{"id":107823,"date":"2021-02-14T12:05:07","date_gmt":"2021-02-14T05:05:07","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=107823"},"modified":"2021-12-29T17:10:55","modified_gmt":"2021-12-29T10:10:55","slug":"malioboro-saksi-pahit-cinta-tak-terbalas-kencan-amburadul-13","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/malioboro-saksi-pahit-cinta-tak-terbalas-kencan-amburadul-13\/","title":{"rendered":"Malioboro, Saksi Pahit Cinta Tak Terbalas. Kencan Amburadul #13"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malioboro, tak bisa dimungkiri, punya pesona yang unik. Saya tidak sedang berusaha meromantisisasi Jogja, namun berbicara kenyataan. Malioboro menyimpan aura takjub yang terpancar dari orang yang pertama kali menginjakkan kaki di Jogja. Malioboro pun menyimpan duka dan cinta orang yang\u2014sialnya\u2014jatuh cinta di Jogjakarta. Malioboro adalah saksi pahitnya cinta saya yang bertepuk sebelah tangan. Asu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu hari, masih dalam suasana orientasi mahasiswa baru alias ospek, saya dan beberapa teman mendirikan stand sebagai tempat display kegiatan yang dilakukan organisasi mahasiswa. Hal ini bertujuan untuk menjaring calon-calon regenerasi organisasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang tak sangka-sangka terjadi. Ketika saya kembali dari toilet, ada dua orang mahasiswi mengunjungi stand kami. Menurut info dari teman yang jaga stand, mereka lama berada di stand kami. Hanya saja karena saya baru saja dari toilet, jadi waktu ngobrolnya menjadi terasa kurang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNamanya siapa, Dek?\u201d tanyaku kepada mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAku Nisa, Mas. Kalau ini Risa.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pun melanjutkan obrolan dengan mereka berdua. Tapi, lambat laun saya mengobrol secara intens hanya ke Nisa. Kami pun bertukar informasi dari asal kota, nomor WhatsApp, dan ngekos di mana. Ternyata, dia adalah calon adik tingkatku di program studiku, Pendidikan Kimia. Mungkin kebetulan, mungkin memang rencana semesta yang membuat kami dipertemukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti pada lelaki pada umumnya, saya pun mulai membribik Nisa via WhatsApp. Maklum, sebagai lelaki biasa, saya canggung kalau berbicara empat mata secara langsung di depan Nisa. Sejak kami berkomunikasi lewat chat, tiada hari yang terlewat tanpa chattingan dengan Nisa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu berjalan, saya mulai memberanikan diri untuk mengajaknya main dan makan bersama. Alhamdullillah dia selalu mau ketika diajak main dan makan berdua. Perlahan tapi pasti saya mulai menghilangkan rasa canggung di hadapan Nisa. Masa iya, mengajak main berdua malah sendirinya gugup? Lelaki macam apa itu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah mengajaknya main dan makan berdua, timbul perasaan suka dengan Nisa. Rasa yang bukan hanya sebatas kakak-adik tingkat saja, tapi lebih dari itu. Namun, saya belum berani mengungkapkan perasaan sesungguhnya ke Nisa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya saya mencari cara lebih agar bisa lebih dekat dan bisa mengungkapkan isi hati. Salah satunya dengan menjadi mentor dia. Pelajaran di kuliah tentu memiliki tingkat kesulitan lebih. Terlebih Nisa baru masuk kuliah dan pelajaran kimia di perkuliahan memang menguras tenaga dan pikiran. Saya pun dengan sukarela (dan sedikit modus juga) pasang badan menjadi mentor belajarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan jadi mentor, nyaris setiap hari kami belajar bersama. Maklum kami berdua adalah anak perantauan. Saya Purwokerto, dia Ponorogo. Jadi Sabtu dan Minggu kadang digunakan untuk belajar bersama, selain main berdua tentunya kalau tidak ada tugas dari dosen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, sampai menjadi mentor pun saya masih belum memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hati sesungguhnya kepada Nisa. Beberapa teman yang tahu pun sudah mewanti-wanti agar jangan lama-lama. Tapi, ego ini masih menahan diri untuk bersabar dan menunggu waktu yang tepat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah dipikir matang-matang, kuputuskan untuk melakukan eksekusi perasaan ini ke negeri sebelah, yaitu Yogyakarta. Seperti kata Pak Anies Baswedan, \u201cSetiap detik di Jogja adalah detik romantis.\u201d Saya yakin ada kekuatan magis di sana yang bisa membuat impianku tercapai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mengajaknya pergi main agak jauh, yaitu Jogja. Saya belum pernah sama sekali mengajak main berdua dengan Nisa ke Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDek, besok sabtu main ke Jogja ya. Sekalian temenin mas ke UGM.\u201d Pintaku ke Nisa. Saya memang ada urusan dengan kawan di UGM. Tapi, tidak lebih dari 30 menit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHmmm, gimana ya, Mas? Jauh e.\u201d Jawabnya agak ragu-ragu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGa papa. Kita sekalian main ke malioboro. Belum pernah ke Jogja bareng kan kita, Dek?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah dibujuk rayu dan kuyakinkan, Nisa mengiyakan keinginanku untuk ke Jogja bersama. Sampai di sini saya sudah merasa lega dan ada bahagia-bahagia gitu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari yang ditunggu pun tiba. Kami berdua ke Jogja naik motor dengan berboncengan. \u201cBerani-beraninya aku bawa anak orang pergi jauh.