{"id":109749,"date":"2021-03-03T09:04:38","date_gmt":"2021-03-03T02:04:38","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=109749"},"modified":"2021-03-03T07:44:26","modified_gmt":"2021-03-03T00:44:26","slug":"penghuni-apartemen-pengin-tinggal-di-rumah-saya-justru-pengin-tinggal-di-apartemen","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/penghuni-apartemen-pengin-tinggal-di-rumah-saya-justru-pengin-tinggal-di-apartemen\/","title":{"rendered":"Penghuni Apartemen Pengin Tinggal di Rumah, Saya Justru Pengin Tinggal di Apartemen"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu yang lalu, saya membaca tulisan<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/humam-zarodi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Mas Humam Zarodi<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang intinya bercerita bahwa<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-tinggal-di-apartemen-nggak-cocok-buat-orang-dusun\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> <span style=\"font-weight: 400;\">tinggal di apartemen itu tidak enak.<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> Saya, sih, belum pernah tinggal di apartemen, paling mentok juga menginap selama beberapa hari di apartemen di kawasan Thamrin karena sepupu saya menikahkan anaknya di salah satu gedung di sekitar sana. Lantas untuk efektivitas ruang dan waktu, seluruh keluarga mempelai wanita diinapkan di satu unit apartemen yang berisikan 3 kamar tidur lengkap dengan segala fasilitas mewah macam dapur kecil, kamar mandi yang dilengkapi dengan bathtub, shower, dan tentu saja air panas. Tidak lupa ada TV kabel dan WiFi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat itu saya tentu saja menikmati fasilitas tersebut dan berpikiran: nyaman juga, ya. Setelah seharian menghadiri akad dan resepsi pernikahan, saya bisa berendam di bathub dengan air panas sambil mendengarkan musik di Spotify. Andaikan saya bisa memilih, memiliki pekerjaan dengan penghasilan besar, saya betah tinggal di sini selama bertahun-tahun juga. Apalagi kalau punya pasangan. Romantis, deh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, beberapa hari yang lalu saya berkesempatan main ke apartemen teman kuliah saya yang terletak di Ciumbuleuit Kota Bandung. Niat utamanya buat nebeng WiFi-an aja, sih. Pasalnya, saya tidak punya WiFi di rumah. Dan kesan pertama saya, sama nyamannya dengan apartemen di kawasan Thamrin meskipun ukurannya jauh lebih kecil, kurang lebih seukuran kamar hotel pada umumnya, bedanya disekat sedemikian rupa sehingga ada dua kamar tidur, satu kamar mandi, dan dapur kecil untuk memasak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Enam jam kurang lebih saya habiskan di sana untuk mengunduh berbagai macam hal yang saya perlukan di rumah untuk mengisi waktu luang selama pandemi ini. Dan, tinggal di apartemen seperti ini sangatlah nyaman menurut saya. Namun sebaliknya, teman saya malah mengeluhkan bahwa tinggal di apartemen banyak tidak enaknya. Hidup memang aneh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dia berkata bahwa di sini nggak boleh memelihara hewan peliharaan, meskipun hanya berupa ikan di aquarium kecil sekalipun. Bahkan, memelihara tanaman saja tidak boleh. Saya paham jika kucing dan anjing tidak boleh dipelihara karena berbagai risiko yang harus dihadapinya, seperti bau yang menyengat maupun dikhawatirkan akan berisik. Tapi memelihara tanaman tidak boleh? Bahkan sekadar memelihara kaktus atau monstrea saja tidak boleh? Apa yang salah dari tanaman? Bukannya sedikit memberi udara segar dan menambah nilai estetika? Yah, ini adalah salah satu kekurangan tinggal di apartemen, saya pikir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu dia melanjutkan lagi, enam tahun tinggal di apartemen ini, dia tidak kenal sama sekali dengan tetangganya, meskipun sekadar tetangga seberang, maupun samping kiri dan samping kanan! \u201cPaling mentok hanya mengangguk dan bertegur sapa ketika sama-sama membuka pintu kamar di pagi atau malam hari,\u201d ujar teman saya. Selain itu, kerap kali penghuni kamar-kamar tersebut silih berganti setiap beberapa bulan sekali, jadinya ya semakin asing, deh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, ini bukan masalah yang besar bagi saya. Saya pun tinggal selama lebih dari 20 tahun di Bandung, tidak terlalu mengenal tetangga, paling mentok hanya saling kirim kue lebaran dan berbagi buah mangga ketika sudah masak saja, tidak sampai deep talk seperti pada teman-teman sebaya saya yang bisa membicarakan berbagai topik dari ngecengin cewek sampai diskusi filsafat. Malah saya berkhayal kalau saya tinggal di apartemen, bisa bawa pacar dong buat diajak main game bareng? Tapi, saya sudah hampir 10 tahun jomblo, jadi ya percuma juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah kunjungan singkat tersebut, saya jadi berpikir, kalau sampai setelah pandemi saya memiliki pekerjaan dengan penghasilan tinggi di Ibu Kota ataupun kota besar lainnya, saya jadi ingin deh tinggal di apartemen. Aman, privacy terjamin, dan nyaman banget. Bisa patungan sewanya juga kalau berhasil dapat roommate, kayak yang biasa orang-orang Amerika lakukan di sitkom-sitkom seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Friends<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">How I Met Your Mother<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> gitu. Tentunya harus roommate yang sefrekuensi dan ada perjanjian tertulisnya gitu ya!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalaupun nanti saya punya pasangan hidup, kayaknya enak gitu deh tinggal di apartemen daripada kos atau kontrak rumah. Harganya memang sedikit lebih mahal, tapi rasanya sih enak banget, ya. WiFi kenceng, tinggal stok sejumlah makanan untuk beberapa hari di kulkas, bisa tinggal di apartemen berdua sama pasangan saya selama berhari-hari nggak perlu keluar. Paling keluar cuma buat lari pagi atau lari sore doang atau ke minimarket untuk stok makanan dan kebutuhan pokok lainnya aja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika unduhan saya selesai, saya kemudian pulang sendiri, dari lantai 17 ke basement tempat saya memarkirkan motor saya. Asyik juga, ya. Bahkan saya sendiri menganggap naik turun lift ini sebagai rekreasi, lho.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, saat pulang, saya juga kesal karena biaya parkir saya mencapai Rp10.500 dengan tarif Rp1.500 per jam. Jancuk! Tahu gitu parkir di minimarket seberang apartemen aja, biar bayar parkirnya cuma Rp 2.000 dan tinggal bawa helmnya ke atas.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-tinggal-di-apartemen-nggak-cocok-buat-orang-dusun\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Alasan Tinggal di Apartemen Nggak Cocok buat Orang Dusun<\/strong> <\/a><b><\/b><b>dan tulisan\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/raden-muhammad-wisnu\/\"><b>Raden Muhammad Wisnu<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya berkhayal kalau saya tinggal di apartemen, bisa bawa pacar buat diajak main game bareng? Tapi, saya sudah hampir 10 tahun jomblo, ding.<\/p>\n","protected":false},"author":272,"featured_media":111193,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[534,10935],"class_list":["post-109749","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-rumah","tag-tinggal-di-apartemen"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109749","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/272"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=109749"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109749\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/111193"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=109749"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=109749"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=109749"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}