{"id":107275,"date":"2021-02-13T06:32:37","date_gmt":"2021-02-12T23:32:37","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=107275"},"modified":"2021-02-12T13:09:03","modified_gmt":"2021-02-12T06:09:03","slug":"beberapa-alasan-untuk-tidak-menulis-di-terminal-mojok","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/beberapa-alasan-untuk-tidak-menulis-di-terminal-mojok\/","title":{"rendered":"Beberapa Alasan untuk Tidak Menulis di Terminal Mojok"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya di sini tidak untuk memberikan tips atau sejenis kiat sukses mengenai bagaimana agar dapat menulis di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Saya sendiri bukan redaktur atau pihak belakang panggung sehingga nggak ada wewenang sama sekali untuk memberikan saran tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Justru saya di sini menjadi antitesis dengan menampilkan beberapa alasan mengapa jangan menulis di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Mungkin hanya<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Terminal Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang berani menampilkan konten yang justru dapat mengkritik platformnya sendiri. Sesuai dengan motto <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, \u201cSedikit nakal banyak akal\u201d. Jadi, kontennya berisi tulisan nakal terhadap platform itu sendiri.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Bayaran minimalis<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kalian menulis untuk mendapatkan uang banyak, saya sarankan janganlah di sini. Pasalnya, satu tulisan yang diterbitkan itu hanya akan mendapatkan kompensasi senilai dua puluh ribu rupiah. Atau sekadar cukup untuk membeli rokok Surya 12 plus kopi hitam satu cangkir, itu pun kalau nambah gorengan bisa jadi ngutang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, menjadi penulis di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">itu bukanlah sebuah pekerjaan, melainkan sebuah profesi. Jika pekerjaan, kalian pantas untuk menuntut upah bayaran yang lebih jika memang itu sesuai dengan kerja keras kalian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, jika profesi, belum tentu menghasilkan bayaran, bahkan bisa jadi mengeluarkan biaya. Pasalnya bukan uang tolok ukurnya, melainkan pelatihan skill,<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">karya, atau mungkin sekadar hobi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ambillah contoh profesi mahasiswa. Nggak ada ceritanya pekerjaan menjadi mahasiswa, yang lebih tepat adalah profesi menjadi mahasiswa. Menjadi mahasiswa itu nggak untuk mendapatkan sebuah bayaran, bahkan disuruh membayar. Menjadi mahasiswa itu untuk mendapatkan pengembangan skill,<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">atau mendapatkan pengetahuan, bukan bayaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh lain juga profesi seniman. Menjadi seniman itu juga nggak memiliki tujuan untuk mendapatkan bayaran atas karyanya. Meskipun beberapa menghasilkan uang atas karyanya, tapi itu hanyalah nilai plus atas profesi seniman. Sedangkan yang paling penting adalah terus berkarya dalam berprofesi menjadi seniman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu pun dengan menjadi penulis di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Penulis nggak begitu mengharapkan akan suatu bayaran, meskipun ada kompensasinya, tapi itu nilai plus saja, sama halnya kasus seniman tadi. Namun, yang terpenting adalah selalu terlatihnya skill menulis melalui bimbingan redaktur dan terus menghasilkan suatu karya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Jauh dari kata ilmiah<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kalian mencari atau hendak membuat suatu artikel ilmiah, saya pastikan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">bukanlah tempatnya. Pasalnya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bukanlah sebuah platform jurnal ilmiah layaknya kumpulan artikel ilmiah akademik kampus. Apalagi terakreditasi \u201csinta\u201d oleh Kemenristek, malah blas nggak sama sekali.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">itu hanyalah sekumpulan tulisan yang sedikit mokong alias nakal mengenai segala keruwetan kehidupan umat manusia, tentunya dengan retorika yang cukup dapat diterima oleh akal. Sesuai dengan mottonya, \u201csedikit nakal banyak akal\u201d.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Seleksi tulisan begitu ketatnya minta ampun<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Percayalah, bahwa seleksi tulisan di platform ini<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0ketat banget, seketat legging artis papan atas. Mengapa saya katakan begitu?<\/span><b> Pertama<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, yakni persaingan antarpenulis. Asal kalian tahu bahwa penulis di sini telah mencapai ribuan. Kalian perlu berjibaku secara kompetitif untuk menghasilkan karya tulisan terbaik di antara mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi calon penulis yang tulisannya belum diterima di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, mungkin bisa jadi berjumlah ribuan penulis juga. Bayangin saja seberapa banyak itu, jika dikumpulkan semuanya mungkin sudah bisa mendirikan partai.<\/span><\/p>\n<p><b>Kedua<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, kriteria tulisan harus memiliki sudut pandang yang benar-benar unik, bahkan nggak kepikiran oleh orang lain. Ibarat dalam suatu koloni pikiran manusia di muka bumi ini, maka kalian harus menjadi satu pikiran yang berbeda sama sekali dengan yang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi kalian para penulis <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, terutama calon penulis, harap dipikir-pikir terlebih dahulu. Kalau perlu bertapa dulu ke gua, gunung, atau tempat terpencil lainnya. Barangkali dapat wangsit kebijaksanaan untuk lanjut menulis atau tidak.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menulis-di-terminal-mojok-bayaran-secukupnya-usaha-sekerasnya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> Menulis di Terminal Mojok: Bayaran Secukupnya, Usaha Sekerasnya<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/mohammad-maulana-iqbal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><span data-sheets-value=\"{&quot;1&quot;:2,&quot;2&quot;:&quot;Mohammad Maulana Iqbal&quot;}\" data-sheets-userformat=\"{&quot;2&quot;:513,&quot;3&quot;:{&quot;1&quot;:0},&quot;12&quot;:0}\">Mohammad Maulana Iqbal\u00a0<\/span><\/a>lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>di sini.<\/em><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wahai calon penulis Terminal Mojok, harap bertapa dulu ke gua, gunung, atau tempat terpencil lainnya sebelum lanjut menulis.<\/p>\n","protected":false},"author":886,"featured_media":32292,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[7858,349],"class_list":["post-107275","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-ide-menulis","tag-redaktur-mojok"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107275","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/886"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=107275"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107275\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/32292"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=107275"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=107275"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=107275"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}