{"id":108180,"date":"2021-02-16T06:06:48","date_gmt":"2021-02-15T23:06:48","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=108180"},"modified":"2021-02-16T00:25:35","modified_gmt":"2021-02-15T17:25:35","slug":"alasan-pulpen-hi-tec-c-digandrungi-santri-dan-kehilangannya-bikin-nyeri-hati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-pulpen-hi-tec-c-digandrungi-santri-dan-kehilangannya-bikin-nyeri-hati\/","title":{"rendered":"Alasan Pulpen Hi-Tec-C Digandrungi Santri dan Kehilangannya Bikin Nyeri Hati"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun harganya terbilang jauh di atas rata-rata pulpen pelajar pada umumnya, barang yang satu ini pasti tetap dibeli santri, yakni pulpen Hi-Tec-C.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu waktu awal saya mondok, saya juga termasuk salah satu orang yang kudu banget beli pulpen Hi-Tec-C ini. Alasannya sih, apalagi kalau bukan saya waktu itu yang masih ndat-ndet waktu nulis pegon.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harga satu pulpen ini ada di kisaran Rp18 ribu. Namun, itu dulu. Sekarang mah, udah ada di atas Rp20 ribu. Itungannya mahal banget nih kalau mau dibanding harga sama satu bungkus nasi yang waktu itu cuma dua ribu perak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun dengan harga yang rada nggak waras, pulpen\u00a0 Hi-Tec-C ini tetep aja rame dipakai santri. Ya gimana lagi, wong kualitas ketebalannya nomor satu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketebalan yang diberikan si Hi-Tec-C ini cuma 0,3 mm. Dan ini sangat membantu santri waktu lagi ngaji untuk melancarkan aktivitas nulis pegon-nya. Mengingat, jarak antar baris pada kitab biasanya nggak besar. Makanya, 0,3 mm itu sangat membantu sekaleee. Selain itu, tinta yang keluar pun woles nggak ngegas. Nggak bikin kitab memar tinta atas bawah kanan kiri. Intinya, kitab bakalan tetep rapi, no morat-marit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika mempertanyakan garansi akan kelancaran tinta yang keluar dari pulpen ini, saya sih nggak bisa janji. Bukan berarti dengan harga mahal lantas dia nggak akan macet-macet. Edan bae kaya gitu mah, hahaha.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama kurun waktu 6 tahun saya pakai si pulpen Hi-Tec-C ini, nggak jarang saya kena panik attack pas tiba-tiba dia macet dan nggak keluar tinta. Auto muhasabah diri saya, dah. \u201cYa Allah, perasaan ini pulpen nggak jatuh, tapi kok macet. Apa karena\u2026 Allah, Allah, ini kayaknya karena kena iler tadi malem waktu takror.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kendati demikian, sesuai rumor yang beredar di pondok jika mendapati pulpen Hi-Tec-C macet, katanya sih tinggal dibakar aja ujungnya. Bakar sebentar 2-3 detik abis itu tarik dari api. Cobain coret ke kertas. Kalau belum keluar juga tintanya, ya tinggal bakar lagi. Namun, nggak usah emosi. Ntar malah kebakar semua tuh pulpen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, kekurangan pulpen Hi-Tec-C ini bak kenangan, dilupakan oleh kebanyakan santri. Ketebalannya yang 0,3 mm dan kesan eksklusif si pulpen sendiri, seolah-olah menutup rapat kekurangannya. Kekurangannya ini tetap membuat santri berbondong-bondong beli Hi-Tec-C lagi jika Hi-Tec-C sebelumnya jatuh ke lantai, mati, dan nggak nyala sama sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perlu diketahui bahwa banyaknya penggemar pulpen Hi-Tec-C tak lantas menutup kemungkinan untuk kecolongan. Saya sendiri kiranya sudah lebih dari satu kali kehilangan pulpen Hi-Tec-C mahal ini. Dan spontan membuat saya merasa kehilangan, terpukul sekali, sakit hati. Soalnya nyadar bakal auto miskin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harganya yang bujubuneng itu membuat saya kudu ngirit-ngirit duit jajan tiap hari ketika hendak membelinya. Dan ketika menyadari kehilangannya, wes nggak ngerti lagi, sih. Padahal, beragam upaya sudah saya kerahkan untuk memberi ciri khusus atau sebagai cap kepemilikan pulpen. Mulai dari memberi gantungan panjang dan guede di tutupnya, menaruh stiker nama, sampai klimaksnya saya tulisin \u201cUmar al Faruq\u201d. Tapi, tetep aja ilang. Saya nggak tau ke mana itu pulpen berada. Apakah jatuh keselip, atau diambil pihak lain yang jelasnya sih nggak mungkin itu jin atau setan. Wong mereka takut kok, sama sematan \u201cUmar al Faruq\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk biaya hidup santri yang jarang melakukan aktivitas hedon berarti, dan saya pribadi sehari makan tiga kali plus jajan-jajannya yang nggak lebih dari sepuluh ribu (kalau lagi puasa bisa lebih irit lagi), kehilangan pulpen Rp18 ribu itu udah berasa kayak kecolongan sebagian banyak isi celengan. Hati ini auto berasa kek ada kamu, cenat-cenut.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lika-liku-kehidupan-santri-di-pesantren-perihal-kisah-asmaranya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Lika-liku Kehidupan Santri di Pesantren Perihal Kisah Asmaranya<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/nuriel-shiami-indiraphasa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Nuriel Shiami Indiraphasa<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sesuai rumor yang beredar di pondok jika mendapati pulpen Hi-Tec-C macet, katanya sih tinggal dibakar aja ujungnya 2-3 detik.<\/p>\n","protected":false},"author":825,"featured_media":108206,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[10716,10715,3301],"class_list":["post-108180","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-pegon","tag-pulpen-hi-tec-c","tag-santri"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/108180","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/825"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=108180"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/108180\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/108206"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=108180"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=108180"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=108180"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}