{"id":107903,"date":"2021-02-20T12:17:41","date_gmt":"2021-02-20T05:17:41","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=107903"},"modified":"2022-01-06T18:17:55","modified_gmt":"2022-01-06T11:17:55","slug":"payung-teduh-masih-tetap-teduh-didengar-meski-ditinggal-mas-is","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/payung-teduh-masih-tetap-teduh-didengar-meski-ditinggal-mas-is\/","title":{"rendered":"Payung Teduh Masih Tetap Teduh Didengar meski Ditinggal Mas Is"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Payung teduh merupakan band yang cukup digemari anak muda termasuk saya. Band yang terbentuk pada 2007 ini terkenal dengan lagu-lagunya yang merdu dengan alunan musik yang ciamik. Bisa dibilang Payung Teduh meledak setelah mereka mengeluarkan lagu \u201cAkad\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu \u201cAkad\u201d menurut saya adalah salah satu lagu yang paling sering diputar di pesta pernikahan selain lagu \u201cBojo Galak\u201d yang dipopulerkan Nella Kharisma dan Via Vallen. Meskipun meledak, lagu \u201cAkad\u201d ini sempat menimbulkan kontroversi bagi beberapa kalangan penggemar Payung Teduh karena musikalitasnya berbeda sekali dengan lagu-lagu sebelumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada juga yang berkata \u201cAkad\u201d adalah lagu jelek. Mungkin yang bilang jelek orang jomblo sehingga tidak relate dengan lagunya atau orang yang punya pengalaman nggak menyenangkan terkait lagu ini. Entahlah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Formasi Payung Teduh yang paling terkenal adalah ketika personilnya masih Is sebagai vokalis dan Comi pemain bass, Cito sebagai drummer, lalu Ivan sebagai pemain ukulele dan pemain terompet. Pada 2017, Mas Is vokalis payung teduh yang suaranya telah lekat sekali dengan penggemar justru menyatakan keluar dari band karena ia merasa sudah jenuh dan ingin mencari tantangan lain serta lebih fokus untuk mengurus keluarga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walaupun kabar keluarnya vokalis dari band sudah sering kita dengar, namun keluarnya Mas Is dari Payung Teduh tetap membuat fans sedih dan menganggap bahwa band ini tidak asyik lagi. Saya dulu juga berpikir demikian. Dengan keluarnya Mas Is menandakan Payung Teduh sudah berakhir. Hingga pada suatu hari ada notifikasi dari hape saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada awalnya saya mengira itu pesan dari pacar saya. Namun, kemudian saya teringat bahwa saya masih jomblo dan tidak punya pacar. Benar saja ternyata itu notifikasi dari YouTube yang mengabarkan bahwa Payung Teduh telah merilis konten baru. Dalam hati saya berkata, \u201cApa nich?\u201d dan ternyata ada lagu baru yang berjudul \u201cLagu Duka\u201d dengan vokalis Mas Ivan yang biasanya bermain ukulele atau terompet. Memang, di lagu-lagu sebelumnya Mas Ivan sudah mengisi beberapa bagian lagu dengan vokalnya, jadi suaranya sudah tidak asing lagi tentunya bagi fans.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah mendengarkan lagu tersebut saya menyadari bahwa Payung Teduh masih ada dan jiwa musiknya sama sekali tidak hilang walaupun sudah ditinggal Mas Is. Kekhasan aransemen musik yang berunsur folk keroncong tradisional tetap ada tentunya dengan lirik dengan makna yang mendalam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLagu duka\u201d adalah lagu pembuka dari album Payung Teduh terbaru yang berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mendengar Suara. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam mengerjakan album ini mereka bekerja sama dengan Teater Pagupon dan banyak lagu yang digunakan untuk mengiringi pementasan teater bertajuk \u201cDedes\u201d. Dari kesepuluh lagu di album, saya paling suka lagu<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDiam\u201d baik yang versi keroncong maupun yang versi dangdut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak mengira setelah ditinggal Mas Is, dengan waktu yang relatif singkat Payung Teduh dapat mengeluarkan album terbaru. Yang menarik dari album baru ini adalah vokalisnya yang berbeda-beda tiap lagu sehingga memberikan cita rasa musik yang bervariasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya meskipun ditinggal Mas Is, Payung Teduh tetaplah band yang sejak dulu saya sukai dengan musik khasnya. Mereka masih terus berkarya dan lagu-lagunya tetap teduh didengar. Walau kini tak bersama Mas Is lagi, jiwa dari musik yang dulu selalu menemani kita masihlah sama. Saya sarankan kawan-kawan untuk mencoba mendengar lagu-lagu terbaru di album mereka. Percayalah bahwa apa yang kita dengar tetap meneduhkan.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengkritisi-anak-indie-yang-tidak-tahu-arti-musik-indie\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Mengkritisi Anak Indie yang Tidak Tahu Arti Musik Indie<\/a> dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/zein-sakti\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Zein Sakti<\/a> lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><em><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada akhirnya meskipun ditinggal Mas Is, Payung Teduh tetaplah band yang sejak dulu saya sukai dengan musik khasnya.<\/p>\n","protected":false},"author":209,"featured_media":28839,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13084],"tags":[2510,10808],"class_list":["post-107903","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-musik","tag-musik-indie","tag-review-musik"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107903","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/209"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=107903"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107903\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/28839"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=107903"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=107903"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=107903"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}