{"id":108377,"date":"2021-02-17T12:03:31","date_gmt":"2021-02-17T05:03:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=108377"},"modified":"2021-02-16T21:23:09","modified_gmt":"2021-02-16T14:23:09","slug":"kota-malang-sebaiknya-segera-ganti-julukan-jadi-kota-seribu-parkir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kota-malang-sebaiknya-segera-ganti-julukan-jadi-kota-seribu-parkir\/","title":{"rendered":"Kota Malang Sebaiknya Segera Ganti Julukan Jadi Kota Seribu Parkir"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gaes, jika kalian ingin liburan atau tinggal di Kota Malang, perlu rasanya kalian menganggarkan biaya untuk kebutuhan parkir di malang. Tarif parkirnya memang masih standar, namun banyaknya spot parkir di setiap sudut kota, banyak membuat beberapa orang sambat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sithik-sithik parkir, sithik-sithik parkir, megelno, mungkin itulah sedikit sambatan dari beberapa orang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hampir di setiap tempat mulai dari kantor kelurahan, apotek, tempat fotocopy, warung makan, minimarket, dan setiap tempat jual beli tidak luput dari peluit parkir. Di Kota Malang kalian akan sulit menemukan ATM tanpa tukang parkir, kecuali jika kalian memanfaatkan ATM yang berada di dalam kampus, juga ATM SPBU. Bahkan di beberapa Indomaret\/Alfamart yang jelas jelas ada tulisan \u201cParkir Gratis\u201d, masih aja dijadikan lahan parkir dengan tukang parkirnya yang juga siapa untuk adu mulut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kalian seorang mahasiswa perantauan yang kuliah di Malang, setidaknya dalam dalam satu hari kalian harus menganggarkan minimal Rp8.000 untuk biaya parkir. Jika kalian dalam sehari makan tiga kali makan di luar, ke ATM, dan minimarket kalian wajib mengeluarkan Rp10.000 untuk parkir. Saya tidak tahu mengapa hampir di setiap tempat di Kota Malang selalu memiliki tempat parkir lengkap dengan jukirnya, ini yang lama kelamaan membuat saya ngelus dada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Militansi tukang parkir di Kota Malang tak perlu dipertanyakan lagi. Bahkan ada seorang netizen di Twitter dengan username @kotobaurasai membagikan momen saat tukang parkir melakukan aksinya, walaupun saat itu sedang chaos saat aksi penolakan omnibus law di depan kantor DPRD Kota Malang.<\/span><\/p>\n<blockquote class=\"twitter-tweet\">\n<p dir=\"ltr\" lang=\"in\">massa \u201cwoi kabur woi kabur\u201d<br \/>\nkang parkir \u201ceits mau kemana, bayar dulu\u201d<\/p>\n<p>contohlah kang parkir ini yg ttp menjalankan tugasnya walau ricuh <a href=\"https:\/\/t.co\/4ifa37t2kn\">pic.twitter.com\/4ifa37t2kn<\/a><\/p>\n<p>\u2014 Eizan (@KotobaUrusai) <a href=\"https:\/\/twitter.com\/KotobaUrusai\/status\/1314190103686774784?ref_src=twsrc%5Etfw\">October 8, 2020<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><script async src=\"https:\/\/platform.twitter.com\/widgets.js\" charset=\"utf-8\"><\/script><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam postingan tersebut dengan kondisi di mana massa aksi dihujani tembakan gas air mata dan water cannon, sang tukang parkir juga ikut gercep berlarian untuk narik karcis dan uang parkir dari salah satu massa aksi yang kabur menggunakan motor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang paling barbar adalah aksi penarikan parkir liar di Kota Malang viral di media sosial. Baru baru ini bus wisatawan yang parkir di Alun-alun merdeka Kota malang menjadi korban. Sang supir bus ditarik hingga Rp50.000 oleh petugas tanpa rompi, yang kemudian sang sopir menanyakan karcisnya, namun petugas tersebut menjawab tidak ada. Hal ini sangat meresahkan khususnya bagi supir bus wisatawan yang berkunjung ke Kota Malang menjadi melarat mendadak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kalian ke Pasar Besar Kota Malang dengan membawa mobil, usahakan kalian membawa uang yang pas (Rp3.000) untuk bayar parkir, jika kalian membayarnya dengan uang yang lebih dari itu kalian harus siap-siap mengikhlaskannya kalau tidak mau adu mulut dengan kang parkirnya. Saya termasuk juga pernah menyumbangkan Rp7.000 untuk kelangsungan hidupnya. Saya sambil memundurkan kendaraan dan memberikan uang 10.000 an.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDuit cilik gaonok, Mas (Duit kecil gak ada ya, Mas)?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOnok e 50-an, Mas (adanya 50-an, Mas).\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIki lek nyupuk susuk kesuwen mas leren ning mburi disik sak aken sing ndik mburi, ikhlas ke wae yo, Mas? Mene maneh lek rene nggowo duit cilik wae yo, Mas (ini kalau ngambil kembalian kasihan yang belakang mas, ikhlaskan saja ya, Mas ? besok kalau kesini lagi bawa uang kecil aja).\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLoh mas kok ngunu se (loh, Mas, kok gitu sih)\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWis, Mas, cepet maju o, Mas\u201c<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kira-kira itulah sedikit percakapan sebelum saya mengikhlaskan Rp7.000 saya<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak jelasnya zona parkir dan bebas parkir inilah merupakan ladang basah bagi para tukang parkir liar. Adanya identitas berupa rompi hijau, juga belum menjamin kepastian legalitas lahan parkir. Coba saja parkir di jajaran resto di Jalan Jakarta atau jajaran perkopian di Jalan Sudimoro, masih ada oknum tukang parkir berompi yang tidak menyerahkan karcis kecuali diminta, kan ngeselin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Puncak sambatan dari masyarakat adalah munculnya setidaknya dua petisi online yakni di situs petisionline.id dengan judul \u201cMalang Darurat Parkir\u201d dengan 11.246 tanda tangan, juga di laman change.org dengan judul \u201cMalang Darurat Parkir Liar\u201d dengan 504 pendukung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyaknya tukang parkir tidak serta merta membuat Kota Malang aman dari pencurian sepeda motor (curanmor). Di beberapa tempat kerap kali terjadi curanmor, bahkan menurut data Polresta Kota Malang selama 2020 setidaknya terjadi 1.251 kasus kejahatan curanmor. Hal inilah yang yang bikin banyaknya tukang parkir di Kota Malang jadi terkesan tidak memberi dampak yang signifikan terhadap keamanan ranmor. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Sekali lagi, ini bukan masalah beberapa ribu yang melayang. Uang bisa dicari, tapi ini masalah kejelasan regulasi yang harusnya ditaati.<\/span><\/p>\n<p>Nah, Malang kan dijuluki Paris of East Java. Saya punya usul kalau sebaiknya Kota Malang ganti julukan jadi Kota Seribu Parkir, ya biar sesuai sama realitasnya aja.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-spare-part-motor-yang-sering-hilang-saat-sedang-di-parkiran\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">4 Spare Part Motor yang Sering Hilang Saat Sedang di Parkiran<\/a><\/strong><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0<i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sekali semprit, kelar.<\/p>\n","protected":false},"author":1405,"featured_media":46211,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[10740,10739],"class_list":["post-108377","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-kota-malang","tag-tukang-parkir-meresahkan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/108377","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1405"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=108377"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/108377\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46211"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=108377"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=108377"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=108377"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}