{"id":105969,"date":"2021-02-05T12:03:00","date_gmt":"2021-02-05T05:03:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=105969"},"modified":"2021-02-04T23:04:19","modified_gmt":"2021-02-04T16:04:19","slug":"in-memoriam-ica-naga-mengenang-kang-pipit-mengenang-kebahagiaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/in-memoriam-ica-naga-mengenang-kang-pipit-mengenang-kebahagiaan\/","title":{"rendered":"In Memoriam Ica Naga: Mengenang Kang Pipit, Mengenang Kebahagiaan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau boleh dibilang sinetron apa yang paling bagus, menurut saya untuk saat ini masihlah sinetron berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Aris Nugraha yang fenomenal itu. Mau hari ini banyak yang nonton <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ikatan Cinta<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, termasuk ibu saya, saya tetap menganggap <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah yang terbaik. Pokoknya itu lah untuk saat ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang menceritakan perjuangan para preman, dalam hal ini menuju jalan pensiun, tentu saja menunjukkan sisi dramatis sekaligus humanis. Bahwa preman, setidaknya dalam gambaran sinetron ini, juga manusia yang hatinya bisa terbolak-balik. Dari kejahatan berusaha untuk menjadi lebih baik, dan sinetron tersebut tentu saja sangat well done. Alus pisan, mamprang! Top markotop lah buat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tokoh-tokoh di dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, kalau boleh dikatakan, sebenarnya memiliki karakter yang amat nyentrik dan memilih ciri khas tersendiri. Dengan sentuhan tangan Kang Aris Nugraha yang memang sudah terkenal dalam membuat sinetron berbalut komedi, setiap karakter punya jatah komedi yang jadi ciri khas masing-masing. Mau itu seorang Kang Bahar yang jadi bos preman, Jamal yang menjadi antagonis dalam cerita, dan tentu saja karakter favorit saya Kang Pipit atau Firmansyah Pitra yang diperankan oleh Kang Ica Naga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari sederet tokoh-tokoh yang begitu banyaknya di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, saya selalu menunggu untuk melihatnya adegan di mana Kang Pipit ini muncul. Katanya, orang itu punya anugerah dari lahir, masing-masing punya lah. Ceunah mah kitu. Dan, menurut saya Kang Pipit ini adalah salah satunya, sebab hanya dengan melihat parasnya saja saya sudah siap untuk ketawa, apalagi saat melihat dialognya dengan Murad yang bikin perut saya sakit karena ketawa terus.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mulai dari musim satu, sampai musim terakhir dengan film televisi yang menceritakan beliau, saya tidak pernah bisa berhenti ketawa. Aneh bin ajaib memang Kang Pipit ini. Antara polos dan lucu, namun sisi seram yang kadang-kadang nongol juga malah membuat lucu. Gimana sih, kayak sudah digariskan untuk lucu jadi susah buat serius, kitu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kata saya, sebenarnya Kang Pipit adalah karakter yang paling fenomenal dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini. Boleh lah ya, saya rangkum tipis-tipis kenapa belio ini layak dikatakan sebagai tokoh dalam sinetron <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang paling fenomenal.<\/span><\/p>\n<p><b>Pertama, <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Kang Pipit adalah satu-satunya tokoh yang mendobrak patron preman yang ada di serial <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Memang saya katakan bahwa setiap karakter memiliki sisi komedi, hanya saya Kang Pipit ini seperti pure dijadikan tokoh komedi. Mulai dari nama singkatan yang kelewat imut, bahkan kang Mus saja sampai kesel sama nama panggilan itu, lalu sampai sikapnya yang sedikit banyak tidak terlihat preman pisan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Atuh coba, masa ada adegan di mana dia ngenalin keponakannya si Mawardi ke perempuan. Kang Pipit saat ditanya mengenai namanya, dia dengan pedenya menjelaskan bahwa dirinya dipanggil &#8220;Pipit&#8221; agar terlihat imut. Mana keponakannya juga nggak malu, ikutan sok imut dengan memanggil dirinya &#8220;Mawar&#8221; wqwqwq.