{"id":109427,"date":"2021-02-22T12:45:58","date_gmt":"2021-02-22T05:45:58","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=109427"},"modified":"2021-02-22T12:45:58","modified_gmt":"2021-02-22T05:45:58","slug":"stop-gunakan-sak-ududan-sebagai-satuan-waktu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/stop-gunakan-sak-ududan-sebagai-satuan-waktu\/","title":{"rendered":"Stop Gunakan &#8216;Sak Ududan&#8217; sebagai Satuan Waktu"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekitar tahun 100-200-an sebelum Masehi, ada orang Yunani bernama Hipparchus \u201cmutusi\u201d bahwa satuan waktu itu ada jam, menit, dan detik. Doi juga yang ngenalin angka 60 sebagai patokan waktu. Sampai sekarang sistem ini yang pada akhirnya dipakai oleh peradaban manusia modern saat ini. Penemuan angka 60 sebagai patokan waktu, didasari pada sistem longitude 360<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">o<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> yang dikenalkan oleh orang Yunani itu. Lalu pada 130 M, ada orang gabut lainnya bernama Claudius Ptolemy yang membagi tiap derajat menjadi 60 bagian dengan menyebut setiap bagian dengan partes minutea. Dari situlah asal mula terciptanya sistem waktu jam, menit, dan detik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi pada suatu saat, pada tahun yang belum ditentukan, ditemukan sistem satuan waktu lainnya yang juga digunakan oleh manusia modern saat ini sebagai alat penunjuk satuan waktu yang bernama \u201csak udutan\u201d. Jadi pada suatu masa di sebuah daerah di pulau Jawa, ada seseorang bernama Bambang yang sedang menunggu temannya untuk kerja rodi, teman Bambang tersebut bernama Joko. Oleh karena si Joko ini orangnya pemalas, serta hobinya ngopi dan udut, alhasil Bambang suka kesal kepada Joko. \u201cAyo to Jok, wes dienteni mandore kae lho, gek uwes, mbangane diparani londo ngko\u201d. Dengan kesal Joko menjawab \u201cWah cerewet koe ki, sek sak udutan\u201d. Begitulah sejarah \u201csak udutan\u201d ditemukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemunculan penunjuk waktu ini dan seringnya dipakai oleh orang-orang di sekitar saya, terkadang membuat saya cukup kesal. Saya tidak ada masalah dengan menunggu, tapi menunggu \u201csak udutan\u201d itu seperti menunggu tanpa kepastian, dan itu sangat tidak mengenakkan. Lama orang menghabiskan rokok mereka itu berbeda-beda, tergantung merek rokoknya apa dan cara ngerokoknya seperti apa. Yang ngeselin adalah ketika ada orang yang bilang \u201csek sak udutan\u201d, tapi rokoknya cuma dijepit di jari, nggak diisap gitu, jadinya kan makin lama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maksud saya orang Yunani yang sudah susah-susah menemukan sistem perhitungan waktu seperti sekarang. Mereka harus belajar astronomi dahulu, melakukan perhitungan yang didasari pemikiran ilmiah, dan pada akhirnya menemukan bahwa satu jam sama dengan enam puluh menit, satu menit sama dengan enam puluh detik, masak iya harus tergantikan \u201csak udutan\u201d yang ditemukan Joko karena malas kerja rodi. Bagaimanapun kita harus menghormati penemuan orang gabut Yunani ini atas dedikasinya mutusi satuan waktu di dunia ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya adalah, ketika \u201csak udutan\u201d terus digunakan, nantinya lama-lama bisa menggeser satuan waktu yang sudah ada. Masak iya, ketika nanti kita mau main PS di rentalan, terus ditanya sama mas penjaganya \u201cMau main berapa lama?\u201d, masak jawabnya \u201csepuluh udutan mas\u201d, jangan sampai. Oleh karena itu, kita harus berhenti menggunakan \u201csak udutan\u201d sebagai satuan waktu. Maksud saya, kenapa harus menggunakan sak \u201csak udutan\u201d sebagai satuan waktu, ketika di sekeliling kita kini terdapat banyak teknologi yang dapat menunjukkan waktu. Ada handphone yang setiap hari kita bawa bisa menunjukkan waktu, ada juga teknologi jam tangan yang bisa digunakan untuk menunjukkan waktu. Jadi sudah tidak ada alasan lagi kita memakai \u201csak udutan\u201d sebagai penunjuk waktu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi setelah saya pikir-pikir, munculnya \u201csak udutan\u201d tak lepas dari kebiasaan orang Indonesia dalam menggunakan istilah tertentu untuk mengungkapkan sesuatu. Seperti ada juga satuan waktu lainnya \u201csak untoro\u201d , ini apa lagi coba. Ada juga istilah \u201cmung sak kedipan mata\u201d. Terus ada lagi turunannya yang menyatakan kecepatan, \u201cMung sak lumpatan tekan\u201d dan istilah-istilah lainnya yang belum ditemukan arti secara etimologinya.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengenal-simbolisasi-waktu-yang-digunakan-masyarakat-jawa-tempo-dulu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Mengenal Simbolisasi Waktu yang Digunakan Masyarakat Jawa Tempo Dulu<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/kuncoro-purnama-aji\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kuncoro Purnama Aji<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebat dulu, sebat dulu~<\/p>\n","protected":false},"author":1325,"featured_media":69626,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[309,10834],"class_list":["post-109427","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-rokok","tag-satuan-waktu"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109427","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1325"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=109427"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109427\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/69626"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=109427"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=109427"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=109427"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}