{"id":10782,"date":"2019-08-22T07:30:09","date_gmt":"2019-08-22T00:30:09","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=10782"},"modified":"2022-01-31T13:57:59","modified_gmt":"2022-01-31T06:57:59","slug":"sebagus-itu-memang-sebagus-apa-sih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sebagus-itu-memang-sebagus-apa-sih\/","title":{"rendered":"Sebagus Itu&#8230;. Memang Sebagus Apa, Sih?"},"content":{"rendered":"<p>Banyak cara buat mengisi waktu luang, salah satunya adalah dengan menonton film. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/auk\/ulasan\/pojokan\/membawa-anak-nonton-bioskop-salahnya-di-mana\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Nonton film<\/a> jadi hiburan yang murah dan menyenangkan jika kita bisa menemukan film yang tepat. Sebagai orang yang hanya suka nonton film satu sampai dua kali dalam satu bulan, memilih film apa yang mau ditonton bukan hal mudah buat saya. Saya biasa memilih film yang memberikan kesan kuat setelah menontonnya, tujuannya biar saya cukup nonton satu kali saja.<\/p>\n<p>Sebelum memutuskan mau nonton film yang mana, saya biasanya mencari dulu rekomendasi film di <em>website<\/em> dan media sosial. Setelah menemukan beberapa film yang menurut saya menarik, baru cari <em>review<\/em> filmnya. Waktu mencari <em>review<\/em> film di media sosial, saya sering menemukan kalimat \u201cternyata film A sebagus itu\u201d dan kalimat lain yang berisikan frasa \u201csebagus itu, semenarik itu, sesedih itu, seunik itu\u201d dan sejenisnya. Jujur, hal pertama yang muncul di dalam pikiran saat melihat kalimat seperti itu bukanlah jawaban yang sedang saya cari, tapi pertanyaan lain: \u201csebagus apa filmnya? Apa maksud dari kata bagus yang mereka tulis?\u201d<\/p>\n<p>Entah apakah orang-orang yang sering menggunakan frasa \u201csebagus itu\u201d dan sejenisnya sadar atau nggak bahwa mereka sudah membuat orang lain kebingungan karena kebiasaan mereka yang satu ini. Maksudnya, kalau memang ingin memberikan testimoni terhadap sesuatu, apalagi yang bisa dinikmati banyak orang seperti film atau lagu, kenapa nggak dibuat dengan jelas dan rinci? Bukan malah membuat orang lain bingung dengan memberi kesimpulan menggunakan frasa \u201csebagus itu.\u201d Ukuran bagus, sedih, menarik, dan lainnya sangat subjektif sekali. Bagus menurutmu belum tentu bagus menurut saya dan orang lain.<\/p>\n<p>Selain itu, secara bahasa, kalimat dengan frasa \u201csebagus itu\u201d tanpa keterangan tambahan yang menjelaskan kata \u201cbagus\u201d adalah kalimat yang maknanya ambigu, nggak jelas. Coba bandingkan dua kalimat ini:<br \/>\n\u201cnggak nyesel nonton film Endgame, sebagus itu buat ditonton.\u201d<br \/>\n\u201cnggak nyesel nonton film Endgame. Gelutnya seru, sedihnya dapet, endingnya juga nggak ngegantung. Sebagus itu buat ditonton\u201d<br \/>\nKalimat kedua lebih mampu menjelaskan maksud dari \u201cfilm endgame bagus\u201d daripada kalimat pertama, dan juga Kok seperti ini saja gak mengerti gitu loh. Buat apa coba belajar Bahasa Indonesia sejak kecil kalau membuat kalimat yang gak ambigu saja sulit buat dilakukan?<\/p>\n<p>Maaf saja, tapi menurut saya kamu gak memberikan informasi apapun pada orang lain saat kamu menggunakan kesimpulan \u201csebagus itu\u201d dan sejenisnya dalam kalimatmu. Apa kamu berharap orang lain buat langsung mengerti hanya dengan kesimpulan \u201csebagus itu\u201d yang bahkan gak ada penjelasannya sama sekali? Apa kamu pikir orang lain punya isi kepala yang sama denganmu?<\/p>\n<p>Hey tolong ya\u2014dalam konteks memberikan testimoni pada sesuatu yang bisa dinikmati banyak orang\u2014frasa \u201csebagus itu\u201d bisa saja membuat orang lain kecewa. Berbekal komentar semacam itu yang banyak saya temukan di media sosial, saya ikut nonton <a href=\"https:\/\/tirto.id\/disney-pertimbangkan-untuk-buat-sekuel-film-live-action-aladdin-egh7\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">film Aladdin<\/a> bareng teman-teman, dan ternyata buat saya filmnya biasa aja bahkan di bawah ekspektasi saya. Kok bisa-bisanya orang lain banyak yang bilang film ini bagus buat ditonton?<\/p>\n<p>Pertanyaan selanjutnya, kenapa orang-orang senang sekali langsung lompat ke kesimpulan tanpa memerhatikan penjelasan yang justru adalah bagian paling penting dari sebuah komentar testimoni? Apa sekarang sudah ada kesepakatan sehingga kata \u201cbagus, indah, sedih\u201d dan sejenisnya dapat dipahami tanpa harus menjelaskannya lebih dulu? Setahu saya sampai sekarang belum ada yang seperti itu. Kalaupun ada, tolong beritahu saya biar nanti saya ada pegangan ketika mencari review film, lagu, atau buku di media sosial lagi.<\/p>\n<p>Lewat tulisan ini, saya menyarankan orang-orang yang suka nulis \u201csebagus itu\u201d\u2014seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya\u2014buat kembali ke jalan yang benar dan membiasakan melengkapi kalimat yang memuat frasa \u201csebagus itu\u201d dengan menjelaskan apa yang kalian maksud sebagai \u201cbagus\u201d di sana. Cukup tambahkan beberapa kata agar kalimatnya punya makna yang lebih jelas lagi. Saya juga berharap tulisan ini sebagus itu agar bisa jadi bahan pertimbangan buat kita semua. <em>hehe\u00a0<\/em>(*)<\/p>\n<div>\n<div><\/div>\n<div><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hey tolong ya\u2014dalam konteks memberikan testimoni pada sesuatu yang bisa dinikmati banyak orang\u2014frasa \u201csebagus itu\u201d bisa saja membuat orang lain kecewa.<\/p>\n","protected":false},"author":158,"featured_media":10793,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13081],"tags":[2724,773,2723,886],"class_list":["post-10782","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-film","tag-film-aladdin","tag-review-film","tag-sebagus-itu","tag-tren-masa-kini"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10782","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/158"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10782"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10782\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10793"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10782"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10782"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10782"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}