{"id":108602,"date":"2021-02-22T11:01:18","date_gmt":"2021-02-22T04:01:18","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=108602"},"modified":"2021-02-22T11:12:20","modified_gmt":"2021-02-22T04:12:20","slug":"jenis-jenis-tawa-berdasarkan-cara-ketawa-dalam-bahasa-sunda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jenis-jenis-tawa-berdasarkan-cara-ketawa-dalam-bahasa-sunda\/","title":{"rendered":"Jenis-jenis Tawa Berdasarkan Cara Ketawa dalam Bahasa Sunda"},"content":{"rendered":"<p>&#8220;Seuri&#8221; adalah kata bahasa Sunda yang dalam bahasa Indonesia artinya ketawa. Nah, ketawa dalam bahasa Sunda nggak hanya sebatas kata &#8220;seuri&#8221;. Tapi, masyarakat non-Sunda umumnya mengetahui kalau hanya ada satu kata bahasa Indonesia yang artinya ketawa, yaitu &#8220;seuri&#8221;. Dalam bahasa Sunda, &#8220;seuri&#8221; masih bisa dibagi berdasarkan bagaimana cara orang tertawa.<\/p>\n<p>&#8220;Seuri&#8221; sendiri merujuk kepada orang yang tertawa bagaimana pun caranya orang ini ketawa. Jadi, selama orang masih tertawa disebut &#8220;seuri&#8221;, bisa-bisa saja kok dan nggak salah. Namun, nggak ada salahnya jika kita mengetahui pembagian tawa berdasarkan cara orang tertawa. Nah, berikut adalah jenis-jenis ketawa dalam bahasa Sunda berdasarkan pembagian tersebut.<\/p>\n<h4>#1 Nyakakak<\/h4>\n<p>Ketawa nyakakak ditandai dengan suara tawa yang nyaring dan durasi waktu yang cukup lama. Dalam bahasa gaul sehari-hari, nyakakak biasa juga disebut ngakak. Bila diartikan dalam bahasa indonesia artinya tertawa terbahak-bahak. Penyebab orang ketawa nyakakak yaitu karena ada hal lucu sehingga mengundang rasa geli. Misalnya, saat menyaksikan Stand Up Comedy.<\/p>\n<h4>#2 Cikikik<\/h4>\n<p>Ketawa cikikik adalah tawa yang nggak mengeluarkan suara karena ditahan. Tapi, biasanya bibir orang yang tertawa cikikik agak bergerak-gerak lantaran berusaha menahan tawa. Orang tertawa cikikik karena ingin menertawakan suatu hal, tapi nggak ingin diketahui orang lain. Misalnya, ingin menertawakan dosen, tapi nggak ingin blio tahu. Terkadang, orang yang tertawa cikikik menutup bibirnya, misalnya dengan telapak tangan.<\/p>\n<h4>#3 Nyengir<\/h4>\n<p>Masyarakat umum memandang nyengir sama dengan senyum. Sebagian masyarakat Sunda pun berpandangan demikian. Jadi, kalau ada orang yang suka tebar pesona senyum-senyum di mana-mana, sering kali orang ini disebut suka cengar-cengir. Padahal, nyengir itu nggak sama dengan senyum. Tertawa nyengir adalah dengan tertawa yang nggak mengeluarkan suara. Tapi, tetap menampakkan bagian dalam mulut termasuk gigi dan lidah.<\/p>\n<p>Biasanya, orang tertawa nyengir setelah mengalami kesialan kecil. Misalnya, kamu lagi jalan-jalan di trotoar. Tiba-tiba kamu terpeleset, lalu menjadi tontonan banyak orang. Setelah bangun dari jatuh, kamu tertawa nyengir. Sudah tentu saat tertawa nyengir, akan tampak gigi dan lidah.<\/p>\n<h4>#4 Barakatak<\/h4>\n<p>Ketawa barakatak yaitu tertawa dengan suara nyaring. Terkadang, saking kerasnya suara tawa bisa mengagetkan orang di sekitarnya. Berbeda dengan ketawa ngakak yang berdurasi waktu cukup lama, durasi waktu orang yang ketawa barakatak cenderung sebentar. Karena durasi waktunya sebentar, biasanya suara tawa barakatak jauh lebih nyaring. Penyebab orang ketawa ini biasanya melihat ada hal-hal lucu yang mengundang rasa geli.<\/p>\n<p>Jadi, kalau kamu tiba-tiba terkejut mendengar teman Sunda yang tertawa seperti itu, kamu bisa menegurnya seperti ini, \u201cCicing atuh. Tong seuri barakatak, anjing! Gandeng goblog!\u201d<\/p>\n<h4>#5 Ceuleukeutek<\/h4>\n<p>Ketawa ceulekeutek adalah ketawa dengan suara yang pelan dan durasi waktu sebentar. Penyebabnya sama dengan jenis ketawa sebelumnya, yaitu ada hal-hal yang menggelikan sehingga mengundang rasa tawa.<\/p>\n<h4>#6 Nyalakatak<\/h4>\n<p>Ketawa nyalakatak mirip dengan ketawa nyakakak, yaitu durasi waktu ketawa cukup lama dan penyebabnya adalah hal-hal yang lucu. Tapi, bedanya terletak pada suara tawa yang dikeluarkan. Kalau suara nyakak itu nyaring, suara ketawa nyalakatak itu cenderung pelan. Karena pelan, cenderung nggak mengganggu orang di sekitarnya.<\/p>\n<p>Itulah jenis-jenis tawa berdasarkan cara orang ketawa dalam bahasa Sunda. Nah, gimana? Pengetahuan kamu soal serba-serbi bahasa Sunda semakin bertambah, kan? Semoga tulisan semakin menambah wawasan kita tentang kekayaan bahasa Sunda~<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/penggunaan-kata-anjing-dan-goblog-untuk-percakapan-bahasa-sunda\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> Penggunaan Kata \u2018Anjing\u2019 dan \u2018Goblog\u2019 untuk Percakapan Bahasa Sunda<\/a> dan<\/strong><strong>\u00a0tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/rahadian\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Rahadian<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>di sini.<\/em><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hmmm, itu suara ketawa nyakakak atau nyalakatak atau barakatak, ya?<\/p>\n","protected":false},"author":506,"featured_media":109559,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6512,2376],"class_list":["post-108602","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bahasa-sunda","tag-ketawa"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/108602","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/506"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=108602"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/108602\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/109559"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=108602"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=108602"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=108602"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}