{"id":106267,"date":"2021-02-13T06:25:27","date_gmt":"2021-02-12T23:25:27","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=106267"},"modified":"2021-02-12T10:50:54","modified_gmt":"2021-02-12T03:50:54","slug":"yang-terjadi-ketika-perempuan-stop-bilang-terserah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/yang-terjadi-ketika-perempuan-stop-bilang-terserah\/","title":{"rendered":"Yang Terjadi Ketika Perempuan Stop Bilang &#8216;Terserah&#8217;"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat laki-laki, mari sama-sama kita cari tahu tentang jawaban \u201cterserah\u201d yang sering perempuan katakan. Sebenarnya apa yang terjadi sampai perempuan sulit dalam menentukan pilihan dan ujung-ujungnya mereka bilang \u201cterserah\u201d? Memang nggak semu perempuan, tapi banyak yang begini dan stigma ini pun tercipta begitu saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baru beberapa minggu yang lalu saya dicurhatin sama teman, katanya ada temannya laki-laki yang tanya ke dia, \u201cKenapa perempuan kalau ditanya sesuatu jawabannya selalu terserah?\u201d waktu itu saya jawabnya, \u201cJangankan kaum laki-laki, kita yang perempuan aja nggak tau alasannya kenapa suka bilang \u2018terserah\u2019\u201d. Ya, manusia memang makhluk yang kompleks.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepanjang hari saya kemudian penasaran, kenapa untuk menentukan hal sederhana seperti makan saja perempuan sulit menentukan pilihan? Rasa penasaran itu pun terjawab setelah bergabung di grup Ruang Baca Saudari, minggu ini kami membedah buku yang berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mitos Inferioritas Perempuan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dari penulis Evelyn Reed. Diskusi dilaksanakan secara online tentu saja, semua berjalan lancar. Kami membahas kondisi perempuan pada zaman dahulu lalu apa saja yang dibentuk untuk perempuan zaman sekarang dalam kehidupan sehari-hari dan siapa yang diuntungkan dari semua ini? Lalu tiba sesi untuk refleksi, di sesi ini beberapa peserta dipilih untuk menceritakan pengalaman mereka sebagai perempuan yang mungkin ada sangkut pautnya dengan pembahasan di buku atau mungkin sekadar curhat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat kalian yang penasaran kenapa perempuan kesulitan untuk menentukan hal sederhana, kita akan bahas ini bersama.<\/span><\/p>\n<p><b>Pertama<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. \u201cJangan sekolah tinggi atau punya gaji lebih tinggi dari laki-laki, nanti laki-laki minder.\u201d Iya, kalimat ini bahkan saya dengar dari guru saya, mendengar dari seseorang yang pada waktu itu sangat saya kagumi karena pengetahuan yang dimiliki. Di sini saya justru ingin bertanya, kenapa laki-laki harus minder dengan perempuan yang pendidikannya tinggi? Bukankah lebih asyik memiliki pasangan yang wawasannya luas? Kamu bisa mendiskusikan apa saja dengan dia atau kalau mau ya sekolah aja lagi. Soal gaji yang lebih tinggi nih, kan banyak pekerjaan lepasan atau wiraswasta yang menjadi solusi buat samain gaji. Kehidupan sekarang cukup mahal kalau mengharapkan hanya laki-laki yang kerja, coba diperbaiki lagi mindsetnya. Lebih baik gaji tinggi lebih dari perempuan atau lebih baik cicilan cepat selesai?<\/span><\/p>\n<p><b>Kedua<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Jangan lama-lama nunda nikah nanti kedaluwarsa. Pernah dengar kalimat ini? Atau pernah ngomong juga? Ya, dibanding mengajak diskusi dan bertanya kenapa perempuan memilih untuk tidak menikah dalam waktu dekat, yang ada masyarakat malah mengobjektifikasi perempuan dan membandingkan masa kedaluwarasa perempuan dengan Sari Roti yang tak bisa bertahan sampai seminggu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau nggak dimakan dalam beberapa hari, besoknya akan kedaluwarsa. Saya punya cerita ketika saya mengatakan kepada keluarga bahwa saya memiliki tiga pilihan untuk diri saya di masa depan. Pertama, saya menikah di umur 27 tahun, kedua, saya tidak menikah atau ketiga saya bisa mengadopsi anak nantinya. Tahu apa respons keluarga? Saya dikira masuk dalam ajaran sesat dan kemudian diceramahi tentang pernikahan dan keturunan dalam pandangan agama.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini pun berlanjut dalam kurun waktu yang setara 4 SKS mata kuliah, sebab saya harus menjelaskan isu lingkungan, isu perempuan, dan disederhanakan dengan kasus-kasus yang pernah saya baca. Ketika perempuan menentukan pilihan, yang ada perempuan diserang balik bahkan mungkin oleh sesama perempuan. Makanya, terkadang ada yang memilih untuk bilang \u201cterserah\u201d.