{"id":10743,"date":"2019-08-22T10:00:10","date_gmt":"2019-08-22T03:00:10","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=10743"},"modified":"2019-08-22T12:21:50","modified_gmt":"2019-08-22T05:21:50","slug":"tak-ada-kata-aja-di-menu-selera-pilihanmu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tak-ada-kata-aja-di-menu-selera-pilihanmu\/","title":{"rendered":"Tak Ada Kata &#8216;Aja&#8217; di Menu Selera Pilihanmu"},"content":{"rendered":"<p>Dulu, sebelum mengenal dunia <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kampung-pns-dan-pudarnya-pesona-merantau\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">perantauan<\/a> dan masih tinggal dengan orangtua, saya hampir tak pernah makan di luar bersama teman-teman. Saat ada jadwal <em>ngemall <\/em>atau jalan keluar, saya akan usahakan untuk makan dulu dari rumah agar di luar nanti tak perlu memesan makanan apapun. Selain karena <a href=\"https:\/\/tirto.id\/solusi-hemat-untuk-jadi-smart-eegd\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">saya ingin hemat<\/a>, saya memang tak terlalu nyaman mencicipi masakan yang bukan olahan ibu saya.<\/p>\n<p>Dan sekarang, semua tak lagi sama. Dunia rantau mengajarkan saya untuk siap menguyah jenis makanan apapun kalau ingin bertahan hidup\u2014kecuali jika saya ingin masuk UGD <span style=\"text-decoration: line-through;\">ketemu dokter cakep<\/span> dan mengakhiri hidup dengan cara tak pantas\u2014kelaparan.<\/p>\n<p>Mungkin, setelah lebih kurang 3 tahun saya berpisah dengan masakan ibu saya, masak adalah pekerjaan yang bisa dihitung pakai belasan jari saya. Selebihnya, yah saya beli di luar. Entah itu dari warteg, warpeclel (warung pecel lele), angkringan, atau warung pinggir jalan lainnya. Kalau sedang makmur-jaya-sentosa, saya bisa sesekali ke <em>cafe<\/em>, <em>mall<\/em>, atau tempat makan sekelasnya di sekitar Jatinangor atau Bandung.<\/p>\n<p>Untuk urusan makan di luar, sebenarnya saya lebih suka sendiri. Tapi, perasaan <em>takut ditangkap basah karena sendirian <\/em>membuat saya pikir ulang yang berujung pada \u201cBungkus, yah, Teh.\u201d<\/p>\n<p>Urusan memilih teman yang bisa diajak makan di luar, sebenarnya hal yang krusial buat saya. Bagaimana tidak? Saya tak enak saja mereka merasa tak nyaman dengan saya yang punya selera dan pantangan aneh ini. Kalau orang lain akan melemparkan kata <em>terserah <\/em>saat ditanya mau makan di mana, saya akan dengan senang hati memutuskan mau makan di mana\u2014kecuali kalau saya sudah benar-benar buntu mau makan di mana.<\/p>\n<p>Perihal makan di mana mungkin tak akan sulit bagi saya dan teman saya\u2014jika kami memang sudah berada pada visi dan misi yang sama. Namun, ujian selanjutnya menanti. Pilih menu.<\/p>\n<p>Setelah <em>di mana <\/em>terjawab, pertanyaan <em>apa <\/em>akan menghantui siapapun, bukan? Saya salah satunya, apalagi karena saya sangat <em>picky<\/em>\u2014menyesuaikan pantangan, sehat-tidaknya, selera, dan pastinya harga.<\/p>\n<p>Pernah suatu ketika, saya makan dengan seorang teman di <em>cafe <\/em>lumayan besar, dan yang kami minta mendampingi makanan yang kami pesan adalah <em>air putih<\/em>. Kalian tahu? Pelayannya langsung bertanya, \u201cair putih aja, mbak?\u201d seolah-olah air putih adalah sesuatu yang sangat <em>aja<\/em>. Hmm, kami langsung mengiyakan dengan tegas dan bersikap sedikit tak peduli\u2014padahal peduli. Lah kan kami cari yang sehat, abis makan makanan yang mengandung minyak dan manis, masa mau minum kopi? Ya, tergantung selera saja.<\/p>\n<p>Ternyata, setelah mendapatkan <em>bill<\/em>, saya baru <em>ngeh <\/em>kalau air putih itu tak termasuk dalam daftar menu yang ada nilai rupiahnya. Alias <em>gretong<\/em>. Pantesan di-<em>aja<\/em>-in sama pelayannya. Dia kira kami kikir atau tak mampu beli yang bukan air putih kali yah?<\/p>\n<p>Tak hanya itu, pernah saat saya beli minuman <em>booba <\/em>dengan adik saya, trus kami hanya beli satu dan dia melontarkan pertanyaan <em>aja <\/em>lainnya, \u201csatu aja, mbak?\u201d karena dia melihat ada dua sosok manusia di hadapannya. Lah, apa salahnya kami hanya beli satu? Kami memang saat itu sedang berhemat dan <em>first timer<\/em> minum-minuman <em>booba <\/em>jenis lain. Jadi, daripada takut zonk, ya kami memilih tak mau ambil risiko besar. Dan benar saja, semua tak seindah yang dibayangkan. Menyesal? Tentu saja tidak. Kan belinya satu. <em>hehe<\/em><\/p>\n<p>Sepertinya balada ikut-campur-dengan-menu-pesanan-konsumen sudah menjadi budaya baru di negeri ini. Padahal kan selera orang beda-beda? Kita hanya tak tahu apa yang sedang mereka lalui, alami, sukai, dan hindari. Kenapa harus berkomentar?<\/p>\n<p>Komentar-komentar seperti &#8220;<em>aja&#8221;<\/em>, &#8220;<em>kok&#8221;<\/em>, atau jenis lain itu hanya akan membuat si konsumen merasa tak percaya diri pada pilihannya\u2014dan siapa yang tahu kalau besok dia tak datang lagi ke tokomu atau memaksa menjadi orang lain memesan menu termahalmu dengan perasaan tak nyaman dan berujung pada penyakit?<\/p>\n<p>Hargai saja pilihan konsumen, dia tahu apa yang dia suka dan dia mau lebih dari ke\u2014sok\u2014tahuanmu itu. <em>Toh<\/em>, dia juga akan menghargai pesanannya di meja kasir. Entah itu air putih atau teh manis dingin, kalau sudah menjadi selera turun-temurun, nggak akan bisa diganti dengan <em>moccacino<\/em> atau <em>latte-lattean<\/em> di gelas kecil dengan ukiran <em>love <\/em>di atasnya. Entah itu beli satu atau dua, kita tak tahu berapa banyak gula yang sedang dia kurangi karena penyakitnya. Berhenti membuat kami tak nyaman saat memesan menu kami.\u00a0(*)<\/p>\n<div>\n<div><\/div>\n<div><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>.<\/em><\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sepertinya balada ikut-campur-dengan-menu-pesanan-konsumen sudah menjadi budaya baru di negeri ini. Padahal kan selera orang beda-beda?<\/p>\n","protected":false},"author":220,"featured_media":10822,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[383,2736,462,2735,2737,2162,2443],"class_list":["post-10743","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-curhat","tag-konsumen","tag-makanan","tag-menu","tag-pantangan-makanan","tag-selera","tag-sok-tahu"],"modified_by":"Zahroh Ayu","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10743","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/220"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10743"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10743\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10822"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10743"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10743"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10743"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}