{"id":107851,"date":"2021-02-14T09:01:27","date_gmt":"2021-02-14T02:01:27","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=107851"},"modified":"2021-02-13T23:23:58","modified_gmt":"2021-02-13T16:23:58","slug":"kencan-di-restoran-jepang-bukan-romantis-justru-ribet-pakai-sumpit-kencan-amburadul-8","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kencan-di-restoran-jepang-bukan-romantis-justru-ribet-pakai-sumpit-kencan-amburadul-8\/","title":{"rendered":"Kencan di Restoran Jepang: Bukan Romantis Justru Ribet Pakai Sumpit. Kencan Amburadul #8"},"content":{"rendered":"<p><em>Sumpit dan sushi tampaknya memang sulit dipisahkan dari restoran Jepang. Padahal bagi saya, keduanya tidak cocok, sangat tidak cocok.<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan di malam yang dingin dan gelap sepi benak saya terbayang pada kisah kita. Untuk kamu, perempuan yang ada dalam kenangan, atau apalah namanya. Perlu kamu tahu, bukan maksud saya mengenang kembali momen paling ampas dalam dunia per-bucin-an yang pernah teralami ini, sama sekali bukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua ini hanya karena saya terpaksa dan dipaksa oleh redaktur Mojok untuk mengorek kembali cerita itu. Sebuah cerita yang seharusnya sudah saya lupakan dan memang begitu. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Mulai dari sini kita akan berhenti memakai kata \u201ckamu\u201d dan menggantinya dengan kata ganti ke-3. Pasalnya, ini memang bukan tentang kamu, melainkan tentang sumpit dan sushi: dua hal yang sangat tidak cocok dan tidak boleh dipertemukan, terutama dalam satu meja makan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita melintas ke masa pada 2018 silam atau mungkin 2019. Sudah saya bilang, saya tidak terlalu mengingatnya. Saat itu, saya yang masih tergolong sebagai seorang fresh graduate sudah memiliki pekerjaan sebagai tenaga pendidik di salah satu sekolah elite di Makassar. Saya katakan elite karena SPP-nya sekitar Rp1 jutaan per-bulan. Selain itu, anak-anak yang sekolah di sana berasal dari kalangan menengah ke atas. Mereka kalau dijemput pakai mobil dan bikin Jalan Hertasning perbatasan Gowa-Makassar terlihat seperti Jakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja dengan status sebagai pemuda yang sudah memiliki pekerjaan, ditambah dengan wajah saya yang good looking, plus kepribadian yang humoris tapi intelek, saya memiliki segalanya untuk menjadi seorang F*kboy profesional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu hal yang membuat saya berani lebih dekat dengan wanita adalah karena saya merasa sudah memiliki pekerjaan. Setidaknya kalau harus gengsi-gengsian ngajak mereka makan, saya tidak lagi terbebani dengan kalimat, \u201cOrang pacaran pakai modal orang tua, nggak boleh menghina jomblo yang bekerja membantu orang tua.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan gaji yang lumayan bagi saya, saya merasa tak ada salahnya mengambil risiko: membiarkan dia yang menentukan tempat makan. Dengan beberapa opsi default yang tentu saja semuanya adalah tempat makan yang Instagram-able.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski bisa saja saya mengajak dia makan di Sari Laut pinggir jalan. Saya pun tak gengsi dengan itu. Namun kali ini, saya memang sedang ingin menikmati makanan orang \u201ckota\u201d. Kalau hanya lalapan, hampir tiap hari saya makan. Saya sudah overload karbohidrat, lemak tak jenuh, plus air es. Bagaimanapun, pemilihan tempat makan ini juga demi kesehatan yang lebih baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dia yang sejak awal memang sedang ingin makan sushi karena ngiler dengan story Instagram temannya, akhirnya memilih sebuah restoran Jepang. Seingat saya, kami janjian ketemu di lokasi setelah Magrib.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makan malam di restoran Jepang itu tidak hanya dihadiri oleh kami berdua. Dia ditemani oleh seorang temannya dan seorang lagi yang sepertinya kebetulan sedang ada di tempat makan itu. Mereka tiba lebih dulu. Namun, saya sebagai lelaki hadir sendirian. Selain karena saya gentleman, setidaknya saya tidak akan mengeluarkan uang lebih untuk menanggung seorang lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu masuk, suasana dan interiornya benar-benar berbeda dengan warung-warung langganan saya. Melihat kondisi di sana saya sedikit merasa awkward.