{"id":106663,"date":"2021-02-16T06:01:09","date_gmt":"2021-02-15T23:01:09","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=106663"},"modified":"2021-08-13T13:25:37","modified_gmt":"2021-08-13T06:25:37","slug":"jangan-hanya-demo-suarakan-hak-petani-indonesia-juga-krisis-petani-muda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-hanya-demo-suarakan-hak-petani-indonesia-juga-krisis-petani-muda\/","title":{"rendered":"Jangan Hanya Demo Suarakan Hak Petani, Indonesia Juga Krisis Petani Muda!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya anak petani tulen alias orang tua saya kedua-duanya adalah petani. Mereka memadu kasih di sawah sejak masih muda sampai kini semakin uzur. Setelah lulus dari perguruan tinggi, kesibukan saya sehari-hari adalah membantu kedua orang tua di sawah. Seumur hidup menjadi anak petani, saya baru benar-benar tahu cara mencangkul setelah lulus. Malu-maluin banget, kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kampung saya\u2014yang notabene masyarakatnya memiliki sawah\u2014sudah tidak ditemukan lagi pemuda yang ikut serta mengolah sawah bersama orang tuanya. Satu-satunya adalah saya. Bukan berlebihan, ini benar-benar nyata adanya. Kalau tidak percaya, silakan berkunjung saja ke sini: Kampung Cerelek, Desa Gunung Sembung, Kec. Pagaden, Kabupaten Subang, Jawa Barat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anak muda di sini kebanyakan bekerja di pabrik-pabrik. Mungkin itu alasan mereka tidak bisa ikut mengurusi sawah atau sekadar mengantarkan orang tua ke sawah di pagi hari. Namun sayangnya, sering saya temukan mereka hanya asyik nongkrong dan main gim di waktu senggang. Ya, itu memang hak mereka dalam memilih jalan ninjanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, generasi petani di kampung saya saat ini kalau dari perkiraan saya, usianya rata-rata sekitar lebih dari 50 tahunan. Lantas, siapa kelak yang akan mengolah sawah-sawah tersebut? Atau kelak sawahnya justru akan dijual untuk dibangun pabrik? Terus, siapa yang akan menjaga ketahanan pangan? Mau impor? Aduh jangan, Lur! Negeri agraris, kok, malah impor banyak bahan pangan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yakin krisis petani muda seperti ini bukan hanya terjadi di kampung saya. Pernyataan saya ini nggak asal, saya punya alasannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pagi itu, untuk yang kesekian kalinya saya ikut ke sawah. Setelah makan dengan sayur oyong yang rasanya amazing banget buatan ibu, ditemani udara sejuk, saya membuka aplikasi Instagram. Ada satu notifikasi DM dari kakak saya yang isinya adalah <\/span><a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/p\/CKi1w-4nDko\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><span style=\"font-weight: 400;\">postingan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> Ridwan Kamil, Gubernur Provinsi Jawa Barat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di postingan tersebut blio menyampaikan\u2014dengan ciri khasnya yang selalu menyelipkan humor di setiap kepsennya\u2014bahwa di awal Februari 2021 Pemprov Jabar akan merekrut 5.000 anak muda yang mau menjadi petani. Gimana? Betul, kan, Indonesia itu butuh para petani muda?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas, Kang Emil menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari revolusi pertanian 4.0 Jawa Barat. Para petani nantinya akan diberi modal oleh Bank BJB dan hasil panennya langsung dibeli oleh PT Agro Jabar. Dengan gagasan ini, saya yakin akan tercipta ekosistem industri pertanian yang baik. Apalagi kalau ini dibarengi manajemen hasil panen yang baik pula, hasilnya akan sangat mengagumkan, bukan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak ada lagi nanti yang namanya <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/hnf\/esai\/maaf-pak-jokowi-kami-malas-jadi-petani\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">males panen<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> seperti yang dilakukan para petani cabai di Waled, Cirebon pada 2017 lalu karena harga cabai yang tiarap serendah-rendahnya. Tidak ada lagi lulusan IPB garis lurus\u2014sebutan saya untuk mereka yang mengambil jurusan Pertanian\u2014yang tersesat menjadi pegawai bank. Punten, saya tidak bermaksud untuk menjelekkan suatu profesi. Namun, Pakde Jokowi pernah menyindir lulusan IPB dalam <\/span><a href=\"https:\/\/nasional.kompas.com\/read\/2017\/09\/06\/10270321\/jokowi-sindir-lulusan-ipb-banyak-kerja-di-bank-jadi-petani-siapa\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><span style=\"font-weight: 400;\">pidatonya<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> di Dies Natalis IPB ke-54.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, wajib hukumnya bagi provinsi lain untuk mencontoh program ini. Namun, tentu nggak asal njiplak, ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di video singkat itu, Kang Emil juga menjelaskan bahwa para petani muda ini tidak hanya akan diberi modal dan dijamin hasil panennya, tetapi juga dibimbing untuk menjadi petani modern dengan Sistem Pertanian Infus. Ya, kurang lebih semacam teknik penyiraman tanaman gitu, lah. Untuk pengoptimalan penggunaan tanah, pemerintah juga akan meminjamkan lahan berupa green house (GH) yang terletak di Wanaraja, Kabupaten Garut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKenapa green house? Karena tidak terpengaruh iklim sehingga bercocok-tanam bisa 12 bulan. Konvensional biasanya 9 bulan, 3 bulannya tanah kering karena cuaca ekstrem,\u201d jelasnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini yang kemudian semakin mendorong saya sebagai bagian dari anak muda untuk mantap jadi seorang petani. Jika di dunia <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">One Piece<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">-nya Eichiro Oda membutuhkan para supernova seperti Luffy, Zoro, Kid, Law, dan Killer untuk menciptakan kedamaian pada era bajak laut yang baru. Indonesia justru membutuhkan para milenial untuk menciptakan ketahanan pangan di era 4.0 ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, buat anak muda, khususnya wilayah Jawa Barat dan pernah ikut demo demi memperjuangkan hak para petani, hayu gaskeun! Jadilah masa depan Indonesia. Eaaak<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">~<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tips-jadi-petani-pemula-bagi-sarjana-pengangguran-yang-peduli-agraria\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Tips Jadi Petani Pemula bagi Sarjana Pengangguran yang Peduli Agraria<\/a><\/strong><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282136338016&amp;text&amp;app_absent=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya yakin krisis petani muda seperti ini bukan hanya terjadi di kampung saya. Pernyataan saya ini nggak asal, saya punya alasannya.<\/p>\n","protected":false},"author":1401,"featured_media":108209,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[10719],"class_list":["post-106663","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-petani-muda"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106663","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1401"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=106663"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106663\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/108209"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=106663"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=106663"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=106663"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}