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Kedua, <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">tokoh sampingan yang justru paling memorable. Saya berani jamin, Kang Pipit ini adalah tokoh sampingan di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang paling memorable. Tokoh-tokoh lain boleh jadi memang memiliki peran penting dalam alur cerita, atau paling tidak terlibat langsung dengan tokoh utama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, Kang Pipit justru terlihat jarang bareng tokoh utama (gimana mau bareng, wong tokoh utama saja kesel sama nama panggilan, wqwqwq), eh malah lebih terkenal menurut saya. Sok coba tanya ke penggemar <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> siapa karakter paling heureuy, pasti banyak yang jawab Kang Pipit. Oh iya, Murad pun jadi kecipratan karena belio dan bahkan musim kemarin jatah tayangnya lumayan banyak, bahkan sampai dijadikan film televisi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Ketiga, <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">sebenarnya bingung juga mau nulis apa. Karena kata-kata mungkin tidak cukup menjelaskan, jiahh. Tapi, bisa dibilang Kang Pipit adalah tokoh yang paling solid. Solid dalam artinya selalu bareng Murad, yang dia sebut &#8220;satu paket&#8221; wqwqwq. Mau dari musim pertama, sampai musim terakhir yang ada di televisi selalu bareng. Bahkan, musim terakhir malah menceritakan konflik antara dirinya dan Murad, kan. Saking solidnya, kalau Murad berangkat dia juga pasti ikut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh iya, bahkan efek satu paket tersebut malah jadi ciri khasnya. Beberapa kali Murad dan Pipit muncul di sinetron karya Aris Nugraha lainnya, dan tetap bareng-bareng. Main film di luar <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> juga tetap bareng, dan yang terakhir tentu saja keponakan mereka dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> juga ikutan jadi satu paket. Gayanya juga malah mirip-mirip. Itulah power of solid dari Kang Pipit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tulisan saya ini sebenarnya adalah kenang-kenangan tersendiri buat saya, dan tentu saja untuk ucapan terima kasih kepada Kang Pipit alias Kang Ica Naga yang sudah banyak menghibur di layar kaca. Barangkali, setelah Kang Bahar dan Kang Mus, Kang Pipit adalah tokoh yang sangat berkesan saat menonton <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya memang bukan kru atau orang yang terlibat langsung <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, saya tidak sedekat itu. Kedekatan saya paling mentok hanya menulis tulisan sinopsis <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di Terminal Mojok. Oh iya, kedekatan lainnya adalah saat beberapa tahun lalu pergi ke Bandung bersama teman saya, lalu kami menonton syuting <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Saya bisa melihat Kang Ica Naga secara langsung, walaupun yang cuman kedapatan foto bersama hanya teman saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, senyum Kang Ica Naga masih terbayang. Sangat mirip dengan yang ada di televisi, huhuhu. Selamat Jalan Kang Pipit alias Kang Ica Naga, mugi bertemu dengan Kang Bahar alias Didi Petet di kubur yang lapar. Hatur nuhun!\u00a0<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: YouTube <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=eQGPUTh4aDo\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Pangztonk Official<\/a><\/em><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/preman-pensiun-mencerminkan-garut-sebagai-kota-preman\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">\u2018Preman Pensiun\u2019 Mencerminkan Garut sebagai Kota Preman <\/a><\/b><b>dan artikel\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/nasrullah-alif\/\"><b>Nasrulloh Alif Suherman<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform Use Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282136338016&amp;text&amp;app_absent=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selamat Jalan, Kang Pipit!<\/p>\n","protected":false},"author":321,"featured_media":105990,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[10554,6711],"class_list":["post-105969","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-kang-pipit","tag-preman-pensiun"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105969","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/321"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=105969"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105969\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/105990"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=105969"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=105969"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=105969"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}