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya duduk dan mencoba bersikap natural. Meski saya sadar, sepertinya saya tidak bisa menutupi perasaan nggak nyaman. Namun, saya bukan tipe lelaki yang jaim dan trying so hard untuk terlihat rileks. Saya tetap bersikap apa adanya. Bahkan saat memesan makanan, saya tak sungkan untuk membiarkan dia yang memutuskan mana yang enak, menegaskan bahwa saya sama sekali tidak biasa makan di tempat seperti ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah menunggu lama dengan diselingi momen-momen ampas, hidangan pun tiba. Kebanyakan adalah sushi, disusul dengan mangkuk besar berisi mi dan sayuran, serta teh. Saya pesan teh tawar, sengaja ingin mencicipinya karena selama ini hanya minum teh manis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sushi di restoran Jepang tersebut ditata rapi, dikelilingi saus yang bisa dikombinasikan sendiri. Sebuah tatanan yang ampuh untuk menggugah rasa lapar dan tidak sabar untuk segera menikmatinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesaat sebelum memulai makan, saya menyadari bahwa di antara perabot je-Jepang-an itu, nggak ada sendok, hanya sumpit yang harus dibuka sendiri dari bungkusnya. Tampilannya elite, di film-film Jepang saja sepertinya sumpitnya tidak sebagus itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baiklah, lagi pula apa, sih, susahnya makan pakai sumpit? Pikir saya. Dengan beberapa penyesuaian saya mencoba meraih sushi pertama. Sial. Rupanya ini tidak semudah dan se-estetik di anime Jepang. Sushi yang terlihat sudah terpegang oleh sumpit beberapa kali terlepas saat saya mulai terangkat. Ia seperti hidup dan sedang mempermainkan saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mencoba teknik lain dengan menusuk-nusuk hingga menjadi bagian kecil. Sushi pertama berhasil saya nikmati dengan susah payah. Namun, perjuangan masih berlanjut, entah sampai sushi ke berapa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang harus terjadi akhirnya terjadi. Sushi itu terjatuh ke meja. Sebagaimana saya yang apa adanya, potongan itu saya ambil dengan tangan kemudian saya makan. Hal yang seharusnya saya lakukan sejak awal. Akan tetapi, pada akhirnya saya meminta sendok. Bukan karena malu, tapi karena memang lebih efektif jika saya memakannya pakai sendok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal kelanjutan kencan dengan dia? Saya tak terlalu mengingatnya. Namun yang jelas saya belajar untuk bersikap apa adanya dalam keadaan apa pun, termasuk dalam agenda kencan sekalipun.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">*Kencan Amburadul adalah segmen khusus, kisah nyata, momen asmara paling amburadul yang dialami penulis Terminal Mojok dan dibagikan dalam edisi khusus Valentine 2021.<\/span><\/i><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-memalukan-saat-pertama-kali-makan-di-restoran-jepang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Pengalaman Memalukan Saat Pertama Kali Makan di Restoran Jepang<\/a> d<\/strong><strong>an tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-dzal-anshar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Muhammad Dzal Anshar<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<a href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282136338016&amp;text&amp;app_absent=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>di sini.<\/em><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dia yang sejak awal memang sedang ingin makan sushi karena ngiler dengan story Instagram temannya, akhirnya memilih sebuah restoran Jepang.<\/p>\n","protected":false},"author":647,"featured_media":107873,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[10683,9160,4796,5331],"class_list":["post-107851","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-kencan-amburadul","tag-restoran-jepang","tag-sumpit","tag-sushi"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107851","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/647"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=107851"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107851\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/107873"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=107851"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=107851"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=107851"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}