{"id":106673,"date":"2021-02-08T13:36:10","date_gmt":"2021-02-08T06:36:10","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=106673"},"modified":"2021-02-08T13:36:10","modified_gmt":"2021-02-08T06:36:10","slug":"betapa-gobloknya-orang-orang-yang-memuji-dan-minta-maaf-ke-daendels","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/betapa-gobloknya-orang-orang-yang-memuji-dan-minta-maaf-ke-daendels\/","title":{"rendered":"Betapa Gobloknya Orang-orang yang Memuji dan Minta Maaf ke Daendels"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baru bangun tadi subuh, lalu tiba-tiba saya melihat trending Twitter bercokol satu nama yang mungkin hampir seluruh orang Indonesia tahu. Kalau belajar sejarah, ya. Nama &#8220;Daendels&#8221; tiba-tiba jadi trending Twitter, tumben sekali ini. Ternyata gara-gara cuitan Bang<\/span><a href=\"https:\/\/twitter.com\/mazzini_gsp?lang=en\"> <span style=\"font-weight: 400;\">@mazzini_gsp<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang membuat cuitan soal<\/span><a href=\"https:\/\/twitter.com\/mazzini_gsp\/status\/1358347840578232320?s=19\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Daendels<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Nggak ada masalah sih, saya juga ikut senang sebagai orang yang belajar disiplin sejarah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cuman, ya, setelah melihat reply dan quote retweet yang menanggapi cuitan tersebut, rasanya kok pengin tak hihhh. Bukan ke yang buat cuitan ya, tapi ke netizen-netizen lain yang merespon cuitan tersebut. Dalam cuitan Bang Mazzini, ia cuman kebetulan membalas pertanyaan orang lain yang bertanya soal masalah pembayaran uang honor kepada pekerja jalan Anyer-Panarukan. Bang Mazzini membalas tentang fakta sesungguhnya, dan ia mencantumkan data juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya juga, apa yang ia sampaikan sudah sangat objektif dan tidak berlebihan. Ia hanya memberikan fakta dan data soal Daendels, dan menurut saya kebenaran akan hal tersebut bukanlah membela. Seorang sejarawan memang harus begitu, nggak pandang siapapun tokohnya. Kalau faktanya begitu, ya, begitu. Nggak bisa malah jadi begini, hehehe.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, Daendels memang kenyataannya dikenal sebagai &#8220;Mas Galak&#8221; karena dirinya yang memerangi korupsi di pemerintahan saat itu, karena fakta ini juga semua orang malah jadi membanggakan dirinya. Ditambah, soal fakta bahwa dirinya memberikan upah kepada pekerja paksa, walaupun dikorupsi juga oleh bawahannya. Selain membanggakan, malah banyak yang minta maaf. Kok, ya, ngaco pisan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Plisss lah, Daendels faktanya memang begitu. Tapi, ya, jangan sampai malah minta maaf dan keluar kalimat-kalimat apologi yang menyatakan dirinya adalah pahlawan. Loh kok malah jadi ngaco, hadehhh. Kalau logikanya seperti itu, Jepang yang membebaskan kita dari cengkraman Belanda juga jatuhnya baik, dong? Hideaki Tojo yang segitu beringasnya juga baik, dong? Kan mereka pasti punya kebijakan yang bagus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja tidak, dong. Orde Lama dan Orde Baru yang segitu punya kebijakan baik, tentu saja tidak mematahkan fakta bahwa pemimpinnya sangat nggak baik dan penuh dengan kelaliman. Apalagi untuk seukuran Daendels yang seorang gubernur jenderal di tanah kolonial, Brooo!<\/span><\/p>\n<p><b>Pertama, <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">ingatlah dengan baik di benak kisanak sekalian. Daendels itu adalah pelaku kolonialisme yang disuruh negaranya untuk memerintah di negara jajahan. Jadi wajar saja, kalau ia punya keputusan yang bijak semata-mata untuk kebaikan negaranya sendiri, bukan untuk pribumi atau negara jajahan.<\/span><\/p>\n<p><b>Kedua, <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">yang untung itu tetap orang-orang Eropa. Bukan pribumi, dan semua fasilitas yang dibangun adalah untuk untuk kepentingan penjajah, bukan rakyat pribumi. Semuanya dibangun agar roda ekonomi tetap berjalan, dan ujung-ujungnya cuman buat pemerintah kolonial. Digaji sih digaji, tapi dikorupsi juga. Politik yang berdasarkan rasialisme juga masih ada, supremasi kulit putih juga masih ada. Nggak seberapa &#8220;kebaikan&#8221; itu buat pribumi Hindia-Belanda saat itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Ketiga, <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">kolonialisme itu nggak pernah benar. Kemerdekaan dirampas, hak hidupmu bukan milikmu dan kerja paksa yang dikatakan &#8220;digaji&#8221; itu tetap dipaksa! Indikasinya upah? Woilah, lihat upah dan bandingkan dengan kerugian yang dialami pribumi masa itu, Bos! Jauh panggang dari api, alias sadar atuh penindasan tetap lebih banyak dibandingkan dengan &#8220;kebaikan&#8221; itu semua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inilah kalau mental dijajah masih dilestarikan, wong penjajah kok dipuja. Ngaco banget ngaco. Kalau baca dan belajar sejarah, ya, jangan kontekstual. Bang Mazzini udah benar nyantumin fakta, malah disalahpahami. Susah emang kalau orang-orang masih pada muja bule dan bangga jadi jajahan negara lain, Hhh.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: Akun Twitter <a href=\"https:\/\/twitter.com\/bajrul\/status\/1358442168256397312?s=20\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">@bajrul<\/a><\/em>.<\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/preman-pensiun-mencerminkan-garut-sebagai-kota-preman\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">\u2018Preman Pensiun\u2019 Mencerminkan Garut sebagai Kota Preman\u00a0<\/a><\/b><b>dan artikel\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/nasrullah-alif\/\"><b>Nasrulloh Alif Suherman<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform Use Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282136338016&amp;text&amp;app_absent=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalian kenapa e?<\/p>\n","protected":false},"author":321,"featured_media":106724,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[3605,3604,2275],"class_list":["post-106673","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-batavia","tag-daendels","tag-penjajahan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106673","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/321"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=106673"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106673\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/106724"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=106673"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=106673"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=106673"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}