<\/span><\/p>\n<p><b>Ketiga<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Perempuan akan sempurna dengan memiliki anak. Ini adalah masalah perempuan saat ini, mau itu dengan sesama perempuan atau perempuan dengan laki-laki. Saya jadi teringat film dokumenter berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kosong<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang disutradarai oleh Chonie Prysilia dan suaminya. Film ini berawal dari keresahan sutradara terhadap tubuh perempuan yang seakan-akan menjadi milik bersama dalam artian diatur oleh masyarakat, dan pengalaman pribadi sang sutradara yang belum memiliki anak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film animasi ini menceritakan berbagai kisah nyata perempuan, alasan, dan usaha perempuan dalam memiliki anak. Judul film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kosong<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> pun terinspirasi dari kisah sutradara yang ditanyai sesosok Mbah yang lewat depan rumah tentang kehadiran anak. Ketika dia menjawab belum memiliki anak malah sang sutradara dikatai, \u201cOh,ayu-ayu kok gabuk.\u201d (Cantik-cantik, kok kosong.) Di lain interview, saat ditanya mengenai rencana untuk memiliki anak, Mbak Chonie menjawab, \u201cSaya tidak menemukan satu alasan pun yang tidak egois untuk memiliki anak.\u201d Film Kosong merupakan film recommended buat semua, biar pada semakin sadar betapa sensitifnya pertanyaan basa-basi \u201ckapan punya anak?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbicara tentang pilihan memiliki anak, YouTuber Gita Savitri merupakan publik figur yang frontal mengatakan bahwa dirinya dan suami memilih childfree. Di salah satu kesempatan interview dia kemudian bercerita bahwa dia bertanya ke ibunya \u201cKenapa Mama mau punya anak?\u201d Jawaban Mamanya, \u201cKarena Mama nggak tau kalau Mama punya pilihan.\u201d Iya, tidak semua perempuan menyadari bahwa mereka punya pilihan untuk memiliki anak atau tidak. Kebanyakan dari kita akan mengikuti budaya yang ada tanpa bertanya kenapa saya harus melakukannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Childfree sendiri merupakan pilihan untuk tidak memiliki anak. Alasannya macam-macam bisa dari isu lingkungan, bisa juga karena menghargai tubuh perempuan dalam artian yang menentukan untuk siap dan nggak siap hamil adalah perempuan, dan yang terakhir adalah mereka tidak menemukan alasan yang tidak egois untuk memiliki anak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain childfree, ada namanya egg freezing atau pembekuan sel telur. Salah satu perempuan Indonesia yang melakukan egg freezing adalah Ardini Effendi, presenter Q&amp;A di Metro TV.\u00a0 Dalam tulisannya yang berjudul \u201cPerempuan Punya Pilihan\u201d dia menjelaskan bahwa egg freezing merupakan pilihan bagi perempuan yang ingin merencanakan masa depannya. Jadi tidak ada masalah mau menikah usia berapa, sebab sel telur akan aman terawat dan bisa pembuahan jika perempuan sudah siap untuk menikah. Di negara seperti Amerika, beberapa perusahaan menyediakan asuransi untuk perempuan melakukan egg freezing dan bisa fokus dalam mengembangkan karier. Di satu sisi, pilihan ini menjadi kontroversi karena perusahan yang menyediakan asuransi dan pro-egg freezing dituduh sudah bergerak terlalu jauh bahkan sampai mengatur tubuh perempuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, buat yang masih penasaran kenapa perempuan kalau ditanya jawabannya selalu bilang \u201cterserah\u201d, inilah kenyataan yang ada. Perempuan dan mungkin juga laki-laki tidak menyadari bahwa mereka punya pilihan dalam menentukan hidup. Sistem patriarki sendiri bahkan hadir lebih lama dari kehadiran agama, banyak hal-hal dalam ajaran agama merupakan akulturasi dari sistem patriarki. Oleh karena terbiasa dengan sistem yang ada. kita kemudian membenarkannya, bukan membiasakan hal yang benar. Buat yang ingin perempuan stop bilang terserah saat ditanya, sekarang pertanyaannya saya balik ke kalian, apakah kalian siap kalau perempuan sudah menentukan pilihan?<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/meluruskan-salah-paham-femme-fatale-perempuan-bukan-sumber-bencana\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Meluruskan Salah Paham Femme Fatale: Perempuan Bukan Sumber Bencana<\/a><\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Buat yang ingin perempuan stop bilang terserah, apakah kalian siap kalau perempuan sudah menentukan pilihan?<\/p>\n","protected":false},"author":1398,"featured_media":89966,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[10682,814,122],"class_list":["post-106267","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-childfree","tag-feminis","tag-perempuan"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106267","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1398"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=106267"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106267\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/89966"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=106267"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=106267"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=106267"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}