{"id":106039,"date":"2021-02-07T07:46:18","date_gmt":"2021-02-07T00:46:18","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=106039"},"modified":"2021-02-05T22:19:22","modified_gmt":"2021-02-05T15:19:22","slug":"knalpot-motor-geberable-kritik-serius-pemuda-desa-terhadap-penguasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/knalpot-motor-geberable-kritik-serius-pemuda-desa-terhadap-penguasa\/","title":{"rendered":"Knalpot Motor Geberable, Kritik Serius Pemuda Desa terhadap Penguasa"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baru-baru ini beredar <\/span><a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=BQWSiZqnvoc\"><span style=\"font-weight: 400;\">video di Twitter<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang mempertontonkan seorang polisi menghukum seorang pemuda. Gara-garanya, menurut Pak Polisi suara knalpot motor itu mengganggu ketertiban umum. Pemuda ber-hoodie abu-abu disuruh jongkok dengan kuping dipasang dekat-dekat knalpot motornya sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eh, ketika Pak Polisi ngegas dengan harapan suara nyaring menusuk gendang pemuda itu, motornya malah lari, Pak Polisi lupa kalau motor itu matic. Pemuda tersebut harus rela motornya sedikit lecet, sambil menahan tawa melihat ketololan Pak Polisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJancok, kate mbleyer mbok yo dijagang dobel disek!\u201d mungkin begitu gumamnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya paham dengan Pak Polisi yang sebel pada kelakuan pemuda tersebut. Suara knalpot motor seperti di video tersebut memang mengganggu telinga para pengendara sekitar. Bisa hilang konsentrasi dan bikin keruwetan dalam berkendara.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, kalau mendengar suara geber motor kayak gitu, hati saya mendadak ikut jeduk-jeduk nggak nyaman. Kadangkala saya ikut sumpah serapah ketika ada pemuda desa saya yang punya motor berknalpot ugal-ugalan. Buat apa coba pasang knalpot kayak gitu, selain jadi bahan gunjingan tetangga, knalpot motor itu nggak cocok sama tampilan motornya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya kalau motornya itu motor laki dengan tangki depan menonjol macam Ninja, keliatan pantas kalau knalpotnya gahar. Sedangkan tetangga saya ini, motornya cuma macam Mio, Supra, Karisma, Beat, dan jenis motor rakyat lainnya, lha, kok pede betul pake knalpot ngebrot.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tetapi, pandangan saya itu saya tolak mentah-mentah ketika diminta teman saya mengendarai motor Karisma knalpot brot punyanya. Kala itu saya disuruh beli rokok di desa sebelah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika saya gas, alunan suara knalpot berirama manja seiring ayunan tangan saya. Saat saya mulai berjalan di aspal, saya melihat para tetangga di teras rumah dan pengendara di jalan memandang saya lekat. Saya merasa seperti orang penting yang keberadaannya diperhitungkan oleh orang sekitar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIni lho saya, putra Bapak Sur yang sekarang memang mampunya masih pasang knalpot brot di motor Karisma yang menurut kalian nggak mbois. Tapi, lihat nanti kalau saya sudah sukses betul.\u201d Kira-kira begitu ungkap saya dalam hati mewakili teman-teman saya pemilik motor berknalpot brot.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebetulnya, motor brot ini merupakan simbol perlawanan pemuda desa terhadap penguasa. Para pemuda tersebut sadar kalau mereka tidak terlahir dari rahim orang tua yang kaya. Mayoritas orang tua berprofesi sebagai petani dan peternak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa orang mungkin mengatakan jika pemuda tersebut pintar, mereka bisa mengubah nasib keluarganya. Tetapi, untuk mendapatkan pekerjaan yang bergengsi, juga harus ditunjang dengan pendidikan bergengsi di tempat yang bergengsi pula kan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang, walaupun bisa mendapatkan beasiswa, beban biaya sehari-hari masa kuliah juga jadi momok keluarga, belum biaya lain-lain. Jadi walaupun pintar, kebanyakan harus menahan untuk tidak berkuliah di kota besar yang punya biaya hidup tinggi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagian berkuliah di universitas lokal kabupaten, atau lekas bekerja keluar daerah atau negara menjadi TKI.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keadaan ekonomi tersebut kadang membuat kawan saya di desa berhenti SMA atau SMK. Lha, memang mereka tidak menemukan jalan kalau nanti setelah lulus mau jadi apa. Lebih baik segera putus sekolah, les bahasa asing, dan bekerja jadi TKI.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keadaan ekonomi seperti itu tidak memberikan pilihan kepada pemuda desa yang ingin tampil gaya lebih. Tidak ada kesempatan membeli moge atau Ninja yang pantas punya suara knalpot gahar. Alhasil motor bebek atau matic apa saja terpaksa disandingkan dengan knalpot brot yang kalau dilihat-lihat lagi memang nggak mashok. Tetapi, apa daya, memangnya ada pilihan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka wajar, bagi masyarakat dengan ekonomi menengah ke atas nggak setuju sama kelakuan pemuda berknalpot brot. Ya memang menurut mereka itu mengganggu betul. Padahal niat para pemuda itu cuma ingin menunjukan eksistensinya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalaupun ada alasan mengganggu, mereka ingin tunjukan itu kepada para pengendara moge yang knalpotnya mengganggu, tapi dianggap legal karena bisa sewa penjagaan polisi. Sedangkan pemuda desa tadi cuma berani memakai motor di jalan desa saja, takut kalau di kota ketemu polisi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konsep ini adalah pengamalan dari filosofi hidup jawa \u201cNrimo ing pandum, makaryo ing nyoto\u201d. Apa saja yang diberikan Tuhan setelah bekerja secara nyata, harus disyukuri betul-betul.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lha memang mau apa lagi, sudah capek-capek angkat tangki buat nyemprot hama di sawah dapetnya juga segitu, ngulek adonan semen pasir sampai kaki nglocop juga dapetnya cuman segitu, sampai punggung patah juga susah kalau mau beli Ninja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Toh penguasa juga sibuk sama urusan mereka sendiri, urusan rakyat cuma nyanyian nyaring supaya mereka kelihatan simpati dan dipilih lagi saja. Coba lihat, ada yang mencak-mencak gara-gara partainya mau dikudeta, ada yang ribut bupatinya nggak WNI murni. Mana sempat mereka mikirin nasib orang pinggir?<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-cara-memahami-pengguna-knalpot-brong-yang-berisik-di-jalanan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">5 Cara Memahami Pengguna Knalpot Brong yang Berisik di Jalanan<\/a> <\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/prima-ardiansah-surya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Prima Ardiansah Surya<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pemilik knalpot motor brot ingin bukan pengendara moge yang knalpotnya mengganggu, tapi dianggap legal karena bisa sewa penjagaan polisi.<\/p>\n","protected":false},"author":887,"featured_media":29780,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6,8],"tags":[2578,6728],"class_list":["post-106039","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-featured","tag-knalpot-brong","tag-otomojok"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106039","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/887"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=106039"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106039\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/29780"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=106039"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=106039"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=106039"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}