapan bahasa Inggris rata-rata dari satu negara juga berbanding lurus dengan ekonomi, tingkat inovasi, dan pengembangan. Kenyataan ini tidak memberi makna apa pun sampai kita mau menakar ulang pertanyaan, kenapa kita belajar bahasa Inggris?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, untuk menjalankan fungsi manusia yang basic-basic saja, kita tidak perlu belajar bahasa Inggris. Kita hanya perlu ngerti bagaimana cara untuk berekspresi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita belajar bahasa Inggris karena adanya aktivitas praktis di era ini, dalam batas kenyataan kita, yang telah menuntut untuk itu. Saya menggunakan kata \u201ckita\u201d untuk mengacu pada kelompok yang paling tidak sudah menjalankan aktivitas membaca <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, bukan kelompok masyarakat yang mana aktivitas praktisnya punya batasan-batasan yang berbeda dengan sobat Mojok sekalian i.e masyarakat adat pedalaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kaca mata ini saja, kita punya satu dasar pemikiran soal kecakapan bahasa Inggris dengan kaitannya terhadap rupa aktivitas praktis kita sehari-hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Poin selanjutnya adalah karena adanya ragam aktivitas di dalam masyarakat yang rada modern ini, maka institusi pendidikan dan kebudayaan menjalankan praktik wacana yang beragam pula. Dari bermacam bentuk institusi pendidikan dan kebudayaan, ada satu bentuk berupa sekolah formal yang geraknya mengikuti arahan kurikulum nasional. Di sini kita bisa tahu bahwa ada satu kelompok yang berisi tukang atur yang mendesain bagaimana rangkaian instruksi dapat dijalankan. Kelompok tukang atur ini mengejewantahkan kalimat sederhana \u201cmencerdaskan kehidupan bangsa\u201d dalam rangkaian praktik dengan tujuan akhir \u201ckonformitas\u201d bersama sebagai bangsa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari rangkaian kalimat ndakik-ndakik di atas, jawaban soal kenapa kita belajar bahasa Inggris tadi sebenarnya ada dua. Yang pertama adalah karena kita perlu itu untuk beraktivitas, dan yang kedua karena kebetulan sebagian dari kita masuk sekolah formal dan oleh negara kita disuruh belajar bahasa Inggris.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk kasus pertama ini boleh dibilang clear tidak ada masalah. Kecuali kalau mau dicari-cari masalahnya, tentu saja ada. Nah, untuk poin kedua ini yang menarik. Kalau kita belajar bahasa Inggris karena kebutuhan, kita bisa membuat regulasi untuk diri kita sendiri. Namun, kalau kita belajar karena disuruh&#8230; ntar dulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika secara kolektif kita tahu bahwa belajar bahasa Inggris lebih banyak manfaatnya daripada mudaratnya, langkah selanjutnya untuk otoritas kan sebenarnya adalah mereformasi agar tidak banyak mubahnya. Namun, sebagaimana praktik hegemoni negara atas apa pun, celah untuk beberapa hal dapat lolos tetap saja ada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Antonio Gramsci berpendapat soal ini, \u201cMasalahnya tidak terletak pada salah satu bentuk kurikulumnya, tetapi pada manusianya, dan bukan manusia yang benar-benar menjadi guru tetapi juga keseluruhan masyarakat sosial yang kompleks dalam apa yang mereka ekspresikan.\u201d Dari perkara kelas sosial-ekonomi, geografi, bahkan hingga identitas gender dan spiritualitas bisa menjadi faktor yang memengaruhi kegagalan. Mau bagaimana pun, seperti kata Emma Goldman, \u201cAnak cuma bakal menerima apa yang pikiran mereka kehendaki.\u201d dan itu bukan perkara yang mudah untuk terus-menerus \u201cmemanipulasi\u201d pikiran anak-anak ini agar bisa tunduk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka dari itu, bahasan soal kecakapan bahasa Inggris seharusnya tidak perlu dibuat serius. Di Indonesia, bahasa Inggris merupakan foreign language. Itu merupakan hal yang boleh dibilang jauh jika dibandingkan dengan kecakapan dasar literasi bahasa. Ketika bahasa Inggris dicoba didekatkan sekalipun dalam konteks kenyataan keseharian, hasilnya hanya akan menampilkan praktik berbahasa Ibu atau bahasa Indonesia yang dibuat \u201cEnglish\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kita melihat penyebaran meme \u201cnggak bisa basa enggres\u201d di internet, ada dua pola yang paling kentara. Pertama adalah anak-anak dengan kecakapan bahasa Inggris rendah yang tidak dapat mengikuti obrolan dalam ruang publik itu. Aspek psikologis yang mendorong kematangan intelektual tentu banyak berkaitan dengan kenyataan yang dijalani oleh seseorang. Berdasarkan laporan EPI 2020, pekerjaan dalam bidang operasi, teknisi, admin, sales, hingga customer service memiliki rata-rata kecakapan berbahasa Inggris yang rendah. Begitu pula untuk jabatan staf. Kenyataan sosial yang ada memaksa kita untuk mendefinisikan kelas-kelas intelektual di masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua adalah anak-anak yang hanya ingin trolling atau mocking. Sebenarnya kebosanan orang-orang dengan eskpresi \u201cwhich is\u201d dan \u201cliterally\u201d bukan berada pada bahasa Inggris itu sebagai sebuah entitas, melainkan pada satu cara berekspresi yang terus mendominasi ruang publik. Sekarang, wacana dapat dengan mudah menerobos batas-batas intelektual. Maka dari itu, kelompok lain di luar kelompok intelektual kota, mapan, dan wangi dapat menerobos ruang-ruang yang berisi kelompok dominan. Dari sini kita merayakan kesenjangan yang ada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenyataannya, sobat \u201cEnglish Kota\u201d dapat dengan mudah mendapatkan kesadaran terkait moda eskpresi dan bantuan intelektual hingga nantinya dilanjutkan secara praktis dalam kehidupan sehari-harinya. Dalam praktik sosial, kelompok inilah yang berperan mendominasi wacana publik. Sementara mas-mbak \u201cEnglish Desa\u201d dengan potensi dan kecerdasan yang sama tidak sedang menjalankan peran yang sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika belajar bahasa Inggris bisa masuk dalam kurikulum nasional, berarti ia telah menjadi agenda kolektif bangsa ini dalam bidang pendidikan. Sebab jika dilihat, kecakapan berbahasa Inggris juga berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, inovasi, dan pengembangan. Namun dengan adanya kelas yang lebih mendominasi dalam menjalankan fungsi sosial, pendidikan semakin lama akan menjadi sebuah kebutuhan individualistik, baik untuk melanggengkan atau mengubah status sosial seseorang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan jika revolusi pendidikan menciptakan satu generasi yang jago bahasa Inggris semua, ini tidak memberikan makna yang signifikan.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kosakata-bahasa-inggris-yang-punya-arti-keren-tapi-jarang-digunakan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> Kosakata Bahasa Inggris yang Punya Arti Keren tapi Jarang Digunakan<\/a> dan artikel\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/adhy-nugroho\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Adhy Nugroho<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pembahsan soal perlu tidaknya belajar bahasa Inggris tidak perlu dibuat serius. Apalagi kalau berakar dari meme &#8216;nggak bisa basa enggres&#8217;.<\/p>\n","protected":false},"author":1319,"featured_media":19957,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[761,361,175],"class_list":["post-110467","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-bahasa","tag-bahasa-inggris","tag-pendidikan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/110467","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1319"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=110467"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/110467\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19957"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=110467"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=110467"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=110467"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}