\u201d Dalam pikirku. Saya belum pernah mengajak seorang perempuan ke tempat jauh, berduaan lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perjalanan kurang lebih dua jam dan menguras tenaga akhirnya terbayarkan sudah. Kami sampai di Jogja. Kami mampir sebentar ke UGM untuk membayar utang urusan dengan kawan di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah itu, saya langsung membawa dia berkeliling Jogja. Mulai dari Taman Siswa, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, sampai pada tujuan sebenarnya, Malioboro. Saya sengaja memilih Malioboro sebagai destinasi terakhir agar momen \u201ckatakan cinta\u201d pas di suasana malam minggu. Apalagi prakiraan cuaca sangat cerah, tidak akan ada hujan. Cocok bagi siapapun yang ingin melakukan aksi \u201ctembak-menembak\u201d ke gebetan di jalanan utara Keraton itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya cakrawala menghadirkan semburat senja yang indah. Suasana Jogja menjadi sangat memukau akan keindahannya. Keramaian pelancong dari dalam maupun luar negeri, hiasan lampu dan ornamen khas budaya Jawa, serta cuaca yang mendukung sangat cocok untuk dijadikan momen istimewa. Hanya tinggal satu yang kurang : amunisi penembakan belum dikeluarkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami duduk di pedestrian Malioboro. Kebetulan ada bangku yang kosong yang memang disediakan untuk para wisatawan. Sambil menikmati ramainya orang dan kendaraan yang membelah jalan utama Yogyakarta itu dengan menyantap sepotong Roti\u2019O yang masih hangat dan segelas teh Tong Tji.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah melepas lelah sejenak, akhirnya momen itu tiba. Amunisi yang telah disiapkan dari kos dengan segera dikeluarkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDek, Mas sebenarnya mau ngomong sesuatu lho ke Adek.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAda apa, Mas?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJadi gini, Dek. Sebenarnya Mas tuh bingung mau ngomong dari dulu. Mungkin ini momennya pas buat kita. Jadi tuh intinya Mas suka sama Adek. Cinta sama Adek. Adek gimana ke Mas?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kulihat wajah ayunya. Tapi, ekspresi yang diharapkan seketika agak memudar. Dia kaget bercampur bingung. Seperti ada yang disembunyikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKenapa, Dek? Gimana Adek ke Mas?\u201d Tegasku ke dia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTerima kasih, Mas, tapi maaf ya, Mas?\u201d Jawab Nisa dengan suara lirih. Lirih sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMaaf kenapa, Dek? Adek nggak salah apa-apa kok.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMaaf ya, Mas. Nisa harus bilang ini. Sebenarnya Nisa sudah punya pacar di program studi lain. Sudah ada empat bulanan aku jadian sama dia, Mas. Maafin Nisa ya, Mas?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya terdiam sejenak. Memang cuaca di Jogja sangat cerah. Namun, rasanya ada gelegar petir yang menyambar dalam dada. Memang saat itu tidak ada rintikan air hujan yang jatuh dari angkasa. Tapi, rasanya hati ini menjadi basah. Malu campur kecewa. Itulah yang kurasakan saat mendengar pengakuannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHmm ya udah kalau begitu, Dek.Nggak apa-apa kok. Semoga bahagia ya dengan dia. Yuk cepat-cepat dihabisin. Mbok kemalaman sampe kos.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Niat sebelumnya memang ingin pulang tengah malam dari Jogja. Namun, terpaksa dipercepat. Ternyata seperti inilah rasanya patah hati. Menembak gebetan namun sudah punya pacar. Parahnya, saya tak pernah tahu kalau Nisa punya pacar selama empat bulan ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi teringat pada suatu ungkapan dari Kahlil Gibran. Itu pun saya tahu dari cuplikan film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">5 cm<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. \u201cCinta itu perlu diungkapkan. Tidak ada cinta yang tidak diungkapkan. Kecuali orang-orang yang terlalu mencintai dirinya sendiri.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak saat itu, saya mulai memberanikan diri untuk mengungkapkan cinta secepatnya. Jangan sampai terlambat. Kalau terlambat, ya wassalam. Selamat menikmati sakitnya patah hati.<\/span><\/p>\n<p><em>*Kencan Amburadul adalah segmen khusus, kisah nyata, momen asmara paling amburadul yang dialami penulis Terminal Mojok dan dibagikan dalam edisi khusus Valentine 2021.<\/em><\/p>\n<p><b>BACA JU<\/b><strong>GA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-sebaik-baiknya-solusi-untuk-mengobati-patah-hatimu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Jogja, Sebaik-baiknya Solusi untuk Mengobati Patah Hatimu<\/a> d<\/strong><b>an tulisan<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/hepi-nuriyawan\/\">\u00a0<b>Hepi Nuriyawan<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Niatnya romantis, berakhir miris.<\/p>\n","protected":false},"author":925,"featured_media":107898,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[8994,446,2121],"class_list":["post-107823","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kandas","tag-malioboro","tag-nembak-pacar"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107823","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/925"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=107823"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107823\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/107898"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=107823"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=107823"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=107823"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}