{"id":106405,"date":"2021-02-08T09:06:51","date_gmt":"2021-02-08T02:06:51","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=106405"},"modified":"2021-02-08T05:49:23","modified_gmt":"2021-02-07T22:49:23","slug":"pleidoi-dari-orang-yang-tetap-pakai-jas-hujan-motor-walau-hujan-sudah-reda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pleidoi-dari-orang-yang-tetap-pakai-jas-hujan-motor-walau-hujan-sudah-reda\/","title":{"rendered":"Pleidoi dari Orang yang Tetap Pakai Jas Hujan Motor walau Hujan Sudah Reda"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua minggu belakangan, kota tempat saya tinggal, sedang rajin-rajinnya diguyur hujan. Hampir setiap hari pasti turun hujan. Kadang pagi, kadang siang, sore, atau malam. Pokoknya, hujan dulu, hujan lagi, hujan terooos. Melihat kondisi tersebut, sebagai orang yang mobilitas utamanya menggunakan kendaraan roda dua, otomatis jas hujan motor menjadi starter pack wajib yang harus saya bawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi pengendara motor, jas hujan memang menjadi pilihan paling tepat untuk menjaga tubuh agar terhindar dari basah kuyup saat hujan turun mendadak ketika sedang berkendara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah hujan reda, kebanyakan pengendara motor akan mlipir dan berhenti di pinggir jalan untuk melepas jas hujan motor mereka. Namun, ada beberapa jenis pengendara, saya salah satunya, yang tetap mengenakan jas hujan walaupun hujan sudah reda. Bahkan, saat cuaca hujan sudah mulai berganti menjadi sedikit cerah, mereka akan tetap mengenakan jas hujan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tabiat ini memang cukup aneh bagi sebagian pengendara lain. Tak jarang, saat kedua jenis pengendara ini saling bersebelahan menunggu lampu merah menjadi hijau, si pengendara lain kerap melempar tatapan sinis kepada pengendara yang tetap mengenakan jas hujan motor yang sudah menolongnya dari guyuran air. Semacam timbul pertanyaan, \u201cSakjane wong iki kenopo to? Kan lak yo udane wis terang.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">FYI aja nih ya, sebetulnya perilaku tadi kami lakukan bukan tanpa alasan. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi kami melakukan perilaku tersebut. Saya tulis sebagai bentuk pleidoi dari kami, pengendara motor yang tetap mengenakan jas hujan walaupun hujan sudah reda. Simak baik-baik ya, Mylov~<\/span><\/p>\n<p><b>Pertama<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, kondisi pascahujan di jalanan, biasanya masih dipenuhi dengan genangan air. Mau semulus apa pun jalannya, saya haqqul yaqin pasti ada genangan air. Ya, walaupun cuaca sudah berubah jadi panas, kan ya nggak serta merta secara instan genangan air tadi menguap dan surut. Butuh waktu yang tidak sebentar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi ini yang membuat kami tetap mengenakan jas hujan motor walaupun hujan sudah reda dan berpikir dua sampai tiga kali untuk langsung melepas jas hujan. Jelas, tujuannya agar saat berkendara nantinya, kami bisa merasa aman sentosa terhindar dari marabahaya kecipratan air genangan. Proteksi diri dari basah kuyup jadi lebih paripurna.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sobat hujan pasti pernah ngalamin kan ya, saat kita sudah hati-hati dan sepelan mungkin saat berjalan melewati genangan air ini, eladalah ternyata masih saja ada jenis pengendara motor ngebut, racetho, dan tidak tahu diri yang tetap ugal-ugalan ketika lewat genangan. Akibatnya, pengendara yang ada di kanan kirinya kecipratan tuh air genangan yang kotor. Belum lagi kalau mobil, aduuuh alamat basah kuyup sih nanti. Nah, kemungkinan buruk seperti itulah yang sangat kami hindari. Ya tentu saja caranya dengan tetap mengenakan jas hujan.<\/span><\/p>\n<p><b>Kedua,<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> kondisi cuaca di Indonesia itu sangat fluktuatif perubahannya. Hujannya sangat lokal kedaerahan. Embuh karena apa, semacam terjadi anomali cuaca. Bisa saja di daerah A terang benderang, daerah B yang letaknya bersebelahan langsung dengan daerah A, sedang turun hujan deras.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah pada suatu hari, saya bersepeda motor dari arah Jakal (Jalan Kaliurang Jogja) atas, kondisi masih hujan kala itu. Kondisi saya sudah mengenakan jas hujan. Sesampainya di depan gardu PLN Banteng, eh lah kok ujug-ujug terang benderang je. Asli, jalanan Jakal sekitar km 7 kering. Tidak ada bekas beberapa waktu sebelumnya hujan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, kondisi ini tidak membuat saya buru-buru melepas jas hujan motor. Dan benar saja, Jakal mendekati perempatan kentungan ternyata hujan cukup deras. Padahal kalo dihitung, jaraknya nggak sampai 5 km dari daerah yang tadi terang dan kering. Saat saya tengok ke belakang pun, rasanya daerah sekitar gardu PLN Banteng tetap terang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba deh, saat itu saya langsung lepas jas hujan. Mesti basah kuyup karena panik nggak karuan sih saya. Panik seperti pengendara lain yang sejurusan dengan saya dari Jakal KM atas.<\/span><\/p>\n<p><b>Ketiga,<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> perilaku tetap mengenakan jas hujan walaupun hujan sudah reda ini juga bisa dijadikan sarana untuk mengeringkan jas hujan yang tadi dipakai. Cuaca yang sudah agak mendingan terang, bisa banget dimanfaatkan untuk meniriskan sisa-sisa air yang menempel di jas hujan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak mungkin juga to, jas hujan yang masih basah kuyup langsung dimasukkan kembali ke dalam bagasi jok motor atau plastik kresek gitu. Bisa-bisa malah jas hujannya bau apek dan bikin nggak nyaman saat mau dipakai lagi nantinya. Bahkan bisa bikin jas hujan jamuran kalau nggak ada transisi dari basah ke lembab panasnya bagasi jok motor. Iyuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang paling betul tetap dipakai dulu, nunggu lumayan kering. Baru deh dimasukkan ke dalam bagasi jok motor. Dengan demikian jadi lebih terawat tuh jas hujan kesayangan pengendara motor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya memang harus diakui, tetap mengenakan jas hujan saat hujan sudah reda itu memang akan dipandang aneh dan sinis oleh sebagian orang. Tapi, dengan pledoi yang saya sampaikan tadi, rasanya tindakan kami nggak aneh-aneh amat deh. Dan nggak merugikan pengendara lain juga. Jadi, ya biarkan saja kami seperti ini. Nggak usah juga memandang kami pakai tatapan sinis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Toh seperti kata sebuah quote kondyang, pencegahan lebih baik dari <\/span><del><span style=\"font-weight: 400;\">pengobatan<\/span><\/del><span style=\"font-weight: 400;\"> mendadak kehujanan. Jadi, gimana, tertarik bergabung bersama kami?<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/membandingkan-jenis-jenis-jas-hujan-mana-yang-terbaik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Membandingkan Jenis-jenis Jas Hujan: Mana yang Terbaik? <\/a><\/b><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/nauvan-lathif\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Nauvan Lathif<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Biar dikata astronot, pede aja lah!<\/p>\n","protected":false},"author":1224,"featured_media":86141,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9358,6728],"class_list":["post-106405","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-jas-hujan","tag-otomojok"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106405","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1224"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=106405"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106405\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/86141"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=106405"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=106405"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=106405"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}