{"id":109009,"date":"2021-02-22T13:50:13","date_gmt":"2021-02-22T06:50:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=109009"},"modified":"2021-02-22T13:50:03","modified_gmt":"2021-02-22T06:50:03","slug":"nggak-usah-jijik-melototin-warna-feses-dan-urin-penting-lho-ini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nggak-usah-jijik-melototin-warna-feses-dan-urin-penting-lho-ini\/","title":{"rendered":"Nggak Usah Jijik Melototin Warna Feses dan Urin. Penting lho Ini!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang (termasuk saya dulu) yang nggak pernah memperhatikan apa warna feses dan urin mereka saat sedang BAB ataupun BAK. Khusus untuk BAB, saya punya pengalaman tersendiri dengan dunia perjambanan ini. Saya adalah orang yang mudah jijik. Sudah tertebak, saya juga bukan orang yang bisa memperhatikan kloset di saat kotoran saya terjun bebas ke dalamnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jelas dong saya juga jadi nggak tahu bagaimana kondisi kotoran saya, selain hanya menebak lewat perasaan yang tertinggal di ujung anus. Hingga akhirnya beberapa bulan lalu, saya mau nggak mau harus mulai memperhatikan bagaimana kondisi kotoran saya akibat usus saya yang ternyata bermasalah. Intinya, feses saya waktu itu berdarah. Ujungnya, saya harus atur ulang semua pola hidup sekaligus memperhatikan kondisi feses dan urin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk apa? Ya jelas untuk deteksi. Kalau kebetulan masalah di usus saya kambuh, bisa segera dideteksi lewat kotoran tersebut supaya bisa ditangani dengan segera pula. Bisakah Anda membayangkan bagaimana rasanya menjadi saya yang tumbuh menjadi seseorang yang mudah jijik, bahkan berbagi gelas dengan orang lain saja saya nggak sudi, malah dipaksa untuk memperhatikan kotoran? Ya walaupun itu kotoran saya sendiri juga, sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jelas awalnya sungguh disgusting. Tapi, lama-kelamaan saya terbiasa juga. Sialan juga rasanya menyadari bahwa saya mulai terbiasa memperhatikan kotoran diri, wqwqwq. Di sisi lain, memperhatikan warna dan tekstur feses plus urin memang banyak manfaatnya, salah satunya ya deteksi keadaan dalam tubuh. Oh iya, dulu ibu saya juga pernah terkena batu ginjal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Indikasi awalnya ya dari urin juga. Waktu itu, setiap blio pipis, selalu ada butiran pasir halus seperti pasir pantai yang mengalir bersamaan dengan urin. Untungnya ibu saya memperhatikan hal tersebut dan bikin penanganannya jadi lebih cepat. Akibat nggak sampai kebablasan, alhamdulillah ibu saya sembuh total sekarang. Dua pengalaman empiris tadi membuktikan sepenting apa memperhatikan kondisi kotoran dari tubuh, termasuk warna feses dan urin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di puskesmas, saya juga pernah melihat poster yang menjelaskan perbedaan bentuk dan tekstur feses yang bisa menjelaskan keadaan tubuh. Berikut saya berikan penjelasan secara umum.<\/span><\/p>\n<h4><b>Tipe #1 Tekstur seperti kacang alias berbiji<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau feses kita begini, jelas kita terkena konstipasi. Bukan jajaran elit global apalagi illuminati, tapi sembelit. Perbanyak minum air putih dan makan sayuran hijau. Kalau perlu, gunakan perbandingan 2:3 antara sayur dengan nasi dan olahraga cukup.<\/span><\/p>\n<h4><b>Tipe #2 Tekstur kasar namun masih nempel<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Silakan para jamaah Mojokiyah untuk membayangkan sendiri bagaimana bentuknya, hahaha. Intinya, mirip seperti tipe 1, hanya saja tidak berbiji alias masih menempel satu sama lain. Dari pengalaman pribadi saya, tipe 2 ini jelas memerlukan tenaga ekstra untuk mengeluarkannya. Kalau dibiarkan, bisa jadi bertambah parah dan masuk ke tipe 1.<\/span><\/p>\n<h4><b>Tipe #3 Seperti sosis tapi teksturnya retak<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini adalah bentuk yang normal dan bisa terbilang sehat.<\/span><\/p>\n<h4><b>Tipe #4 Persis sosis<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut poster yang saya baca di puskesmas, tipe 4 adalah tipe yang normal dan sehat. Kalau sudah begini, tinggal di-maintenance saja kesehatannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari segi tekstur, sebenarnya jenis feses itu ada tujuh. Cek sendiri di lah, ya. Jangan mager. Sedangkan dari segi warna, feses dibedakan jadi beberapa jenis lagi, yaitu sebagai berikut:<\/span><\/p>\n<p><b>Cokelat<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah warna feses yang normal.<\/span><\/p>\n<p><b>Kehijauan<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> (seperti lumut tua), normal apabila disertai dengan tekstur yang normal pula. Dari pengalaman pribadi saya, feses bisa jadi kehijauan akibat banyak makan sayur. Kalau habis makan pecel yang isinya daun semua, auto jadi begini deh warnanya, wqwqwq.<\/span><\/p>\n<p><b>Merah<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> ini memang bikin paranoid, sih. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, warna feses merah ini terjadi pada saya. Tapi, sebenarnya nggak perlu panik. Cukup langsung konsultasi ke dokter saja. Sependek pengetahuan dan pengalaman saya, biasanya feses merah terjadi akibat ada pendarahan atau peradangan dalam usus bagian bawah. Nah, untuk mengetahui lebih jelas usus bagian mana yang lagi cedera, ya caranya hanya konsultasi ke dokter saja.<\/span><\/p>\n<p><b>Hitam<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, biasanya terjadi akibat pendarahan di usus bagian atas. Ujungnya ya jaga pola hidup bersih dan sehat. Konsultasi ke dokter agar lebih pasti, supaya nggak jadi self diagnose.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sama halnya seperti tekstur dan bentuk, warna feses sebenarnya ada berbagai jenis. Tapi, mohon maafkan saya yang sudah nggak kuat menahan jijik menjelaskan semua ini. Jamaah Mojokiyah yang terhormat, jangan ikutan jijik ya, ini bisa dipelajari kok. Intinya, jangan acuh sama keadaan kotoran diri. Dan jangan pula self diagnose apabila terjadi hal yang tidak umum pada kotoran Anda. Duh, warna feses aja diperhatiin, apalagi pacar~<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bab-di-terminal-itu-bayar-lho\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">BAB di Terminal itu Bayar Lho! <\/a><\/b><b>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/vivi-wasriani\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Vivi Wasriani<\/a><\/b><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Terpujilah kalian yang suka ngecek warna feses setelah memenuhi panggilan alam.<\/p>\n","protected":false},"author":1034,"featured_media":95564,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6,8],"tags":[256,2525,10836],"class_list":["post-109009","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-featured","tag-kesehatan","tag-penjaskes","tag-warna-feses"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109009","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1034"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=109009"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109009\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/95564"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=109009"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=109009"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=109009"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}