{"id":110023,"date":"2021-02-25T09:01:03","date_gmt":"2021-02-25T02:01:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=110023"},"modified":"2021-02-25T07:21:35","modified_gmt":"2021-02-25T00:21:35","slug":"atm-setor-tunai-dan-m-banking-sialan-adalah-bahaya-laten-keuangan-saya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/atm-setor-tunai-dan-m-banking-sialan-adalah-bahaya-laten-keuangan-saya\/","title":{"rendered":"ATM Setor Tunai dan m-Banking Sialan Adalah Bahaya Laten Keuangan Saya"},"content":{"rendered":"<p><em>Niat nabung malah jadi boros, sejak hadirnya ATM setor tunai dan m-Banking di hidup saya.<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya punya rekening di suatu bank. Dari rekening tersebut saya jadi rajin menabung gara-gara baru tahu kalau ada yang namanya ATM setor tunai. Dari pengalaman itu, saya jadi rajin menabung karena tidak harus capek-capek ke bank, antre teller, terus deg-degan karena minder kalau hanya menabung sedikit uang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah dari bank tempat saya membuat rekening, saya jadi rajin membuka aplikasi mobile banking. Rekening saya ini agak beda dengan rekening-rekening lain. Kalau pada umumnya setelah membuka rekening itu kita dapat buku tabungan, tapi di sini saya tidak mendapatkan apa pun melainkan diwajibkan untuk menginstall aplikasi m-Banking sebagai ganti dari buku tabungan tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini ternyata menjadi sebuah malapetaka diri saya sendiri. Pasalnya, dari sinilah budaya belanja saya jadi naik dan malah jadi boros. Padahal, niatnya agar rekening ini jadi investasi tapi malah makin banyak konsumsi. Wes jan, pekok tenan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu saya SD dulu, untuk sekadar membeli mainan atau apa pun yang saya pengin perlu perjuangan keras. Saya perlu ngomong ke bapak ibu saya dulu karena duit bukan saya yang megang. Itu pun nggak langsung dibelikan. Saya perlu bantuin mereka ini itu dulu baru dapat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya masih ingat, dulu pas pengin-penginnya PS-2, saya kudu ranking paling minimal 3 besar di kelas saya. Di kelas saya ada sekitar 60-an orang. Berarti paling tidak saya harus mengalahkan 57-an teman saya yang lain dulu agar bisa dapat PS-2 itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, teman tetangga saya nggak harus ranking dulu sudah dapat PS-2 cuma-cuma, ia tinggal minta saja. Bayangkan betapa bergejolaknya hati saya untuk merasa iri padanya. Itu berlanjut sampai masuk SMA. Barang-barang seperti sepeda, motor, pulsa, hape, kuota internet pun saya dapat harus dengan predikat ranking dulu sebelumnya. Kalau tidak, ya, ngimpi saja terus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, setelah lulus SMA dan masuk kuliah, saya diharuskan untuk membuka rekening di bank untuk membayar UKT. Keruwetan saya mulai terkikis satu persatu karena duit sudah saya bisa pegang sendiri. Saya tidak perlu minta-minta ke orang tua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari dulunya harus ngomong ke bapak ibu untuk membeli barang, kini saya hanya harus menyisihkan uang saku lalu tabung di bank. Kalau pengin apa-apa tinggal milih dan transfer via ATM.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Budaya konsumsi saya jadi agak naik secara perlahan, tapi masih bisa ditahan. Soalnya kalau mau transfer via ATM, kan, kudu ngisi saldo dulu. Itu yang bikin saya rada-rada males buat ke bank. Masak hanya nyetor Rp50.000 atau Rp100.000, doang? Itu pun kalau mau transfer harus pergi ke ATM. Mana rekening bank kuliah ini sulit didapat di sekitaran rumah pula. Budaya konsumsi saya meningkat, tapi masih bisalah untuk ditahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, semua berubah ketika saya mulai bisa nyetor uang via ATM dan kenal yang namanya m-Banking sialan ini. Saya jadi lebih sering belanja di dunia maya. Budaya konsumsi saya mencapai klimaksnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Istilahnya, saya \u201cbalas dendam\u201d atas apa-apa yang pernah saya alami dulu. Saya ini orangnya suka membaca, jadi barang-barang yang saya beli lebih sering buku. Padahal sama-sama kita tahu buku itu harganya nggak murah, selalu di atas Rp50.000 dan belum termasuk ongkir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika mendapat kemudahan akses, saya jadi kalap sendiri. Puluhan buku jadi saya beli dan sekarang sudah memenuhi lemari kecil saya. Duit Rp50.000 dan Rp100.000 yang saya tabung via ATM setor tunai jadi gone with the wind dengan sendirinya. Padahal niatan saya agar tidak boros, eh, ini malah jadi boncos. Bayangan saya mendapat saldo jutaan, eh sekarang stagnan di seratusan lagi. Haduh biyung-biyung, perkara nabung wae angele ra umum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang ingin saya sampaikan di sini, dulu betapa ribetnya saya untuk meraih suatu barang yang saya inginkan. Sejauh itu tahapannya, harus ngomong, harus bantu-bantu, harus ranking, dan harus menahan rasa iri dalam hati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selepas memiliki rekening sendiri di bank pun, saya harus susah-susah ngisi saldo lalu pergi ke ATM terdekat yang nyatanya nggak dekat-dekat amat dari rumah. Nggak seperti sekarang, saya tinggal klik-klik saja di e-commerce barang yang saya inginkan, masukin keranjang, checkout, transfer via m-Banking, lalu tunggu sampai barang datang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak perlu bilang-bilang atau dapet IPK tinggi dulu baru bisa dapat atau capek-capek pergi ke ATM buat transfer. Cukup dari rumah saat buang hajat pun bisa. Sekarang saya agak menyesali pembalasan dendam saya sendiri itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudahan yang disediakan m-Banking begitu memperlena saya. Apalagi didukung dengan ATM setor tunai. Wah, nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan? Memang kehidupan itu selalu ada yang positif dan negatif. Kita yang harus pintar-pintar mengaturnya sendiri. Ya Tuhan, semoga saya tidak terlena untuk membuka saldo-saldo lain di Gopay, Ovo, Dana, LinkAja, dan aplikasi-aplikasi penghasut umat itu. Amiiin.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/manfaat-menyimpan-struk-atm-yang-jarang-diketahui-banyak-orang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Manfaat Menyimpan Struk ATM yang Jarang Diketahui Banyak Orang <\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/kevin-winanda-eka-putra\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kevin Winanda Eka Putra<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0<i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saat saya buka rekening, saya tidak mendapatkan apa pun kecuali diwajibkan untuk menginstall aplikasi m-Banking sebagai ganti buku tabungan.<\/p>\n","protected":false},"author":1324,"featured_media":110153,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[10865,10864,207],"class_list":["post-110023","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-atm-setor-tunai","tag-m-banking","tag-menabung"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/110023","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1324"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=110023"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/110023\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/110153"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=110023"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=110023"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=110023"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}