{"id":109933,"date":"2021-03-02T12:08:04","date_gmt":"2021-03-02T05:08:04","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=109933"},"modified":"2024-05-11T21:22:14","modified_gmt":"2024-05-11T14:22:14","slug":"betapa-menyebalkannya-jika-dosen-filsafat-yang-mengajarmu-adalah-seorang-fundamentalis-agama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/betapa-menyebalkannya-jika-dosen-filsafat-yang-mengajarmu-adalah-seorang-fundamentalis-agama\/","title":{"rendered":"Betapa Menyebalkannya Jika Dosen Filsafat yang Mengajarmu Adalah Seorang Fundamentalis Agama"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di semester 4 ini, saya mendapat mata kuliah wajib fakultas, yakni Dasar-Dasar Filsafat atau DDF. Sebagai orang yang cukup tertarik pada bidang ini, terlebih memang di kampus saya tak ada jurusan khusus filsafat, agaknya mata kuliah tersebut akan berjalan seseru dan semenarik pembahasan filsafat seperti yang dibawakan Martin Suryajaya. Setidaknya begitulah bayangan saya ketika mengikuti mata kuliah ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, bayangan itu hancur bak gelas yang dipecahkan di puisinya Rangga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">AADC<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Dosen filsafat saya ini malah membikin saya senewen seharian. Di pertemuan awal, di sesi perkenalan, tidak seperti dosen-dosen filsafat lainnya, beliau malah mempertanyakan sesuatu yang, menurut saya, aneh dan nggak relevan. Ya, beliau MENANYAKAN apa agama yang dianut oleh setiap mahasiswanya. Saya sudah menulis ini di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pena Budaya<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Pers Mahasiswa fakultas saya. Jika Anda penasaran seperti apa, sila<\/span><a href=\"https:\/\/www.penabudaya.com\/dasar-dasar-filsafat-mata-kuliah-filsafat-atau-mata-kuliah-menyelamatkan-agama\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">lihat<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seminggu berselang, saya dan kawan-kawan lain disuruh untuk melakukan presentasi mengenai \u201csejarah filsafat\u201d. Singkat cerita, kami menjelaskan apa-apa saja yang membikin filsafat ini muncul, bagaimana awal mula sejarahnya dari zaman Yunani kuno hingga masa sekarang, berikut juga tokoh-tokoh berpengaruh dari setiap zaman tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah selesai presentasi dan melakukan sesi tanya jawab, agaknya persepsi bahwa mata kuliah DDF yang, menurut saya, lebih mirip mata kuliah \u201cmenyelamatkan agama\u201d ini terpatahkan karena dosen filsafat saya sudah berhenti memakai ayat-ayat suci dari suatu agama ketika menanggapi presentasi saya dan kawan-kawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, angan-angan hanyalah angan-angan. Ketika beliau mencoba merekonstruksi kembali sejarah filsafat, sentimen agama ternyata masih terus dipakai, dong! Saya ingat betul ketika Bapak ini menjelaskan bahwa Thales, filsuf pertama di dunia itu, yang bilang bahwa alam semesta ini terbuat dari air, ternyata, menurut beliau, memiliki kesamaan lho dengan Al-Qur\u2019an! Wow! Saya tercengang dibuatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, kemudian beliau menjelaskan kepada kami ayat-ayat yang menunjukan bahwa perkataan Thales sama dengan kitab suci dari agama yang dianutnya. Ini bikin saya muntab. Bukan karena saya anti-agama, tapi tahu diri lah, kan mahasiswa-mahasiswa di ruang Google Meet ini bukan penganut satu agama doang (Islam). Kalo ini mahasiswa UIN, IAIN, atau universitas-universitas Islam, sih, saya fine-fine saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lha, ini? Kampus negeri, Bos! Mereka berasal dari berbagai macam latar belakang agama, suku, etnis, dan ras. Kalo dosen filsafatnya macam gini, rasanya kita masih jauh untuk berbicara saling toleransi. Lagi pula, apa Pak Dosen nggak bisa apa untuk nggak mengaitkan setiap ajaran filsuf dengan ayat-ayat suci dulu? Bukan apa-apa, yang saya khawatirkan ini mirip seperti zaman abad pertengahan, lho, Pak, di mana filsafat tidak boleh melebihi dan harus tunduk pada doktrin agama. Ini jelas membikin mahasiswa takut berpendapat karena khawatir bersilangan dengan agama Pak Dosen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak berhenti sampai di situ, dosen saya ini makin aneh-aneh ketika beliau menjelaskan lagi tentang zaman abad pertengahan. Kita semua tahu, Galileo Galilei pernah dihukum penjara sampai mati karena mencetuskan paham heliosentrisme (matahari sebagai pusat semesta) yang oleh Gereja dianggap sesat. Kemudian, ia nyeletuk, \u201cJadi bukan Islam, Saudara (yang sampai hati membunuh seseorang yang berbeda pendapat). Mohon maaf ini, bukan saya bermaksud menjelekkan, tapi sejarahnya bilang begitu (bahwa Gereja dan Kristen lah yang melakukannya).\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya hanya bisa ketawa-ketawa saja saat itu dan sedikit muntab juga, sih, kalo dipikir-pikir. Ya saya paham kalo waktu abad pertengahan Gereja memonopoli kebenaran. Tapi, untuk apa sih, Pak, menambahkannya lagi dengan mengatakan, \u201cJadi bukan Islam, saudara\u201d? Kan, ngaco sekali jalan pikiran beliau ini! Ingin rasanya saya bilang bahwa penganut Islam (penganut lho,ya, bukan agamanya) juga tak suci-suci amat, kok. Ada banyak sekali oknum yang mengaku beragama Islam tapi suka sekali menggebuk mereka yang berbeda pendapat. Pun, di abad pertengahan sendiri, yang salah ya penganutnya. Bukan agamanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, meskipun cara menyampaikan materi dosen filsafat ini terkesan sopan dan syahdu, ia tak lebih dari seorang fundamentalis yang rela melakukan apa pun demi menjaga marwah agamanya, bahkan sampai harus merendahkan agama lain yang sebetulnya tidak perlu disebut. Sekali lagi, saya bukan berarti membenci agama atau semacamnya. Hanya saja, mendasarkan kebenaran melalui agama pribadi, lebih-lebih di ruang yang heterogen, sama sekali tak mencerminkan filsafat itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, yah, mungkin ini sesuai dengan prediksi saya. Yang saya pelajari ini bukan Dasar-Dasar Filsafat melainkan Dasar-Dasar Menyelamatkan Agama.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/persikab-kabupaten-bandung-mati-di-tanahnya-sendiri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Persikab Kabupaten Bandung Mati di Tanahnya Sendiri\u00a0<\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/raihan-rizkuloh-gantiar-putra\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Raihan Rizkuloh Gantiar Putra<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282136338016&amp;text&amp;app_absent=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagi saya, meskipun cara menyampaikan materi dosen filsafat ini terkesan sopan dan syahdu, ia tak lebih dari seorang fundamentalis.<\/p>\n","protected":false},"author":1039,"featured_media":67699,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[10917,10918],"class_list":["post-109933","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-dosen-filsafat","tag-fundamentalis-agama"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109933","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1039"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=109933"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109933\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/67699"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=109933"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=109933"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=109933"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}