{"id":107812,"date":"2021-02-17T07:02:40","date_gmt":"2021-02-17T00:02:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=107812"},"modified":"2021-02-16T19:17:18","modified_gmt":"2021-02-16T12:17:18","slug":"sarkasme-dan-satire-adalah-hal-berbeda-mari-saya-beri-panduan-memahaminya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sarkasme-dan-satire-adalah-hal-berbeda-mari-saya-beri-panduan-memahaminya\/","title":{"rendered":"Sarkasme dan Satire Adalah Hal Berbeda. Mari Saya Beri Panduan Memahaminya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Panduan ini lahir akibat sebuah chat WA berbentuk satire yang saya kirim ke grup kelas. Pesan tersebur ternyata nggak sampai ke sanubari penerimanya. Satire adalah hal yang memang sulit dipahami sebagai sindiran. Ceritanya begini, kami sedang sibuk persiapan Ujian Kompetensi Kejuruan dan saling menukar materi pelajaran. Kemudian secara alami, nyambunglah pembicaraan tersebut ke topik individualis dan kapitalis. Lantas, salah seorang teman ada yang bertanya, \u201cYang kapitalis enaknya diapain, ya?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jawab saja, \u201cDoakan lekas lulus, sukses dan membuka usaha. Lantas membuka lapangan kerja. Kemudian mengisi seminar self development, jualan omongan dengan topik \u2018dulu saya hidup miskin\u2019 yang dipoles dalam bungkus yang keliatan inspiratif.\u201d Ya gampangnya, saya ngirim sinyal satire ke mereka soal betapa membosankannya mendengar kisah inspiratif yang meromantisisasi kemiskinan, tapi mereka malah gagal menangkap sinyal tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Indikasi kegagalan satire adalah terletak pada mereka yang malah mengamini kalimat saya. Iya, mereka bilang aaamin, atas doa saya tadi. Ya tidak salah juga sih, sebab saya memang bermaksud mendoakan. Kegagalan menyampaikan satire tersebut entah karena saya masih belum pro dalam menyindir atau memang pada nggak paham aja. Jadilah saya bingung karena gagal lucu, sekaligus gagal menyindir. Hahaha, sialan memang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pun di saat bersamaan, saya tersadar bahwa ternyata banyak orang-orang (di luar jamaah Mojokiyah tentunya) yang masih nggak kenal satire dan hanya tahu soal sarkasme. Di lain cerita, ada juga yang tahu keduanya, namun maknanya terbalik. Maka, di tulisan kali ini, saya akan memberikan panduan untuk memahami keduanya khusus untuk pemula. Ingat ya, (((untuk pemula))).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Para pro player dunia per-<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">-an dan per-<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">-an nggak mungkin dong saya kasih panduan. Wong satirenya sudah melekat dalam jiwa duluan sebelum saya beri panduan kok.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baiklah, mari mulai dari apa itu sarkasme. Menurut KBBI Edisi V, sarkasme adalah (penggunaan) kata-kata pedas untuk menyakiti hati orang lain; cemoohan atau ejekan kasar. Jadi kalau misal seseorang secara gamblang ngomong, \u201cNyadar, woi. Lu tuh goblok, miskin, jelek, terus jomblo, hidup pula.\u201d Nah itu dia sarkasme. Sebuah kalimat pedas yang secara gamblang disampaikan, tanpa menyembunyikan kesan kebencian dan cemoohannya sedikit pun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya, sarkasme itu digunakan kalau kita pengin menyumpah-serapah secara langsung. Sedangkan satire justru sangat berbeda dengan sarkasme. Menurut KBBI Edisi V, satire adalah sindiran atau ejekan. Dalam artian kesusastraan, ia punya gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dalam dunia kesenian, satire juga berarti bentuk komedi kebijaksaan dan kebodohan yang ditampilkan sebagai kelucuan. Nah, perbedaan antara sarkasme dan satire terletak di gaya bahasanya. Kalau sarkasme, kita pengin menyumpah ya menyumpah saja secara gamblang. Kita pengin bilang goblok ya goblok saja. Kalau mau satire, ya kita mainnya nyindir. Pengin bilang goblok ya bilang saja, \u201cDuh, pinter banget sih\u2026.\u201d Begitu ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satire adalah cabang ilmu kebahasaan yang memfasilitasi kita mengungkapkan kesinisan tanpa kelihatan sinis. Walau semuanya tergantung ke si penerima pesan juga, sih, sepeka apa penerima pesan dengan sindiran yang diterimanya. Kalau kita lihat dari apa yang saya sampaikan tadi, sarkasme alias kata-kata pedas itu lebih gampang diterapkan daripada satire. Soalnya yaaa tinggal ngomong saja, tinggal menyumpah saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan satire perlu latihan, supaya sindirannya tersampaikan dengan jelas dan nggak salah sasaran seperti yang saya ceritakan di awal tadi. Jadi sebenarnya, sindiran itu ada teknik dan cabang ilmunya. Jadi, jangan lagi pandang sindiran itu sebelah mata, ya. Lagian sarkasme dan satire itu beda. Masa sih kebolak-balik terus.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/akun-tiktokjelek-di-twitter-adalah-akun-satire-yang-berhasil\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Akun @tiktokjelek di Twitter Adalah Akun Satire yang Berhasil <\/a><\/b><b>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/vivi-wasriani\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Vivi Wasriani<\/a><\/b><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Satire adalah cabang ilmu kebahasaan yang memfasilitasi kita mengungkapkan kesinisan tanpa kelihatan sinis.<\/p>\n","protected":false},"author":1034,"featured_media":95387,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[761,1700],"class_list":["post-107812","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bahasa","tag-satire"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107812","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1034"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=107812"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107812\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/95387"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=107812"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=107812"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=107812"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}