{"id":110267,"date":"2021-02-26T09:02:40","date_gmt":"2021-02-26T02:02:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=110267"},"modified":"2021-02-26T07:58:11","modified_gmt":"2021-02-26T00:58:11","slug":"pertama-mencoba-krl-jogja-solo-ada-aura-ibu-kota-di-tanah-mataram","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pertama-mencoba-krl-jogja-solo-ada-aura-ibu-kota-di-tanah-mataram\/","title":{"rendered":"Pertama Mencoba KRL Jogja-Solo, Ada Aura Ibu Kota di Tanah Mataram"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengguna Prameks boleh bersedih melepas kepergian kereta yang telah beroperasi selama 27 tahun tersebut. Namun, tak bisa dimungkiri bahwa kehadiran teknologi transportasi massal berupa sistem KRL terbukti sukses di Jakarta. Lantas, bagaimana dengan KRL Jogja-Solo?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penumpang trayek KRL Jogja-Solo memang tidak sepadat rute-rute KRL Jabodetabek. Namun, pilihan kereta masih menjadi favorit sebab harganya yang terjangkau dan waktu tempuh yang singkat. Tak heran bila Prameks tetap digemari meskipun bus AKAP hingga transportasi online banyak bermunculan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kini, Prameks telah purna tugas digantikan kereta listrik yang dioperasikan oleh PT KCI, anak perusahaan PT KAI. Tak hanya berganti jenis kereta, beberapa perubahan lain juga tampak seiring dengan bergantinya moda transportasi ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang <\/span><b>pertama<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah sistem pembayaran. Saya pernah merasakan naik Prameks dengan sistem pembelian tiket secara manual. Antrean mengular dan regulasi yang rumit sebab harus menggunakan KTP. Sistem ini coba diatasi dengan pemesanan menggunakan KAI Access. Sayangnya, pengguna Prameks yang tidak memiliki smartphone kesulitan dengan sistem baru ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">KRL Jogja-Solo memberikan jawaban pada kegelisahan ini. Penumpang bisa membeli kartu multi trip (KMT) atau uang elektronik dari bank. Dengan biaya Rp8.000 (flat rate) sekali jalan, penumpang dapat langsung naik kereta tanpa harus pesan terlebih dahulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di stasiun-stasiun, sebenarnya telah ada mesin isi ulang dan pemesanan KMT. Namun, pengamatan saya justru menunjukkan bahwa mayoritas pengguna KRL masih lebih nyaman menggunakan layanan loket. Hal ini sangat wajar karena mesin KMT tersebut memang cukup rumit bila baru pertama kali memakainya. Saya juga pernah mengalami itu ketika awal mula mesin KMT tersebut dioperasikan di KRL Jabodetabek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan yang <\/span><b>kedua<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah desain interior kereta. Prameks memiliki gerbong dengan tempat duduk berhadapan, mirip kereta api jarak jauh. Sedangkan KRL Jogja-Solo memang ditujukan untuk perjalanan singkat. Tempat duduk yang disediakan hanya di sisi-sisi gerbong saja. Penumpang yang tidak kebagian harus rela berdiri sampai lokasi tujuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya sebagai mantan anker (anak kereta) KRL Bogor-Jakarta, model seperti ini justru lebih cocok. Gerbong kereta dapat mengangkut lebih banyak penumpang. Meskipun begitu, sosialisasi bangku di sudut-sudut sebagai bangku prioritas bagi manula, ibu hamil, ibu dengan anak, dan penyandang disabilitas masih perlu digalakkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eksterior kereta pun banyak berubah seiring dengan bergantinya bentuk gerbong kereta. Berbeda dengan KRL Jabodetabek yang memiliki desain monoton (yah, terkadang ada iklan juga segede gerbong), KRL Jogja-Solo tampak lebih \u201clokal\u201d dengan nuansa batik parang sebagai motif gerbongnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan yang <\/span><b>ketiga<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah jumlah stasiun pemberhentian. Prameks hanya berhenti di beberapa stasiun. Kini, KRL juga berhenti di stasiun-stasiun kecil. Oleh karena itu, walaupun KRL lebih cepat dari Prameks, tapi waktu tempuh dari ujung ke ujung (Stasiun Tugu Jogja hingga Stasiun Solo Balapan) relatif sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan adanya stasiun lain yang tersentuh akses KRL Jogja-Solo, saya berharap KRL benar-benar menjadi moda transportasi antarprovinsi yang mumpuni. Pelayanan di tiap stasiun pun sudah cukup baik. Jumlah kamar mandi memadai, pembelian tiket yang mudah, dan peron yang sudah tersedia cukup membantu penumpang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selebihnya, KRL Jogja-Solo hanya perlu menambah armadanya. Di luar pandemi, intensitas orang bepergian dari Jogja ke Solo dan sebaliknya cukup besar. Diharapkan KRL mampu memberikan alternatif transportasi yang murah, aman, dan nyaman bagi penggunanya.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surat-terbuka-dari-kereta-prambanan-ekspres-yang-berhenti-beroperasi-selamanya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Surat Terbuka dari Kereta Prambanan Ekspres yang Berhenti Beroperasi Selamanya<\/strong><\/a><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<a href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282136338016&amp;text&amp;app_absent=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>di sini.<\/em><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penumpang trayek KRL Jogja-Solo memang tidak sepadat rute-rute KRL Jabodetabek. Namun, pilihan kereta masih jadi favorit.<\/p>\n","protected":false},"author":1432,"featured_media":110297,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6,8],"tags":[10877,7567],"class_list":["post-110267","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-featured","tag-krl-jogja-solo","tag-prameks"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/110267","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1432"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=110267"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/110267\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/110297"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=110267"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=110267"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=110267"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}