{"id":1079,"date":"2019-05-14T11:00:20","date_gmt":"2019-05-14T04:00:20","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=1079"},"modified":"2021-10-08T13:09:42","modified_gmt":"2021-10-08T06:09:42","slug":"memahami-perbedaan-gaya-chatting-tiap-individu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/memahami-perbedaan-gaya-chatting-tiap-individu\/","title":{"rendered":"Memahami Perbedaan Gaya Chatting Tiap Individu"},"content":{"rendered":"<p>Dalam berkomunikasi, sudah menjadi kebiasaan semua orang pada masa kini menggunakan fitur chat, sesuai selera. Ada yang menggunakan WhatsApp, LINE, Telegram, <span style=\"text-decoration: line-through;\">Blackberry Messenger\/<a href=\"https:\/\/www.bbm.com\/\">BBM<\/a><\/span>, dan lain sebagainya. Dibanding SMS yang pastinya akan mengeluarkan biaya lebih mahal ketimbang chat via aplikasi.<\/p>\n<p>Sebetulnya chat pun tidak gratis, karena menggunakan kuota, kembali lagi, tentunya lebih hemat dan murah. \u00a0Meski ada fitur paket SMS, saat ini chat via aplikasi jauh lebih banyak digemari. <span style=\"text-decoration: line-through;\">Saya sendiri masih menyukai komunikasi via email. Selalu ada sensasi yang berbeda saat berbalas email.<\/span><\/p>\n<p>Baik menggunakan chat via aplikasi, SMS, atau <em>email<\/em>, dapat dipastikan ada dua tipe orang dengan gaya berkomunikasi yang berbeda: <strong>pertama<\/strong>, seseorang yang rela mengetik panjang dan langsung menjelaskan maksud juga tujuan. <strong>Kedua<\/strong>, seseorang yang mengetik dengan singkat, pendek\u2014kadang terlalu basa-basi\u2014kadang bikin penasaran, seringkali bikin geregetan\u2014karena percakapan yang muncul hanya per-<em>bubble<\/em>\/<em>bar.<\/em><\/p>\n<p>Saya sendiri adalah tipe yang pertama\u2014mengetik obrolan langsung panjang juga menceritakan maksud dan tujuan. Jelas dan lugas. Meski seringkali saya kena sindiran teman-teman, mereka bilang, saya ini mau <em>chattingan<\/em> atau bikin naskah pidato, kok teksnya bisa panjang dan bisa sampai beberapa paragraf.<\/p>\n<p>Saya menyadari, kelebihan dari gaya <em>chattingan<\/em> seperti ini adalah langsung dengan jelas menyampaikan informasi, entah penjelasan atau pertanyaan, dari awal sampai akhir. Kekurangannya jelas bagi orang yang malas membaca, rasanya \u201cpegal\u201d liat teks segitu banyak. Apalagi bagi orang yang sering menanyakan inti cerita dari suatu buku atau film, mungkin dia akan bayar jasa joki baca chat panjang untuk menceritakan inti dari chat yang dia dapat.<\/p>\n<p>Saya pribadi, justru merasa rela baca chat yang panjang dibanding baca chat singkat dan bikin pegal hati, karena penasaran maksud isi chat itu apa. Bahkan pernah suatu ketika, karena teman saya terbiasa chat singkat sedangkan saya sedang dalam kondisi buru-buru, saya langsung menegur, \u201ccepetan bales chatnya, geregetan, nih!\u201d Hal ini karena masih saja terlihat \u201c<em>typing&#8230;.\u201d<\/em> pada kolom chat bagian atas.<\/p>\n<p>Kelemahan untuk yang terbiasa mengetik singkat, bagi pembaca khususnya, selain bikin penasaran, bosan, notifikasi ponsel pun bergetar tiada henti. Berturut-turut. Jelas mesti dalam mode <em>silent<\/em> bagi si penerima pesan, jika tidak, adalah kegaduhan dari bunyi notifikasi yang didapat.<\/p>\n<p>Lagipula, apa susahnya, sih, mengetik dan mengirim chat langsung panjang dan menyampaikan isi maksud dan tujuan? Bagi siapa yang suka mengirim pesan secara singkat, biasanya sewaktu mengucapkan selamat ulang tahun kepada teman yang ada di grup chat, hanya akan mengucap, \u201cHBD WYATB\u201d (<em>Happy Birthday, Wish You All The Best<\/em>). Halah, niat ngucapin apa nggak, <em>sih<\/em>?<\/p>\n<p>Kalaupun panjang, biasanya hanya akan <em>forward<\/em> dari yang lain atau hanya sekadar <em>copy-paste<\/em>. Biasanya yang akan diedit hanya jumlah emoji kue ulang tahun, jumlah terompet, dan perubahan atau penambahan <em>emoticon<\/em> pada ucapan. <em>Haish<\/em>, kelakuan yang seperti ini lama-lama bikin risih. Tentu, hal ini juga sangat berpotensi saat menyampaikan ucapan selamat hari lebaran nanti, akan ada banyak ungkaian kata yang sama, asalnya dari <em>forward<\/em> chat sebelumnya, dan tinggal mengubah nama di akhir ucapan. Semisal, \u201cSambat &amp; Keluarga Berencana\u201d.<\/p>\n<p>Perlu diketahui, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/alx\/esai\/pdkt-gebetan-era-160-karakter-sms-tak-semudah-itu-bambang\/\">SMS<\/a> atau jika dijabarkan menjadi <em>Short Message Service<\/em> adalah salah satu fitur yang terdapat dalam ponsel. Walau ada kata <em>\u201cshort\u201d<\/em> bukan berarti pesan yang dikirim itu selalu pendek. Apa salah jika saya kirim dalam teks yang panjang dan sampai dengan 3 <em>pages?<\/em><\/p>\n<p>Itu selalu menjadi salah satu pembelaan saya, jika ada yang <em>ngedumel<\/em> chat yang saya kirim selalu panjang. Tentu, ini pun bisa berbalik kepada pembelaan saya; \u201cLho justru kata <em>short<\/em> pada SMS ya biar teks yang dibuat singkat saja, ga perlu panjang seperti mau bikin esai yang minimal harus 800 kata\u201d.<\/p>\n<p>Sebetulnya tidak ada salah maupun benar ihwal perbedaan gaya <em>chattingan<\/em>, ini semua hanya soal kebiasaan atau rasa nyaman dalam berkomunikasi. Lalu, pesan bisa disampaikan dengan baik dan dipahami <span style=\"text-decoration: line-through;\">seperti diriku yang selalu memahamimu<\/span> oleh lawan dalam <em>chatting<\/em>. Sehingga komunikasi dua arah dapat terjalin dengan baik.<\/p>\n<p>Yang terpenting adalah harus ada teman <em>chatting<\/em>. Sebab, salah satu syarat terjalinnya komunikasi antarpersonal adalah adanya lawan bicara (teman ngobrol). Kalau sendirian, namanya merenung, Bambang~<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Baik menggunakan chat via aplikasi, SMS, atau email, dapat dipastikan ada dua tipe orang dengan gaya berkomunikasi yang berbeda.<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":1234,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[305,308,306,307],"class_list":["post-1079","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-chatting","tag-line","tag-pergaulan","tag-whatsapp"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1079","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1079"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1079\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1234"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1079"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1079"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1079"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}