{"id":107772,"date":"2021-02-16T13:50:29","date_gmt":"2021-02-16T06:50:29","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=107772"},"modified":"2021-02-16T13:54:21","modified_gmt":"2021-02-16T06:54:21","slug":"kalau-istilah-kampungan-artinya-udik-kenapa-nggak-ada-istilah-kotaan-yang-artinya-tamak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kalau-istilah-kampungan-artinya-udik-kenapa-nggak-ada-istilah-kotaan-yang-artinya-tamak\/","title":{"rendered":"Kalau Istilah &#8216;Kampungan&#8217; Artinya Udik, Kenapa Nggak Ada Istilah &#8216;Kotaan&#8217; yang Artinya Tamak?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya benar-benar heran dengan orang-orang yang dalam banyak kesempatan menggunakan kata &#8220;kampungan&#8221; dengan konotasi yang buruk. KBBI juga mendukung makna buruk dari kata &#8220;kampungan&#8221;. Di dalam KBBI, arti dari kata kampungan adalah:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">#1 Berkaitan dengan kebiasaan di kampung; terbelakang (belum modern); kolot;<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">#2 Tidak tahu sopan santun; tidak terdidik; kurang ajar;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, sebentar dulu. Pertama, kebiasaan orang-orang kampung itu seperti apa sih? Sampai-sampai dibilang terbelakang, kolot, dan semacamnya. Setahu saya, kebiasaan orang-orang kampung itu ya kalau lapar mereka makan, kalau haus mereka minum, kalau ada yang aneh dari tetangga mereka gibah (canda gibah), dan kebiasaan-kebiasaan lain yang dilakukan oleh manusia pada umumnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu kedua, tidak tahu sopan santun, tidak terdidik, kurang ajar? Helooo kalian, malu ihhh! Masa kampungan dijadikan kiasan dari kata-kata tidak tahu sopan santun, nggak nyambung kelesss. Lah wong sopan santun itu adalah ciri khas orang-orang kampung, nggak percaya? Coba deh yang masih pakai kata kampungan dengan arti begitu datang ke kampung, maka kalian akan tertampar dengan penerimaan mereka yang begitu sopan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang saya alami setahun lalu, sewaktu saya mengikuti kegiatan kampus yaitu KKN. Saya KKN di Desa Benawa, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan. Di sana, saya dan teman-teman saya diterima dengan begitu baik. Bagaimana tidak, kami dikasih penginapan gratis, dipinjami kendaraan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih jauh lagi, orang-orang di sana sangat ramah, murah senyum, dan selalu menolong tugas-tugas semasa kami KKN. Pengalaman macam begini ini yang tidak mungkin kami dapatkan di kota. Saya berani bertaruh, jika KKN dilakukan di kota, jelas tidak ada penginapan gratis. Maka saya bertanya, kurang sopan apalagi orang-orang desa atau kampung?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan banyak lagi sebenarnya contoh betapa kata \u201ckampungan\u201d itu sudah tidak bisa lagi dipakai untuk konotasi negatif. Sebab ya memang tidak masuk di akal dan menghina logika berpikir alias ngawur. Sebab sekali lagi, kebiasaan orang-orang kampung jaman dahulu dengan orang-orang kampung jaman sekarang sangat berbeda jauh. Katakanlah orang-orang kampung zaman dahulu masih menggunakan kebiasaan kolot yang apa-apa ke dukun, sakit ke dukun, kalau kehilangan sesuatu ke dukun, bahkan kalau bersitegang dengan orang lain pun larinya ke dukun. Tapi, itu dulu, kalau sekarang di kampung sudah ada puskesmas untuk yang sakit, bila kehilangan barang mereka mengikhlaskan atau beli lagi barang yang baru (orang kampung sekarang kaya raya, Coy).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, ayolah untuk kawan-kawan yang masih memakai kata \u201ckampungan\u201d dengan konotasi negatif, stop mengatakan itu. Sebab, itu benar-benar merendahkan orang kampung yang secara subjektif banyak yang jauh lebih terdidik daripada orang-orang kota yang merendahkan merek<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi pula yaaa, kalau pun benar &#8220;kampungan&#8221; ditujukan kepada orang-orang udik, kurang ajar, dan semacamnya, mengapa tidak ada kata &#8220;kotaan&#8221; atau semacamnya yang dijadikan kiasan untuk menandai sesuatu yang tamak, congkak, perusak alam, tidak jujur, suka menindas, dan lain sebagainya? Jika penyebutan istilah kota dan kampung ini memang mengarah pada kebiasaan negatif orang-orang di perkotaan dan perkampungan, kenapa hanya \u201ckampungan\u201d yang sering dipakai? Nggak adil rasanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Stereotip orang kampung ini harus diubah, sama kayak stereotip perempuan yang dalam KBBI juga punya banyak konotasi negatif dan tempo hari banyak dipermasalahkan itu. Masalahnya gini, bahasa adalah produk budaya. Kalau budaya kita main stereotip nggak bener terus ya selamanya bahasa kita jadi tumpang tindih dan punya banyak konotasi negatif.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-stereotip-introver-yang-laku-keras-di-masyarakat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">5 Stereotip Introver yang Laku Keras di Masyarakat<\/a> atau tulisan lainnya di\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Terminal Mojok<\/a>.<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Stereotip istilah &#8220;kampungan&#8221; ini harus diubah, sama kayak stereotip perempuan yang dalam KBBI juga sempat jadi kontroversi.<\/p>\n","protected":false},"author":1403,"featured_media":1395,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[761,185],"class_list":["post-107772","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bahasa","tag-stereotip"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107772","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1403"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=107772"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107772\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1395"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=107772"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=107772"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=107772"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}